Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pertanian Ancam Ekosistem Terbesar Dunia, 26 Persen Spesies Hilang

Kompas.com, 9 Januari 2026, 13:54 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Lebih dari 26 persen spesies di ekosistem terbesar dunia hilang akibat pertanian, menurut studi yang diterbitkan di Communications Earth & Environment

Para peneliti menyebutkan, pertanian dan pembangunan di perkotaan menggerus 148 juta hektar hotspot atau titik keanekaragaman hayati selama 24 tahun terakhir.

Baca juga:

Research Associate di Centre for Science and Environment (CSE) India, Shimali Chauhan mengatakan, wilayah yang kaya secara biologis saat ini kehilangan 70 persen vegetasi alaminya. Pada saat yang sama, pertanian kian meluas di daerah tropis dekat garis khatulistiwa.

"Akibatnya, sebagian besar keanekaragaman hayati unik dunia kini terdesak ke dalam habitat yang kecil dan terus menyusut sehingga perlindungan kawasan ini menjadi sangat krusial untuk mencegah kepunahan," ujar Shimali, dilansir dari Down to Earth, Jumat (10/1/2026).

Pertanian jadi ancaman ekosistem terbesar di dunia

Hilangnya habitat skala kecil masih bisa menghilangkan seluruh populasinya

Berdasarkan studi, lebih dari 26 persen spesies hilang akibat aktivitas pertanian. Simak selengkapnya.Freepik/wirestock Berdasarkan studi, lebih dari 26 persen spesies hilang akibat aktivitas pertanian. Simak selengkapnya.

Adapun studi ini dipimpin peneliti dari Chinese Academy of Sciences dan China Agricultural University, dengan kolaborator dari University of Cambridge, University of Maryland, serta University of Oklahoma.

Dalam risetnya, tim peneliti berfokus pada mamalia kecil, burung, dan amfibi yang hidup di wilayah geografis terbatas.

Peneliti menyebut, spesies-spesies tersebut sangat bersiko lantaran hilangnya habitat dalam skala kecil sekali pun bisa memusnahkan seluruh populasinya.

Spesies yang terancam itu berperan dalam penyerbukan, penyebaran biji, dan pengendalian hama.

Artinya, berkurangnya populasi dapat memicu efek domino yang mengganggu keseluruhan ekosistem.

"Studi ini menunjukkan bahwa pertanian di dalam hotspot keanekaragaman hayati telah menyebabkan penurunan kekayaan spesies sebesar 26 persen, yang berarti lebih sedikit jenis tumbuhan dan hewan yang dapat bertahan di lahan pertanian dibandingkan dengan habitat alami. Terjadi pula penurunan yang jelas dalam jumlah total individu satwa," jelas Shimali.

Baca juga:

Penyusutan populasi satwa liar

Sebanyak 26 persen spesies hilang akibat konversi lahan jadi pertanian

Berdasarkan studi, lebih dari 26 persen spesies hilang akibat aktivitas pertanian. Simak selengkapnya.pixabay Berdasarkan studi, lebih dari 26 persen spesies hilang akibat aktivitas pertanian. Simak selengkapnya.

Para peneliti menggunakan data survei satwa liar di seluruh dunia dalam database PREDICTS, lalu membandingkan daerah yang memiliki hutan dan padang rumput alami dengan wilayah yang diubah menjadi lahan pertanian.

Hasilnya, konversi lahan menjadi pertanian menyebabkan hilangnya 26 persen spesies, sedangkan jumlah hewan dan tumbuhan berkurang 12 persen. Keanekaragaman hayati dalam komunitas dengan ukuran populasi serupa ikut menyusut hampir sembilan persen.

"Hal ini lebih kentara di daerah tropis dan wilayah berkembang seperti Cerrado dan Hutan Atlantik di Amerika Selatan, Indo-Burma dan Sundaland di Asia Tenggara, serta sebagian wilayah timur dan selatan Afrika," kata Shimali.

Dengan menggabungkan peta perluasan lahan pertanian dengan persebaran vertebrata berukuran kecil, para peneliti mengidentifikasi 3.483 zona bahaya berisiko tinggi di seluruh wilayah keanekaragaman hayati global.

Secara keseluruhan, zona-zona ini mencakup sekitar 1.741 juta hektar area. Shimali mencatat, hampir 1.031 juta hektar dari zona berisiko tinggi terletak di luar kawasan lindung sehingga rentan terhadap konversi lahan pertanian.

"Wilayah yang menghadapi risiko terbesar meliputi Hutan Atlantik, Indo-Burma, Ghat Barat dan Sri Lanka, Sundaland, dan Himalaya Timur," ucap dia.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
Walhi: Berulangnya Kebakaran TPA karena Buruknya Tata Kelola Sampah
LSM/Figur
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
KLH: Potensi Ekonomi Karbon Bantu Industri Nikel Lakukan Dekarbonisasi
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau