Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menteri LH Hanif Soal COP30, Negara Dunia Masih Berdebat dan Krisis Iklim Terabaikan

Kompas.com, 2 Desember 2025, 19:35 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP30) di Belém, Brasil, berakhir Jumat (21/11/2025) lalu. Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq menilai, di konferensi tersebut, para negara peserta hanya berdebat tentang siapa yang bertanggung jawab atas krisis iklim.

Negara-negara di dunia disebut masih belum kompak untuk mengorbankan kepentingan nasionalnya masing-masing demi mengatasi krisis iklim.

Baca juga:

Hanif juga menganggap COP gagal menjadi forum yang menyatukan negara-negara dunia untuk bergerak bersama menangani krisis iklim. COP dinilai hanya diisi "dengan negoisasi-negoisasi panjang yang melelahkan". 

"Dengan negosiasi-negosiasi panjang yang melelahkan dan kemudian tidak menghasilkan output yang sangat fundamental, ada sangat dari COP 1 ke COP selanjutnya. Dari (tahun) 2015 sampai 2025, sudah kita melakukan negosiasi, tetapi tidak ada substansi yang sangat mendasar untuk kemudian kita bersama-sama menghadapi tantangan krisis iklim," ujar Hanif di Jakarta, Selasa (2/12/2025).

Baca juga: Indonesia Dianggap Kena Jebakan di KTT COP30 karena Jual Karbon Murah

Hasil COP30, sibuk "berkelahi" daripada mengurus krisis iklim

Konferensi Perubahan Iklim PBB COP30 di Brasil, Sabtu (8/11/2025). Indonesia Raih Penghargaan Sindiran 'Fossil of the Day' di BrasilDok. Standart Chartered Konferensi Perubahan Iklim PBB COP30 di Brasil, Sabtu (8/11/2025). Indonesia Raih Penghargaan Sindiran 'Fossil of the Day' di Brasil

Saat ini, negara-negara dunia dianggap sibuk "berkelahi" daripada mengurus krisis iklim. Antara satu negara dengan negara lainnya dinilai saling menekan melalui kekuatan ekonomi-politik dan teknologi.

Padahal, suhu panas bumi terus naik akibat krisis iklim. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), tahun 2024 menjadi tahun terpanas dalam sejarah.

"Suhu rata-rata global saat ini sudah di atas 1,4 derajat celcius, mendekati 1,5 (derajat Celcius). Ini tentu menyedihkan," tutur Hanif.

Sebelumnya, sejumlah organisasi masyarakat sipil kecewa dengan hasil COP30 karena menyematkan harapan terlalu besar. Hal ini mengingat COP30 digelar oleh Permintah Brasil yang dikenal pro hutan dan iklim.

Di bawah Presiden Luiz Inacio Lula da Silva, Brasil telah menurunkan tingkat deforestasi secara signifikan.

Namun, kenyataannya berkata lain. COP30 justru serupa dengan pertemuan-pertemuan sebelumnya yang kurang memberikan terobosan berarti.

"Mengecewakan, terutama karena harapan yang besar itu ya. Kalau di tiga COP sebelumnya kan di negara-negara minyak ya sehingga ekspektasi kita terkalibrasi dengan sendirinya. Nah, ini di negara dengan hutan hujan tropis terbesar di dunia, kita berharap lebih jauh," ujar Country Director Greenpeace untuk Indonesia, Leonard Simanjuntak, Selasa (25/11/2025).

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Riset CELIOS: Lapangan Kerja dari Program MBG Terbatas dan Tak Merata
Riset CELIOS: Lapangan Kerja dari Program MBG Terbatas dan Tak Merata
LSM/Figur
Presiden Prabowo Beri 20.000 Hektar Lahan di Aceh untuk Gajah
Presiden Prabowo Beri 20.000 Hektar Lahan di Aceh untuk Gajah
Pemerintah
IWGFF: Bank Tak Ikut Tren Investasi Hijau, Risiko Reputasi akan Tinggi
IWGFF: Bank Tak Ikut Tren Investasi Hijau, Risiko Reputasi akan Tinggi
LSM/Figur
MBG Bikin Anak Lebih Aktif, Fokus, dan Rajin Belajar di Sekolah?, Riset Ini Ungkap Persepsi Orang Tua
MBG Bikin Anak Lebih Aktif, Fokus, dan Rajin Belajar di Sekolah?, Riset Ini Ungkap Persepsi Orang Tua
LSM/Figur
Mikroplastik Bisa Sebarkan Patogen Berbahaya, Ini Dampaknya untuk Kesehatan
Mikroplastik Bisa Sebarkan Patogen Berbahaya, Ini Dampaknya untuk Kesehatan
LSM/Figur
Greenpeace Soroti Krisis Iklim di Tengah Minimnya Ruang Aman Warga Jakarta
Greenpeace Soroti Krisis Iklim di Tengah Minimnya Ruang Aman Warga Jakarta
LSM/Figur
Interpol Sita 30.000 Satwa dan Tanaman Ilegal di 134 Negara, Perdagangan Daging Meningkat
Interpol Sita 30.000 Satwa dan Tanaman Ilegal di 134 Negara, Perdagangan Daging Meningkat
Pemerintah
PHE Konsisten Lestarikan Elang Jawa di Kamojang Jawa Barat
PHE Konsisten Lestarikan Elang Jawa di Kamojang Jawa Barat
Pemerintah
Indeks Investasi Hijau Ungkap Bank Nasional di Posisi Teratas Jalankan ESG
Indeks Investasi Hijau Ungkap Bank Nasional di Posisi Teratas Jalankan ESG
LSM/Figur
Korea Selatan Larang Label Plastik di Botol Air Minum per Januari 2026
Korea Selatan Larang Label Plastik di Botol Air Minum per Januari 2026
Pemerintah
Aturan Baru Uni Eropa, Wajibkan 25 Persen Plastik Daur Ulang di Mobil Baru
Aturan Baru Uni Eropa, Wajibkan 25 Persen Plastik Daur Ulang di Mobil Baru
Pemerintah
BRIN Soroti Banjir Sumatera, Indonesia Dinilai Tak Belajar dari Sejarah
BRIN Soroti Banjir Sumatera, Indonesia Dinilai Tak Belajar dari Sejarah
Pemerintah
KLH Periksa 8 Perusahaan Diduga Picu Banjir di Sumatera Utara
KLH Periksa 8 Perusahaan Diduga Picu Banjir di Sumatera Utara
Pemerintah
Banjir Sumatera, BMKG Dinilai Belum Serius Beri Peringatan Dini dan Dampaknya
Banjir Sumatera, BMKG Dinilai Belum Serius Beri Peringatan Dini dan Dampaknya
LSM/Figur
Mengenal Kemitraan Satu Atap Anak Usaha TAPG di Kalimantan Tengah, Apa Itu?
Mengenal Kemitraan Satu Atap Anak Usaha TAPG di Kalimantan Tengah, Apa Itu?
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Kolom ini tidak boleh kosong.
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau