Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cegah Banjir Berulang di Sumatera, Akademisi IPB Usul Moratorium Sawit

Kompas.com, 26 Desember 2025, 11:34 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Pusat Pengembangan Ilmu Lingkungan (PPLH) IPB University, Yudi Setiawan mengusulkan moratorium atau penghentian perkebunan sawit untuk mencegah banjir berulang di Sumatera. Diketahui, banjir bandang serta longsor melanda Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat pada 25-27 November 2025 lalu.

Dia juga meminta pemerintah mengaudit serta menertibkan perkebunan sawit.

"Barangkali ini bisa menjadi salah satu mitigasi ke depan, untuk moratorium di beberapa lokasi yang memang risiko bencananya besar. Kemudian merehabilitasi sawit tua menjadi hutan varian," ujar Yudi dalam webinar, Rabu (24/12/2025).

Baca juga: Sistem Komando Dinilai Hambat Penanganan Banjir Sumatera

Menurut dia, bencana banjir dan Longsor di Sumatera tersebut memang dipicu oleh cuaca ekstrem akibat Siklon Senyar yang melintasi wilayah Indonesia. Namun, dampak hujan ekstrem semakin parah karena perubahan tutupan lahan, terutama berkurangnya hutan di daerah tangkapan air.

Kata Yudi, berbagai riset menunjukkan keterkaitan antara perubahan tutupan lahan karena hilangnya hutan maupun ekspansi perkebunan sawitdengan peningkatan banjir.

"Pendekatannya saintifik, dicoba dikaitkan bagaimana hilangnya tutupan hutan berdampak terhadap peningkatan laju aliran permukaan begitu juga dengan sawit," tutur dia.

Studi tahun 2024 itu menganalisis banjir pada 2011-2018 menggunakan metode data mining dari media daring dan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Hasilnya menunjukkan tren peningkatan kejadian banjir di Aceh intensitas tinggi pada beberapa wilayah.

Di samping itu, Yudi menyoroti tergerusnya tutupan hutan Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan yang mencakup Aceh Tengah, Bireuen, dan Aceh Utara.

"Dari tutupan hutannya sudah cukup banyak penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Di satu sisi, perkebunan komoditas strategis mengalami peningkatan, termasuk juga aktivitas penambangan di daerah hulu," papar Yudi.

Baca juga: Aceh Terancam Kekurangan Pangan hingga 3 Tahun ke Depan akibat Banjir

Kondisi serupa terjadi di Aceh Tamiang, DAS Batang Toru dan DAS Garoga, Sumatera Utara. Ia menyatakan bahwa DAS Batang Toru memiliki karakter lereng curam, lembah sempit, dan kondisi geologi yang rapuh, sehingga rentan terhadap longsor ataupun banjir bandang.

Sedangkan DAS Garoga dan sejumlah DAS kecil lainnya memiliki sungai pendek dan curam. Di Sumatera Barat, lanjut Yudi, beberapa DAS tercatat terdampak banjir bandang hingga mengakibatkan korban jiwa.

Konversi Lahan

Merujuk data Kementerian Kehutanan (Kemenhut), perubahan tutupan lahan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada periode 2003–2024 menunjukkan tren konversi hutan menjadi non hutan. Hutan lahan kering primer dan sekunder banyak berubah menjadi perkebunan, hutan tanaman, semak belukar, dan lahan pertanian campur, menandakan penurunan kualitas ekosistem.

"Namun, perubahan ini sering kali tidak berjalan linier atau satu arah saja. Tidak selalu dari hutan ke lahan terbuka lalu selesai. Sering kali mengalami perubahan pola vegetasi," jelas Yudi.

Oleh sebab itu, dia merekomendasikan berbagai langkah mitigasi, mulai dari rehabilitasi hulu DAS, reforestasi, hingga pengendalian pembukaan hutan di zona rawan banjir dan longsor.

Selain itu, ia mendorong penguatan sistem peringatan dini banjir berbasis teknologi. Bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional, Pusat Riset Geoinformatika, dan Universitas Indonesia, peneliti IPB mengembangkan sistem proyek deteksi dini perubahan tutupan vegetasi. Metode ini sudah digunakan sebagai peringatan dini di Kemenhut meskipun masih ada keterbatasan luasan.

"Area yang terdeteksi pada 2022 cukup banyak mengalami perubahan. Setiap spot perubahan bisa terdeteksi per unit, sehingga ini bisa menjadi alat untuk memantau kehilangan tutupan hutan," ujar dia.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Studi Ungkap Hubungan Lingkungan dan Kesehatan Mental Anak Muda
Pemerintah
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
Strategi Para Petambak di Surabaya agar Mampu Bertahan dari Limbah Kiriman
LSM/Figur
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Kemiskinan Global Naik, PBB: Alarm Pengingat untuk Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
BRIN Kembangkan Enzim dari Jamur Lokal untuk Urai Limbah Pewarna Tekstil
Pemerintah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Super El Niño Berpotensi Jadikan 2026 Tahun Terpanas dalam Sejarah
Pemerintah
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
Ikan Betina Lebih Banyak Ditemukan di Kali Surabaya, Pembuangan Limbah Cair Perlu Diperketat
LSM/Figur
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Panas Ekstrem Jadi Tantangan Asia Tenggara, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Swasta
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Coca-Cola Inisiasi Lingkungan Berkelanjutan si Solo lewat Master Meter dan Pilah Sampah
Swasta
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Sektor Transisi Rendah Karbon Justru Paling Rawan Greenwashing
Pemerintah
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
WWF: Populasi Satwa Liar Anjlok 73 Persen Sejak 1970
Pemerintah
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
CBAM Tekan Daya Saing Ekspor RI, Kemenperin Soroti Perbedaan Perhitungan Emisi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau