KOMPAS.com - Krisis iklim memperparah dampak bencana di Asia Tenggara. Siklon tropis Senyar yang dipicu krisis iklim telah mengakibatkan banjir bandang dan longsor di Sumatera.
Sementara itu, siklon tropis Koto dan Ditwah juga menghantam negara Asia Tenggara lainnya. Krisis iklim meningkatkan intensitas siklon tropis dan menyebabkan banjir bandang di Asia Tenggara.
Baca juga:
Krisis iklim membuat atmosfer menjadi lebih hangat dan bisa menahan semakin banyak kelembapan, yang pada gilirannya menaikkan curah hujan.
Suhu permukaan laut yang semakin hangat juga menyediakan energi tambahan untuk siklon tropis. Imbasnya, siklon tropis menjadi lebih kuat daya rusaknya.
Menurut Direktur Riset Centre National de la Recherche Scientifique (CNRS) Prancis, Davide Faranda, pemerintahan di negara-negara Asia Tenggara perlu memahami kondisi saat ini sebagai sesuatu yang tidak normal.
“Apa yang kita saksikan di Asia Tenggara adalah siklus badai yang tak henti-hentinya. Ribuan rumah telah hancur dalam badai baru-baru ini, tetapi yang terjadi adalah sebuah pola, akumulasi peristiwa bencana," ujar Faranda dalam keterangan tertulis, Rabu (3/12/2025).
"Jika kita tidak segera menghentikan bahan bakar fosil dan berinvestasi dalam strategi adaptasi, Asia Tenggara akan terus menghadapi kerusakan sosial-ekonomi dan krisis kemanusiaan yang semakin meningkat," tambah dia.
Baca juga:
Foto udara dampak kerusakan pascabanjir bandang di Aceh Tamiang, Aceh, Selasa (2/12/2025). Banjir bandang yang melanda daerah itu pada Rabu (26/11) mengakibatkan 18 orang meninggal dunia dan tiga orang dinyatakan hilang serta merusak ribuan rumah warga sehingga menyebabkan 206.903 jiwa dari 51.726 kepala keluarga terpaksa mengungsi.Di sisi lain, ketergantungan pada bahan bakar fosil menjadi salah satu penyebab utama krisis iklim yang memperparah bencana hidrometeorologi.
Emisi gas rumah kaca (GRK) dari bahan bakar fosil memperburuk krisis iklim dan dampak yang menyertainya.
Kerugian ekonomi akibat cuaca ekstrem yang dipicu krisis iklim mencapai 28 triliun dollar Amerika Serikat (AS) di seluruh dunia, pada periode tahun 1991-2020 saja.
Senada, Climate and Energy Campaign Manager Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik menilai, banjir bandang dan longsor di Sumatera merupakan dampak krisis iklim yang daya rusaknya semakin dahsyat.
Iqbal menganggap pengelolaan sumber daya alam (SDA) dan energi oleh pemerintah dengan tidak berlandaskan keadilan menjadi penyebab banjir bandang dan lonsor di Sumatera yang diperparah krisis iklim.
“Bencana ini adalah akumulasi dari tata kelola lahan dan energi yang buruk, serta kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir kelompok. Saatnya menerapkan prinsip pencemar membayar karena bencana yang terjadi bukan hanya disebabkan faktor alam tunggal, tapi karena eksploitasi alam berlebih oleh perusahaan dan negara yang mengatasnamakan pembangunan,” jelas Iqbal.
Pemanasan global akibat krisis iklim menaikkan intensitas badai dan taifun dalam berbagai kajian. Misalnya, krisis iklim yang memperburuk dampak musim taifun di Filipina pada tahun 2024.
Selain itu, krisis iklim terbukti membuat taifun Super Ragasa menjadi lebih basah dan berangin. Atau, krisis iklim memperkuat kecepatan angin dan curah hujan Taifun Gaemi yang menimbulkan kerusakan parah di bagian barat wilayah Pasifik.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya