Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Guru Besar IPB: Tumpukan Limbah Cangkang Kerang di Cilincing Ancam Ekosistem

Kompas.com, 25 November 2025, 19:06 WIB
Zintan Prihatini,
Yunanto Wiji Utomo

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, Etty Riani, menyatakan bahwa limbah cangkang kerang hijau yang menggunung di Cilincing, Jakarta Utara, mengancam ekosistem di sekitarnya. Para pengupas kerang biasanya membiarkan cangkang itu menumpuk di pesisir pantai.

“Penumpukan limbah organik ini tidak hanya mengganggu estetika lingkungan, tetapi juga mengancam stabilitas ekologi pesisir dan kesehatan masyarakat,” kata Etty dalam keterangannya, Selasa (25/11/2025).

Menurut dia, bahan organik dari cangkang kerang hijau akan terurai oleh mikroorganisme, yang diperkuat dengan suhu panas dan reaksi kimia air laut. Dengan begitu, cangkang akan terdegradasi, melapuk, lalu melepaskan berbagai senyawa anorganik ke lingkungan.

Baca juga: Mikroplastik Cemari Udara di 18 Kota, Jakarta Pusat Catat Konsentrasi Tertinggi

Saat bahan tersebut dilepaskan dalam jumlah besar maka akan memengaruhi kualitas ait laut. Tingginya konsentrasi nutrien sangat berpotensi memicu eutrofikasi atau ledakan pertumbuhan fitoplankton yang tidak terkendali.

“Pada malam hari, kadar oksigen terlarut di perairan bisa turun drastis. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat menyebabkan kematian berbagai biota air bahkan memicu kematian massal,” papar dia.

Dalam penelitiannya, Etty menemukan cangkang ataupun daging kerang hijau di Teluk Jakarta, termasuk Cilincing mengandung logam berat berbahaya seperti merkuri (Hg), timbal (Pb), kadmium (Cd), tembaga (Cu), kromium (Cr), dan seng (Zn).

Dia menilai risiko pencemaran logam berat pada tanah, air, dan sedimen pesisir meningkat tajam seiring menumpuknya cangkanh kerang yang mencapai 1-4 ton per hari.

“Kontaminasi logam berat tidak hanya berhenti di tanah atau sedimen. Bahan berbahaya ini dapat terserap oleh akar, batang, dan daun mangrove, juga berpindah ke biota air lain melalui proses makan-memakan atau biomagnifikasi," jelas Etty.

Baca juga: Timbal Ditemukan dalam Darah Ibu Hamil dan Anak, Ini Sumber Utamanya

"Pada akhirnya akan membahayakan kesehatan manusia yang merupakan konsumen dari berbagai biota laut,” imbuh dia.

Apabila dibiarkan dalam jangka panjang, logam berat tersebut berpotensi menyebabkan gangguan fisiologis, kerusakan organ, kegagalan reproduksi, hingga cacat bawaan pada keturunan biota air. Selain itu, tumpukan cangkang yang memadat dapat merusak struktur tanah dan sedimen sehingga menurunkan kualitas ekologis secara permanen.

Selain dampak ekologis, timbunan cangkang juga dapat memicu munculnya vektor penyakit.

“Saya belum menemukan kajian yang menyebutkan kerang atau ikan di sekitar lokasi timbunan terkontaminasi bakteri patogen. Namun secara umum, tumpukan limbah seperti ini biasanya menjadi sarang lalat, parasit, dan patogen lain yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat,” ungkap Etty.

Etty pun mengingatkan cangkang tidak boleh dimanfaatkan untuk konsumsi manusia, pakan biota, dan pupuk selama masih mengandung logam berat, kecuali diolah menggunakan teknologi khusus untuk menghilangkan bahan berbahaya dan beracun. 

Di sisi lain, dia merekomendasikan pemanfaatan cangkang untuk produk non pangan.

“Cangkang yang telah dibersihkan memiliki warna menarik dan berpotensi menjadi bahan kerajinan bernilai ekonomi. Cangkang juga dapat dimanfaatkan sebagai pengganti CaO atau CaCO3 untuk campuran beton, bata, paving block, dan lainnya,” tutur Etty.

Dia turut mendesak adanya lokasi khusus untuk menampung limbah cangkang kerang agar tidak mencemari lingkungan maupun menjadi sumber penyakit.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
BUMN
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau