Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Intensifikasi Lahan Tanpa Memperluas Area Tanam Kunci Keberlanjutan Perkebunan Sawit

Kompas.com, 21 November 2025, 18:52 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

DENPASAR, KOMPAS.com – Di tengah perdebatan global tentang keberlanjutan industri sawit, konsep Environmental, Social, and Governance (ESG) menjadi acuan yang kian penting bagi perusahaan perkebunan di Indonesia.

ESG bukan hanya jargon, tetapi peta jalan yang mengarahkan bagaimana sawit diproduksi secara lebih ramah lingkungan, berpihak pada kesejahteraan pekerja dan masyarakat sekitar, serta memenuhi tata kelola perusahaan yang baik, termasuk sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

“Ketiga itu sesuatu yang harus menjadi prioritas. Sebisa mungkin ada keseimbangan,” ujar Direktur Utama Enerplant Plantation & Consultant, Muklis Badawi, saat ditemui di Bali, Kamis (13/11/2025).

Namun, keseimbangan tersebut menghadapi tantangan besar. Di saat perluasan lahan sawit hampir tak memungkinkan, satu-satunya jalan adalah intensifikasi berbasis teknologi dan inovasi.

Strategi ini diyakini dapat meningkatkan produktivitas tanpa menambah beban lingkungan akibat pembukaan hutan.

Salah Bibit Berdampak 30 Tahun ke Depan

Muklis memulai penjelasannya dari aspek yang paling mendasar mengenai bibit. Bagi petani rakyat, banyak di antara mereka yang masih mengandalkan bibit varietas Dura.

Bibit tersebut menghasilkan kernel yang besar, cangkang tebal, serta daging buah tipis. Akibatnya, rendemen minyak hanya berkisar 16–18 persen.

Sebaliknya, perusahaan besar di Indonesia umumnya memilih bibit Tanera yang memiliki cangkang lebih tipis, daging buah tebal, serta limbah kecil, sehingga rendemen minyak jauh lebih tinggi.

“Kesalahan sekali menentukan bibit sama saja kesalahan 30 tahun. Petani rakyat biasanya replanting saat usia sawit lebih dari 30 tahun. Kalau dari awal salah, ya hasilnya pasti salah,” ucap Muklis.

Ia bercerita ketika masih bekerja di sebuah perusahaan di Bengkulu. Di sana, ia melihat bagaimana petani rakyat bersusah payah mencapai rendemen hanya 17–18 persen karena terlanjur menanam bibit Dura. Akhirnya, perusahaan memutuskan mengedukasi petani mengenai budi daya sawit berkelanjutan.

“Kalau kami beli dari petani sekitar perusahaan, utilitasnya tidak terpenuhi. Rendemennya enggak tercapai. Ya bibitnya enggak benar, bibitnya Dura,” kata dia.

Pupuk: Biaya 60 Persen dan Pentingnya Ketepatan

Intensifikasi berikutnya adalah manajemen pemupukan. Bagi Muklis, waktu, lokasi, dan dosis pemupukan harus diperlakukan seperti sains yang presisi. Memberikan pupuk saat hujan hanya akan membuatnya terbilas. Ketika cuaca terik, pupuk bisa menguap.

“Enggak asal tabur, dosis pupuk harus tepat. Takaran memupuk sawit harus berdasarkan hasil data dari lab,” katanya.

Direktur Utama Enerplant Plantation & Consultant, Muklis Badawi menjelaskan perusahaan perkebunan sawit berkelanjutan di sela-sela acara 21st Indonesian Palm Oil Conference and 2026 Prince Outlook (IPOC2025) di Nusa Dua, Bali, pada Kamis (13/11/2025).Kompas.com/Manda Firmansyah Direktur Utama Enerplant Plantation & Consultant, Muklis Badawi menjelaskan perusahaan perkebunan sawit berkelanjutan di sela-sela acara 21st Indonesian Palm Oil Conference and 2026 Prince Outlook (IPOC2025) di Nusa Dua, Bali, pada Kamis (13/11/2025).

Ketepatan ini penting karena pupuk menyerap hingga 60 persen biaya budi daya. Di sisi lain, penggunaan pupuk kimia secara berlebihan dapat memadatkan tanah dan membunuh mikroorganisme yang berperan dalam kesuburan.

Untuk menekan biaya operasional, perusahaan bahkan bisa memanfaatkan kerbau sebagai alat angkut hasil panen.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau