DENPASAR, KOMPAS.com – Di tengah perdebatan global tentang keberlanjutan industri sawit, konsep Environmental, Social, and Governance (ESG) menjadi acuan yang kian penting bagi perusahaan perkebunan di Indonesia.
ESG bukan hanya jargon, tetapi peta jalan yang mengarahkan bagaimana sawit diproduksi secara lebih ramah lingkungan, berpihak pada kesejahteraan pekerja dan masyarakat sekitar, serta memenuhi tata kelola perusahaan yang baik, termasuk sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).
“Ketiga itu sesuatu yang harus menjadi prioritas. Sebisa mungkin ada keseimbangan,” ujar Direktur Utama Enerplant Plantation & Consultant, Muklis Badawi, saat ditemui di Bali, Kamis (13/11/2025).
Namun, keseimbangan tersebut menghadapi tantangan besar. Di saat perluasan lahan sawit hampir tak memungkinkan, satu-satunya jalan adalah intensifikasi berbasis teknologi dan inovasi.
Strategi ini diyakini dapat meningkatkan produktivitas tanpa menambah beban lingkungan akibat pembukaan hutan.
Muklis memulai penjelasannya dari aspek yang paling mendasar mengenai bibit. Bagi petani rakyat, banyak di antara mereka yang masih mengandalkan bibit varietas Dura.
Bibit tersebut menghasilkan kernel yang besar, cangkang tebal, serta daging buah tipis. Akibatnya, rendemen minyak hanya berkisar 16–18 persen.
Sebaliknya, perusahaan besar di Indonesia umumnya memilih bibit Tanera yang memiliki cangkang lebih tipis, daging buah tebal, serta limbah kecil, sehingga rendemen minyak jauh lebih tinggi.
“Kesalahan sekali menentukan bibit sama saja kesalahan 30 tahun. Petani rakyat biasanya replanting saat usia sawit lebih dari 30 tahun. Kalau dari awal salah, ya hasilnya pasti salah,” ucap Muklis.
Ia bercerita ketika masih bekerja di sebuah perusahaan di Bengkulu. Di sana, ia melihat bagaimana petani rakyat bersusah payah mencapai rendemen hanya 17–18 persen karena terlanjur menanam bibit Dura. Akhirnya, perusahaan memutuskan mengedukasi petani mengenai budi daya sawit berkelanjutan.
“Kalau kami beli dari petani sekitar perusahaan, utilitasnya tidak terpenuhi. Rendemennya enggak tercapai. Ya bibitnya enggak benar, bibitnya Dura,” kata dia.
Intensifikasi berikutnya adalah manajemen pemupukan. Bagi Muklis, waktu, lokasi, dan dosis pemupukan harus diperlakukan seperti sains yang presisi. Memberikan pupuk saat hujan hanya akan membuatnya terbilas. Ketika cuaca terik, pupuk bisa menguap.
“Enggak asal tabur, dosis pupuk harus tepat. Takaran memupuk sawit harus berdasarkan hasil data dari lab,” katanya.
Direktur Utama Enerplant Plantation & Consultant, Muklis Badawi menjelaskan perusahaan perkebunan sawit berkelanjutan di sela-sela acara 21st Indonesian Palm Oil Conference and 2026 Prince Outlook (IPOC2025) di Nusa Dua, Bali, pada Kamis (13/11/2025).Ketepatan ini penting karena pupuk menyerap hingga 60 persen biaya budi daya. Di sisi lain, penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dapat memadatkan tanah dan membunuh mikroorganisme yang berperan dalam kesuburan.
Untuk menekan biaya operasional, perusahaan bahkan bisa memanfaatkan kerbau sebagai alat angkut hasil panen.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya