Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PGE Manfaatkan Panas Bumi untuk Keringkan Kopi hingga Budi Daya Ikan di Gunung

Kompas.com, 7 November 2025, 17:31 WIB
Manda Firmansyah,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

BANDUNG, KOMPAS.com - Uap putih mengepul dari pipa-pipa milik PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Kamojang, Jawa Barat. Di balik kepulan uap itu, panas bumi bukan hanya menggerakkan turbin pembangkit listrik. Di sana, juga tersimpan kisah panas bumi yang menggerakkan perekonomian masyarakat setempat.

Di tangan PGE, energi dari perut bumi itu dimanfaatkan untuk mendukung pertanian berkelanjutan. PGE mengembangkan inovasi Geothermal Dry House pertama di dunia, yang memanfaatkan panas bumi untuk mempercepat proses pengeringan kopi. Dengan menggunakan uap panas bumi dari PLTP Kamojang, petani dapat mengeringkan biji kopi selama 24 jam. Proses pengeringan yang sebelumnya perlu waktu sebulan atau lebih, saat ini hanya membutuhkan waktu sekitar 10 hari.

Baca juga: PLTP Kamojang Hasilkan 1.326 GWh Listrik, Tekan Emisi 1,22 Juta Ton per Tahun

Geothermal Dry House juga mempengaruhi rasa kopi arabica yang ditanam di kawasan Gunung Kamojang. Kalau dijemur di bawah panas matahari, rasa kopi arabica biasanya akan lebih asam karena proses pengeringan kopi terganggu oleh cuaca.

"Kalau geothermal after taste-nya itu lebih clean, lebih banyak ke fruity-fruity. Beda rasa sama yang konvesional, kalau dijemur di bawah matahari, terus ditutup, terus kena hujan. Yang ditutup jadi banyak ke fermentasi lagi, jadi lebih asam," ujar pengelola Geothermal Dry House, Aldin Gimnastiar, Kamis (6/10/2025).

Pengeringan dengan memanfaatkan panas bumi juga bisa menghindari biji kopi menyerap kelembaban dari udara sekitarnya. Jadi, pemanfaatan panas bumi dapat menjadi solusi untuk pengeringan biji kopi di tengah cuaca yang tidak menentu. Bahkan,

PGE bermitra dengan 18 kelompok tani dengan luas lahan mencapai 80 hektar yang terletak di sekitar wilayah kerja panas bumi (WKP) PGE Kamojang. Sepanjang tahun 2024, total penjualan mencapai 4,9 ron green beans, 640 kilogram roasted beans, dan 17.500 bungkus ground coffee, dengan omzet sebesar Rp 863,9 juta. Kopi panas bumi telah diekspor ke Asia dan Eropa.

Selain pengeringan kopi, uap panas bumi dari PLTP Kamojang juga dimanfaatkan untuk membantu peternak mengembangbiakkan ikan mas dan nila di daerah pegunungan yang bersuhu rendah. Seorang pembudi daya, Otang Maludin mengaku melipatgandakan hasil panen ikan mas dan nila usai memanfaatkan uap panas bumi sejak 2024 lalu.

Otang Maludin menjelaskan Budi daya ikan mas dan nilai dengan memanfaatkan uap panas bumi dari PLTP Kamojang pada Kamis (6/11/2025).Kompas.com/Manda Firmansyah Otang Maludin menjelaskan Budi daya ikan mas dan nilai dengan memanfaatkan uap panas bumi dari PLTP Kamojang pada Kamis (6/11/2025).

Untuk pakan ikan mas dan nila, kata dia, dibuat dengan memanfaatkan bahan-bahan herbal seperti daun labu dan talas, yang dapat ditemukan di sekitar PLTP Kamojang. Proses pembuatan pakan tersebut juga memanfaatkan uap panas bumi dari PLTP Kamojang untuk pengeringan bahan-bahan bakunya. Namun, sebagian pakan ikan dicampur dengan bahan-bahan dari toko seperti dedak dan bubuk jagung, karena produksi yang sepenuhnya herbal tidak mampu memenuhi seluruh kebutuhan.

"Kami coba dari yang ada unsur-unsur dari toko dan yang herbal, ternyata, lebih bagus (pertumbuhan ikan kalau) yang pakai herbal. Jadi, kami memanfaatkan (dedaunan untuk pakan) supaya enggak terlalu beli," tutur Otang.

Sebenarnya, masih ada banyak inovasi pemanfaatan uap panas bumi lainnya yang dilakukan PGE untuk pemberdayaan masyarakat. Pjs. General Manager PGE Area Kamojang, Hendrik K. Sinaga mengatakan, terdapat budaya kerja di perusahaannya yang terus berinovasi melalui upaya mengganti proses pemanasan dengan uap panas bumi.

Baca juga: PGE: Panas Bumi Bisa menjadi Fondasi Transisi Energi di Asia

"Dalam hal ini, kami punya kentang, punya anggrek, punya kopi, pupuk, dan termasuk fauna, dalam hal ini ikan. Kami juga terbatas secara sumber daya. Jadi berjenjang, kami baru tingkatkan di tahun sekarang. Balik lagi, ini permintaan dari kendala di masyarakat," ucapnya.

PGE Area Kamojang berkolaborasi dengan warga lokal yang memiliki komitmen menjaga kualitas produknya secara keberlanjutan. Di sisi lain, untuk mengefektifkan berbagai inovasinya, PGE juga berkolaborasi dengan akademisi dari berbagai universitas.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Swasta
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Pemerintah
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau