Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

ADB: Asia Perlu 1,7 Triliun Dollar AS Per Tahun untuk Respons Perubahan Iklim

Kompas.com, 29 November 2025, 18:34 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Kota-kota di Asia yang ramai dan padat sangat membutuhkan pembiayaan untuk merespons dampak iklim yang semakin intensif.

Tetapi para ahli mengatakan fragmentasi tata kelola dan kesenjangan transparansi data menghambat kepercayaan investor.

Bank Pembangunan Asia (ADB) memperkirakan bahwa kota-kota di kawasan ini membutuhkan investasi infrastruktur tahunan sekitar 1,7 triliun dollar AS hingga tahun 2030 untuk beradaptasi dengan perubahan iklim sekaligus mempertahankan pertumbuhan ekonomi.

Namun, arsitek Cheong-Chua Koon Hean, profesor di Singapore University of Technology and Design mengatakan struktur tata kelola nasional, provinsi, dan lokal yang tumpang tindih dapat menyebabkan ketidakpastian bagi investor, yang menginginkan perencanaan jangka panjang dan konsistensi kebijakan sebelum berinvestasi dalam proyek infrastruktur hijau.

Ia menyebut terdapat kekurangan proyek adaptasi yang layak bank di kota-kota Asia, yang seringkali tidak memiliki kapasitas teknis untuk mengalokasikan risiko dan mengukur hasil.

"Hal ini berarti modal swasta menjadi sangat berhati-hati," ujarnya, dikutip dari Eco Business, Jumat (28/11/2025).

Baca juga: Inisiatif Food Waste Breakthrough: Target Potong Setengah Sampah Makanan Kota

Pemerintah daerah cenderung memiliki basis pendapatan yang sempit dan siklus anggaran yang pendek.

Ini berarti bahwa proyek infrastruktur jangka panjang, seperti sistem angkutan cepat massal, proyek ketahanan air, atau pendinginan distrik, sangat sulit untuk dibiayai.

Risiko sosial dan politik juga dapat membatasi investasi dalam proyek-proyek keberlanjutan perkotaan. Stabilitas sosial merupakan prasyarat utama untuk mengejar inisiatif-inisiatif yang berketahanan iklim.

"Jika kota kekurangan fasilitas dasar, lapangan kerja, perumahan yang terjangkau, dan biaya hidup yang sangat tinggi, maka hal itu dapat menyebabkan keresahan sosial dan itu akan mengurangi dukungan politik dan menggagalkan aksi-aksi iklim," tambahnya.

Sementara itu, Chief Sustainability and Sustainable Investments Officer CapitaLand Investment, Vinamra Srivastava, mencatat bahwa proyek adaptasi iklim tidak menarik tingkat modal yang sama dengan proyek mitigasi.

Baca juga: Mikroplastik Cemari Udara di 18 Kota, Jakarta Pusat Catat Konsentrasi Tertinggi

Sektor swasta secara global menyumbang hanya 3 persen dari pendanaan adaptasi. Hal ini sebagian disebabkan oleh kurangnya data berkualitas tinggi dan ketidakpastian imbal hasil finansial dari proyek adaptasi.

“Investor sektor swasta mencari arus kas yang dapat diprediksi dan imbal hasil yang jelas. Banyak proyek adaptasi berfokus pada penghindaran kerugian dan dalam analisis imbal hasil investasi finansial, sangat sulit untuk mengukur pencegahan kerugian,” kata Srivastava.

Kota-kota Asia Tenggara yang rentan terhadap iklim seperti Manila, Bangkok, dan Jakarta saat ini menghadapi kesenjangan investasi yang signifikan.

Meskipun kebutuhan adaptasi mereka diperkirakan mencapai 210 miliar dolar setiap tahun, mereka hanya menerima sebagian kecil dari jumlah tersebut, yang menghambat upaya di sektor-sektor penting seperti air dan infrastruktur hijau.

sumber https://www.eco-business.com/news/governance-data-gaps-and-unpredictable-returns-limiting-climate-adaptation-investment-in-asias-cities-experts/

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
United Tractors Serahkan Ekskavator untuk Pelatihan Vokasi di Maluku Utara
United Tractors Serahkan Ekskavator untuk Pelatihan Vokasi di Maluku Utara
Swasta
Prabowo Cabut 28 Izin Perusahaan Imbas Banjir Sumatera, Ini Daftarnya
Prabowo Cabut 28 Izin Perusahaan Imbas Banjir Sumatera, Ini Daftarnya
Pemerintah
Elang Jawa Terancam Punah, Pakar Ungkap Risiko Rusaknya Ekosistem
Elang Jawa Terancam Punah, Pakar Ungkap Risiko Rusaknya Ekosistem
LSM/Figur
Presiden Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Terkait Pemanfaatan Hutan
Presiden Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan Terkait Pemanfaatan Hutan
Pemerintah
Australia Tunda Penutupan Pembangkit Listrik Batu Bara Terbesar hingga 2029
Australia Tunda Penutupan Pembangkit Listrik Batu Bara Terbesar hingga 2029
Pemerintah
Kisah Zaiwan, Kepala Desa yang Lindungi Hutan hingga Berhasil Ekspor Madu
Kisah Zaiwan, Kepala Desa yang Lindungi Hutan hingga Berhasil Ekspor Madu
BUMN
Bakal Selundupkan Satwa Langka ke Thailand, Pemuda di Sumut Terancam 15 Tahun Penjara
Bakal Selundupkan Satwa Langka ke Thailand, Pemuda di Sumut Terancam 15 Tahun Penjara
Pemerintah
Musim Kawin Penguin di Antartika Maju dari Biasanya, Dampak Krisis Iklim?
Musim Kawin Penguin di Antartika Maju dari Biasanya, Dampak Krisis Iklim?
LSM/Figur
Perusahaan Tambang Nikel Ini Rehabilitasi 743 Hektare Hutan di Konawe
Perusahaan Tambang Nikel Ini Rehabilitasi 743 Hektare Hutan di Konawe
Swasta
Daftar Lokasi Olimpiade Musim Dingin Bisa Berkurang akibat Perubahan Iklim
Daftar Lokasi Olimpiade Musim Dingin Bisa Berkurang akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga
Krisis Iklim Bisa Pangkas Pendapatan Industri Olahraga
LSM/Figur
PBB Ingatkan 318 Juta Orang Kelaparan, Ancaman untuk Stabilitas Ekonomi Dunia
PBB Ingatkan 318 Juta Orang Kelaparan, Ancaman untuk Stabilitas Ekonomi Dunia
Pemerintah
Bumi Pernah Alami Panas Ekstrem 56 Juta Tahun Lalu, Picu Kebakaran dan Erosi
Bumi Pernah Alami Panas Ekstrem 56 Juta Tahun Lalu, Picu Kebakaran dan Erosi
LSM/Figur
Celios: WEF Jadi Momentum Strategis Tarik Investasi Hijau ke RI
Celios: WEF Jadi Momentum Strategis Tarik Investasi Hijau ke RI
LSM/Figur
Banjir Rob Jakarta Bisa Makin Parah akibat Perubahan Iklim
Banjir Rob Jakarta Bisa Makin Parah akibat Perubahan Iklim
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp 5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau