Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sampel Udara Berusia 35 Tahun Tunjukkan Perubahan Ritme Alam akibat Iklim

Kompas.com, 4 Desember 2025, 12:35 WIB
Ni Nyoman Wira Widyanti

Penulis

KOMPAS.com - Sampel udara yang dikumpulkan selama 35 tahun di Swedia memberi petunjuk baru tentang perubahan ritme alam akibat perubahan iklim.

Sampel udara lama milik militer ini ternyata menyimpan arsip DNA tersembunyi yang membuktikan, lumut di wilayah utara saat ini melepaskan spora lebih awal dibandingkan masa lalu.

Baca juga:

"Sampel-sampel tersebut ternyata merupakan arsip DNA yang tak terduga, unik, dan sangat menarik dari partikel biologis yang tersebar oleh angin," kata peneliti botani di Universitas Lund, Nils Cronberg, dilansir dari SciTechDaily, Rabu (3/12/2025).

Sampel udara 35 tahun ungkap perubahan ritme alam

Ritme musiman lumut di wilayah utara bumi mengalami perubahan

Penelitian ini dilakukan oleh para ilmuwan di Lund University dan Umeå University di Swedia. Temuan mereka berasal dari analisis DNA yang tersimpan di filter udara kaca yang digunakan militer sejak tahun 1960-an.

Awalnya, pihak militer hanya ingin memantau radiasi dari uji senjata nuklir. Namun, filter tersebut juga menangkap DNA dari serbuk sari, spora, dan partikel biologis lain.

Peneliti Per Stenberg dari Umeå University adalah orang pertama yang melihat nilai ilmiah dari arsip genetik tersembunyi itu. Temuan ini kemudian dikembangkan lebih jauh oleh tim ilmuwan.

Tim peneliti memeriksa perubahan waktu pelepasan spora lumut pada 16 spesies selama periode 35 tahun. Hasilnya menunjukkan perubahan besar pada ritme musiman lumut di wilayah utara.

Rata-rata, awal pelepasan spora saat ini terjadi empat minggu lebih awal dibanding tahun 1990. Puncak pelepasan spora bahkan terjadi enam minggu lebih cepat. 

Baca juga:

Sampel udara 35 tahun di Swedia ungkap spora lumut saat ini muncul lebih cepat. Temuan ini tunjukkan perubahan ritme alam akibat perubahan iklim.pixabay.com Sampel udara 35 tahun di Swedia ungkap spora lumut saat ini muncul lebih cepat. Temuan ini tunjukkan perubahan ritme alam akibat perubahan iklim.

"Perbedaannya cukup signifikan, terutama mengingat musim panas di utara begitu singkat," tutur Cronberg.

Perubahan besar ini berkaitan dengan pengaruh iklim yang tertunda. Musim gugur yang lebih hangat memberi lumut waktu lebih panjang untuk membentuk kapsul spora sebelum musim dingin tiba.

Kapsul spora yang berkembang lebih awal membuat pelepasan spora terjadi lebih cepat saat musim semi.

Hal yang mengejutkan adalah waktu pelepasan spora ternyata tidak ditentukan oleh kondisi cuaca pada tahun yang sama.

"Kami awalnya mengira bahwa pencairan salju atau suhu udara pada tahun yang sama dengan penyebaran spora akan menjadi faktor krusial, tapi kondisi iklim pada tahun sebelumnya ternyata menjadi faktor yang paling penting," kata mantan peneliti botani di Lund University yang saat ini bekerja Norwegian Institute for Nature Research, Fia Bengtsson.

Penemuan ini menunjukkan bahwa perubahan iklim tidak hanya berdampak langsung pada musim saat ini. Ritme kehidupan lumut dan organisme kecil lainnya ternyata juga menyimpan memori lingkungan satu tahun sebelumnya.

Perubahan kecil pada suhu tahun sebelumnya dapat memicu efek besar pada proses alami yang terjadi belasan atau puluhan minggu kemudian.

"Kami berharap hasil dan pengetahuan tentang bagaimana alam telah berubah sejak tahun 1970-an akan menjadi bagian dari laporan berikutnya oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)," kata Cronberg.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
95 Persen UMKM Klaim Ramah Lingkungan, Nyatanya Aksi Kurangi Emisi Lambat
Pemerintah
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Target Bebas Emisi Mundur ke 2090, Suhu Bumi Terancam Naik 2,3 Derajat C
Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Kemenperin Usul Produk Bersertifikat Hijau Diprioritaskan dalam Pengadaan Pemerintah
Pemerintah
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
ITB Olah Ubi Cilembu Rusak Jadi Sirup Gula, Teliti Metabolisme Kopi Premium
LSM/Figur
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Indonesia Bidik 12 Juta Hektare Lahan Terdegradasi untuk Pangan dan Biofuel
Pemerintah
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Retno Marsudi: Target Air dan Sanitasi Aman 2030 Terancam Meleset
Pemerintah
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
Sampah Antariksa Capai Ratusan Juta Fragmen, BRIN Dorong Kolaborasi Pemantauan
LSM/Figur
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Mobil Listrik Murah Bermunculan, Penjualan EV di Eropa Tembus 1,6 Juta Unit
Pemerintah
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
92 Persen Sampah di Sungai Berakhir di Pantai, Tertinggi Jakarta dan Bali
LSM/Figur
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Dorong Hilirisasi, Bappenas Luncurkan Peta Jalan Pembangunan Rumput Laut Terintegrasi 2026–2030
Pemerintah
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Asap Karhutla Indonesia Bikin Singapura Jadi Kota Paling Berpolusi di Dunia
Pemerintah
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Perdagangan Global Tembus Rp 560 Kuadriliun di Tengah Berbagai Konflik
Pemerintah
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Ancaman Nyata Perubahan Iklim, Sejumlah Spot Selancar Dunia Terancam Rusak
Pemerintah
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
AHY: Jangan Sampai Talenta dan Pakar Teknologi Kabur dari Indonesia
Pemerintah
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Hilangnya Biodiversitas Tanaman Kurangi Kemampuan Padang Rumput Serap Karbon
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau