Penulis
KOMPAS.com – Lebih dari 70 organisasi internasional yang hadir di COP30 di Belem, Brasil, Senin (17/11/2025), merilis surat terbuka mendesak pemerintah menetapkan zona bebas bahan bakar fosil (fossil-free exclusion zones) demi melindungi hutan dan masyarakat adat.
Seruan ini muncul setelah peta terbaru menunjukkan tumpang tindih blok minyak dan gas di lebih dari 183 juta hektare hutan tropis di Amazon, Kawasan Kongo, dan Asia Tenggara.
Organisasi penandatangan mencakup kelompok iklim, hak asasi manusia, hingga komunitas adat seperti Amazon Watch, Amnesty International, CIEL, Global Witness, Greenpeace, hingga Global Alliance of Territorial Communities (GATC).
COP 30 yang berlangsung di Belem, Brasil, jantung Amazon, dinilai menjadi momentum penting untuk mendesak inisiatif tersebut.
Baca juga: IESR: Revisi Perpres 112 Tahun 2022 Ancam Target Transisi Energi
Analisis yang dilakukan Earth Insight, seperti diterima Kompas.com pada Senin, mengungkap bahwa di kawasan Amazon saja, 74 juta hektare (14 persen) hutan berintegritas tinggi dan 31 juta hektare (12 persen) wilayah adat tumpang tindih dengan blok minyak dan gas.
Di Kongo, 72,5 juta hektare (40 persen) hutan berintegritas tinggi dan 38 persen hutan komunitas tertutup konsesi minyak dan gas.
Sementara di Asia Tenggara, sebanyak 36,8 juta hektare (37 persen) hutan berintegritas tinggi dan 14 persen kawasan biodiversitas kunci (KBA) tumpang tindih dengan konsesi minyak dan gas.
Hutan tropis mampu menyerap seperempat emisi karbon dioksida global setiap tahunnya.
Jika hutan dilestarikan serta cadangan minyak, gas, dan batu bara di bawah hutan tropis tidak dieksploitasi, dunia dapat menghindari pelepasan 317 miliar ton CO2, membatasi pemanasan lebih dari 1,5 derajat Celsius.
Dalam tuntutannya, aliansi masyarakat sipil menegaskan, "Tidak akan ada perlindungan hutan dan transisi berkeadilan tanpa penghentian perluasan industri fosil ke hutan."
Baca juga: IWIP Percepat Transisi Energi Lewat Proyek PLTS dan PLTB di Weda Bay
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya