Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Krisis Iklim Perparah Bencana di Asia Tenggara, Ketergantungan Energi Fosil Harus Dihentikan

Kompas.com, 3 Desember 2025, 19:05 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Krisis iklim memperparah dampak bencana di Asia Tenggara. Siklon tropis Senyar yang dipicu krisis iklim telah mengakibatkan banjir bandang dan longsor di Sumatera.

Sementara itu, siklon tropis Koto dan Ditwah juga menghantam negara Asia Tenggara lainnya. Krisis iklim meningkatkan intensitas siklon tropis dan menyebabkan banjir bandang di Asia Tenggara.

Baca juga:

Krisis iklim membuat atmosfer menjadi lebih hangat dan bisa menahan semakin banyak kelembapan, yang pada gilirannya menaikkan curah hujan.

Suhu permukaan laut yang semakin hangat juga menyediakan energi tambahan untuk siklon tropis. Imbasnya, siklon tropis menjadi lebih kuat daya rusaknya.

Menurut Direktur Riset Centre National de la Recherche Scientifique (CNRS) Prancis, Davide Faranda, pemerintahan di negara-negara Asia Tenggara perlu memahami kondisi saat ini sebagai sesuatu yang tidak normal.

“Apa yang kita saksikan di Asia Tenggara adalah siklus badai yang tak henti-hentinya. Ribuan rumah telah hancur dalam badai baru-baru ini, tetapi yang terjadi adalah sebuah pola, akumulasi peristiwa bencana," ujar Faranda dalam keterangan tertulis, Rabu (3/12/2025).

"Jika kita tidak segera menghentikan bahan bakar fosil dan berinvestasi dalam strategi adaptasi, Asia Tenggara akan terus menghadapi kerusakan sosial-ekonomi dan krisis kemanusiaan yang semakin meningkat," tambah dia. 

Baca juga:

Bahan bakar fosil termasuk penyebab utama krisis iklim

Krisis iklim bisa memperparah bencana hidrometeorologi

Foto udara dampak kerusakan pascabanjir bandang di Aceh Tamiang, Aceh, Selasa (2/12/2025). Banjir bandang yang melanda daerah itu pada Rabu (26/11) mengakibatkan 18 orang meninggal dunia dan tiga orang dinyatakan hilang serta merusak ribuan rumah warga sehingga menyebabkan 206.903 jiwa dari 51.726 kepala keluarga terpaksa mengungsi.ANTARA FOTO/Suhendra Foto udara dampak kerusakan pascabanjir bandang di Aceh Tamiang, Aceh, Selasa (2/12/2025). Banjir bandang yang melanda daerah itu pada Rabu (26/11) mengakibatkan 18 orang meninggal dunia dan tiga orang dinyatakan hilang serta merusak ribuan rumah warga sehingga menyebabkan 206.903 jiwa dari 51.726 kepala keluarga terpaksa mengungsi.

Di sisi lain, ketergantungan pada bahan bakar fosil menjadi salah satu penyebab utama krisis iklim yang memperparah bencana hidrometeorologi.

Emisi gas rumah kaca (GRK) dari bahan bakar fosil memperburuk krisis iklim dan dampak yang menyertainya.

Kerugian ekonomi akibat cuaca ekstrem yang dipicu krisis iklim mencapai 28 triliun dollar Amerika Serikat (AS) di seluruh dunia, pada periode tahun 1991-2020 saja.

Senada, Climate and Energy Campaign Manager Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik menilai, banjir bandang dan longsor di Sumatera merupakan dampak krisis iklim yang daya rusaknya semakin dahsyat.

Iqbal menganggap pengelolaan sumber daya alam (SDA) dan energi oleh pemerintah dengan tidak berlandaskan keadilan menjadi penyebab banjir bandang dan lonsor di Sumatera yang diperparah krisis iklim.

“Bencana ini adalah akumulasi dari tata kelola lahan dan energi yang buruk, serta kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir kelompok. Saatnya menerapkan prinsip pencemar membayar karena bencana yang terjadi bukan hanya disebabkan faktor alam tunggal, tapi karena eksploitasi alam berlebih oleh perusahaan dan negara yang mengatasnamakan pembangunan,” jelas Iqbal.

Pemanasan global akibat krisis iklim menaikkan intensitas badai dan taifun dalam berbagai kajian. Misalnya, krisis iklim yang memperburuk dampak musim taifun di Filipina pada tahun 2024.

Selain itu, krisis iklim terbukti membuat taifun Super Ragasa menjadi lebih basah dan berangin. Atau, krisis iklim memperkuat kecepatan angin dan curah hujan Taifun Gaemi yang menimbulkan kerusakan parah di bagian barat wilayah Pasifik.

Baca juga: 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau