Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cuaca Ekstrem Perparah Polusi Plastik, Lebih Mudah Menyebar dan Berbahaya

Kompas.com, 28 November 2025, 18:37 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber CNN

KOMPAS.com - Hubungan antara plastik dan perubahan iklim biasanya berfokus pada bagaimana plastik menjadi penyebab krisis.

Seperti yang kita ketahui lebih dari 98 persen plastik dibuat menggunakan bahan bakar fosil, dan polusi iklim dilepaskan di setiap tahap siklus hidupnya, mulai dari produksi hingga pembuangan.

Namun yang kurang dibahas adalah bagaimana perubahan iklim yang memicu gelombang panas, kebakaran, dan banjir intens bisa meningkatkan polusi plastik, menyebarkannya lebih luas dan bahkan membuatnya lebih berbahaya.

Sebuah tim ilmuwan meneliti ratusan studi dan menemukan banyak bukti bahwa perubahan iklim memperburuk polusi plastik di air, tanah, atmosfer, dan satwa liar kita.

Analisis tersebut diterbitkan Kamis di jurnal Frontiers in Science.

Baca juga: Industri Pelayaran Komitmen Atasi Krisis Polusi Plastik di Lautan

“Polusi plastik dan iklim merupakan krisis bersama yang saling memperburuk,” kata penulis utama Frank Kelly, seorang profesor di Sekolah Kesehatan Masyarakat Imperial College London, dikutip dari CNN, Kamis (27/11/2025).

Kenaikan suhu, kelembapan, dan sinar matahari memecah plastik, membuatnya rapuh dan retak, mempercepat disintegrasinya menjadi pecahan-pecahan kecil.

Kenaikan suhu 10 derajat Celsius selama gelombang panas ekstrem dapat menggandakan laju degradasi plastik, catat studi tersebut.

Badai ekstrem, banjir, dan angin juga mempercepat penguraian plastik, memobilisasinya, dan menyebarkannya lebih luas.

Topan di Hong Kong, misalnya, meningkatkan konsentrasi mikroplastik di sedimen pantai hampir 40 kali lipat

Kebakaran hutan, yang dipicu oleh suhu tinggi dan kekeringan, membakar habis rumah, kantor, dan kendaraan, melepaskan mikroplastik dan senyawa yang sangat beracun ke atmosfer.

Perubahan iklim juga dapat membuat plastik lebih berbahaya.

Suhu yang lebih tinggi dapat membantu plastik menyerap dan melepaskan kontaminan berbahaya dengan lebih mudah, serta meningkatkan kemampuannya untuk melarutkan bahan kimia berbahaya yang terkandung di dalam plastik itu sendiri.

Ketika krisis ganda polusi plastik dan perubahan iklim bertabrakan, dampaknya terhadap hewan, terutama kehidupan laut, dapat menjadi signifikan.

Studi ini menyarankan beberapa solusi untuk krisis ini, termasuk mengurangi penggunaan plastik, penggunaan kembali dan daur ulang, serta mendesain ulang produk dan menghilangkan plastik sekali pakai yang tidak perlu.

Baca juga: Studi: Sejumlah Kecil Plastik Mematikan Bagi Hewan Laut

Laporan ini juga menyebut harapan terbesar untuk mengatasi krisis plastik ini adalah melalui perjanjian plastik global yang mengikat secara hukum yang bertujuan untuk mengakhiri polusi.

Sayangnya, lagi-lagi negosiasi selama bertahun-tahun gagal menghasilkan kesepakatan apa pun, karena negara-negara masih terpecah belah, terutama mengenai apakah akan memberlakukan batasan produksi plastik.

Para penulis laporan berpendapat bahwa menemukan solusi semakin mendesak, karena situasi akan semakin memburuk.

Produksi tahunan global plastik sendiri meningkat 200 kali lipat antara tahun 1950 dan 2023, dan diprediksi akan terus meningkat seiring dunia bergerak menuju energi bersih dan perusahaan-perusahaan minyak mengalihkan investasi ke plastik.

“Kita perlu bertindak sekarang, karena plastik yang dibuang saat ini mengancam gangguan ekosistem berskala global di masa depan,” kata Stephanie Wright, penulis studi dan profesor madya di Fakultas Kesehatan Masyarakat Imperial College London.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
'Hutan Bukan Mainan': Menanam Harapan Lintas Generasi di Sedekah Hutan 2026
LSM/Figur
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
Hari Gajah Sedunia 2026: Hilangnya Hutan Jadi Ancaman Terbesar Gajah Sumatra
LSM/Figur
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau