Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
Pembangkit geotermal seperti di Kamojang, Lahendong, dan Ulubelu telah membuktikan bahwa energi panas bumi bisa menjadi tulang punggung listrik rendah karbon yang stabil dan beroperasi 24 jam tanpa tergantung cuaca.
Di wilayah dengan dominasi PLTA dan PLTP, emisi dari transportasi justru bisa lebih besar daripada dari listrik.
Mobil, sepeda motor, dan truk masih menggunakan bahan bakar minyak yang menghasilkan emisi tinggi, sementara listrik yang digunakan untuk peralatan rumah tangga atau kendaraan listrik relatif bersih.
Baca juga: Projo di antara Kultus Jokowi dan Kekuasaan Prabowo
Fenomena ini menunjukkan bahwa peta emisi Indonesia tidak seragam—kebijakan pengurangan emisi pun seharusnya mempertimbangkan konteks sumber energi lokal.
Namun pada skala nasional, arah kebijakannya tetap satu: dekarbonisasi sistem listrik. Kita tidak bisa mengandalkan transisi ke mobil listrik atau kendaraan hijau, jika listrik yang menggerakkannya masih berasal dari batu bara.
Mobil listrik memang tidak mengeluarkan asap di jalan, tapi tetap menghasilkan emisi di cerobong PLTU. Tanpa perubahan di hulu energi, transisi ini hanya berpindah dari knalpot ke cerobong.
Kita memerlukan langkah nyata. Pemerintah harus mempercepat pensiun PLTU batu bara, memperluas pembangkit energi bersih seperti PLTS, PLTB, PLTA, dan PLTP, serta memastikan listrik rendah karbon tersedia di seluruh wilayah Indonesia.
Di sisi lain, masyarakat juga punya peran penting. Menghemat listrik, menggunakan perangkat hemat energi, beralih ke panel surya atap, atau bahkan sekadar mematikan lampu saat tidak digunakan adalah bagian kecil dari kontribusi besar menuju masa depan rendah karbon.
Krisis iklim bukan hanya soal asap kendaraan di jalan, tapi juga tentang energi yang kita gunakan setiap hari di rumah dan kantor.
Ketika kita berbicara tentang emisi karbon, kita harus berani melihat bahwa sumber listrik konvensional menyumbang porsi emisi yang sangat besar, meskipun tidak terlihat oleh mata.
Jadi sebelum menunjuk knalpot sebagai penyebab utama, ada baiknya kita bertanya: berapa banyak karbon yang diam-diam keluar dari colokan listrik kita hari ini?
Jawaban dari pertanyaan sederhana itu bisa mengubah cara kita memandang energi, dan mungkin juga cara kita menyelamatkan bumi.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya