Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kompos dan Maggot BSF, Cara UB Ubah Limbah Peternakan Jadi Penggerak Ekonomi Desa

Kompas.com, 2 Januari 2026, 14:56 WIB
Sri Noviyanti

Editor


KOMPAS.com — Universitas Brawijaya (UB) mendampingi peternak di Desa Babadan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, dalam mengolah limbah peternakan menjadi produk bernilai ekonomi melalui penerapan sistem produksi sirkular.

Pendampingan tersebut dilakukan dengan mengubah limbah ternak menjadi kompos organik dan pakan alternatif berbasis maggot Black Soldier Fly (BSF). Program ini melibatkan dua mitra, yakni Kelompok Tani Lestari dan HIPAM Bina Mandiri.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Transformasi Teknologi dan Inovasi (PTTI) yang bertujuan mendorong hilirisasi hasil riset perguruan tinggi agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, sekaligus mendukung praktik pertanian dan peternakan berkelanjutan.

Baca juga: Dari Bank Sampah hingga Maggot, Cara Warga Kebon Melati Kurangi Limbah dari Rumah

Kelompok Tani Lestari sebelumnya menghadapi persoalan penumpukan kotoran kambing yang mencapai sekitar 8 kilogram (kg) per hari dan berpotensi mencemari lingkungan.

Melalui pendampingan UB, limbah tersebut diolah menggunakan teknologi fermentasi tertutup berbasis bioaktivator EM4 dengan pengendalian suhu, kelembaban, dan aerasi.

Untuk meningkatkan kualitas kompos, tim UB menambahkan bahan organik lokal seperti sekam kopi. Hasil olahan tersebut kemudian dikemas dalam ukuran 5 kg dan 10 kg dengan label “Kompos KOHE Kotoran Kambing” dan dipasarkan ke pelaku usaha pertanian dan hortikultura di sekitar wilayah Malang.

Baca juga: Kurangi Sampah, Warga Koja Patungan Rp 500 Juta Bangun Budidaya Maggot

Sementara itu, HIPAM Bina Mandiri memanfaatkan kotoran unggas sebagai media budidaya maggot BSF. Larva yang dihasilkan memiliki kandungan protein tinggi dan digunakan sebagai pakan tambahan ternak unggas.

Pemanfaatan maggot BSF dinilai mampu meningkatkan efisiensi pakan serta memperbaiki kualitas telur, yang ditandai dengan cangkang lebih kokoh dan warna kuning telur yang lebih pekat. Produk telur tersebut kemudian dipasarkan sebagai unggulan lokal.

Selain pendampingan teknis, UB juga memperkuat kapasitas manajerial mitra melalui penyusunan standar operasional prosedur (SOP), pengemasan produk, serta strategi pemasaran.

Baca juga: Perjuangan Warga Koja Dirikan Budidaya Maggot, Solusi Kreatif Kurangi Sampah di Jakarta

Sebagai informasi, tim pengabdi UB dipimpin oleh Dr Panji Deoranto, STP, MP, dengan dukungan Prof Dr Ir Nur Hidayat, MP, Ika Atsari Dewi, STP, MP, dan Dr Irida Novianti, SPt, MAgrSc. Sejumlah mahasiswa pascasarjana turut terlibat dalam pelaksanaan program.

Penerapan sistem peternakan sirkular tersebut berdampak pada penurunan volume limbah ternak di Desa Babadan dan membuka peluang peningkatan pendapatan mitra hingga 20–30 persen.

“Kami ingin menunjukkan bahwa limbah peternakan dapat dikelola menjadi sumber daya produktif yang bernilai ekonomi dan ramah lingkungan,” kata Dr Panji Deoranto dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Jumat (2/1/2026).

Ketua Kelompok Tani Lestari, Edi Santoso, menyatakan pengolahan limbah tersebut membantu mengurangi pencemaran sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru bagi peternak.

Hal senada disampaikan Ketua HIPAM Bina Mandiri, Hadi Triwibowo.

“Budidaya maggot tidak hanya mengurangi biaya pakan, tetapi juga meningkatkan kualitas telur yang kami produksi. Warga merasakan manfaat nyata, baik dari sisi ekonomi maupun lingkungan,”kata Hadi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau