BANDUNG, KOMPAS.com - Uap putih mengepul dari pipa-pipa milik PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Kamojang, Jawa Barat. Di balik kepulan uap itu, panas bumi bukan hanya menggerakkan turbin pembangkit listrik. Di sana, juga tersimpan kisah panas bumi yang menggerakkan perekonomian masyarakat setempat.
Di tangan PGE, energi dari perut bumi itu dimanfaatkan untuk mendukung pertanian berkelanjutan. PGE mengembangkan inovasi Geothermal Dry House pertama di dunia, yang memanfaatkan panas bumi untuk mempercepat proses pengeringan kopi. Dengan menggunakan uap panas bumi dari PLTP Kamojang, petani dapat mengeringkan biji kopi selama 24 jam. Proses pengeringan yang sebelumnya perlu waktu sebulan atau lebih, saat ini hanya membutuhkan waktu sekitar 10 hari.
Baca juga: PLTP Kamojang Hasilkan 1.326 GWh Listrik, Tekan Emisi 1,22 Juta Ton per Tahun
Geothermal Dry House juga mempengaruhi rasa kopi arabica yang ditanam di kawasan Gunung Kamojang. Kalau dijemur di bawah panas matahari, rasa kopi arabica biasanya akan lebih asam karena proses pengeringan kopi terganggu oleh cuaca.
"Kalau geothermal after taste-nya itu lebih clean, lebih banyak ke fruity-fruity. Beda rasa sama yang konvesional, kalau dijemur di bawah matahari, terus ditutup, terus kena hujan. Yang ditutup jadi banyak ke fermentasi lagi, jadi lebih asam," ujar pengelola Geothermal Dry House, Aldin Gimnastiar, Kamis (6/10/2025).
Pengeringan dengan memanfaatkan panas bumi juga bisa menghindari biji kopi menyerap kelembaban dari udara sekitarnya. Jadi, pemanfaatan panas bumi dapat menjadi solusi untuk pengeringan biji kopi di tengah cuaca yang tidak menentu. Bahkan,
PGE bermitra dengan 18 kelompok tani dengan luas lahan mencapai 80 hektar yang terletak di sekitar wilayah kerja panas bumi (WKP) PGE Kamojang. Sepanjang tahun 2024, total penjualan mencapai 4,9 ron green beans, 640 kilogram roasted beans, dan 17.500 bungkus ground coffee, dengan omzet sebesar Rp 863,9 juta. Kopi panas bumi telah diekspor ke Asia dan Eropa.
Selain pengeringan kopi, uap panas bumi dari PLTP Kamojang juga dimanfaatkan untuk membantu peternak mengembangbiakkan ikan mas dan nila di daerah pegunungan yang bersuhu rendah. Seorang pembudi daya, Otang Maludin mengaku melipatgandakan hasil panen ikan mas dan nila usai memanfaatkan uap panas bumi sejak 2024 lalu.
Otang Maludin menjelaskan Budi daya ikan mas dan nilai dengan memanfaatkan uap panas bumi dari PLTP Kamojang pada Kamis (6/11/2025).Untuk pakan ikan mas dan nila, kata dia, dibuat dengan memanfaatkan bahan-bahan herbal seperti daun labu dan talas, yang dapat ditemukan di sekitar PLTP Kamojang. Proses pembuatan pakan tersebut juga memanfaatkan uap panas bumi dari PLTP Kamojang untuk pengeringan bahan-bahan bakunya. Namun, sebagian pakan ikan dicampur dengan bahan-bahan dari toko seperti dedak dan bubuk jagung, karena produksi yang sepenuhnya herbal tidak mampu memenuhi seluruh kebutuhan.
"Kami coba dari yang ada unsur-unsur dari toko dan yang herbal, ternyata, lebih bagus (pertumbuhan ikan kalau) yang pakai herbal. Jadi, kami memanfaatkan (dedaunan untuk pakan) supaya enggak terlalu beli," tutur Otang.
Sebenarnya, masih ada banyak inovasi pemanfaatan uap panas bumi lainnya yang dilakukan PGE untuk pemberdayaan masyarakat. Pjs. General Manager PGE Area Kamojang, Hendrik K. Sinaga mengatakan, terdapat budaya kerja di perusahaannya yang terus berinovasi melalui upaya mengganti proses pemanasan dengan uap panas bumi.
Baca juga: PGE: Panas Bumi Bisa menjadi Fondasi Transisi Energi di Asia
"Dalam hal ini, kami punya kentang, punya anggrek, punya kopi, pupuk, dan termasuk fauna, dalam hal ini ikan. Kami juga terbatas secara sumber daya. Jadi berjenjang, kami baru tingkatkan di tahun sekarang. Balik lagi, ini permintaan dari kendala di masyarakat," ucapnya.
PGE Area Kamojang berkolaborasi dengan warga lokal yang memiliki komitmen menjaga kualitas produknya secara keberlanjutan. Di sisi lain, untuk mengefektifkan berbagai inovasinya, PGE juga berkolaborasi dengan akademisi dari berbagai universitas.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya