Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Empat Negara Asia Ini Layak Jadi Referensi Implementasi Program WTE

Kompas.com, 13 Januari 2026, 17:48 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Sampah masih menjadi persoalan serius yang dihadapi oleh Indonesia. Dari 343 kabupaten/kota di Indonesia pada 2024, timbulan sampah tercatat mencapai 38,2 juta ton, namun baru 34,74 persen yang terkelola.

Laporan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dalam Kajian Lingkungan Hidup Strategis RPJPN 2025–2045 memproyeksikan, volume sampah nasional mencapai 63 juta ton pada 2025 dan meningkat menjadi 82,2 juta ton pada 2045.

Untuk mengatasi masalah sampah, pemerintah telah menginisiasi program Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) melalui Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.

Baca juga: 6 Cara Sederhana Mengurangi Food Waste di Rumah

Untuk mendukung langkah tersebut, Danantara melakukan investasi pada proyek waste-to-energy (WtE) dengan teknologi mutakhir.

Dalam Investment Forum 2025 akhir tahun 2025 lalu, Managing Director Investment Danantara Stefanus Ade Hadiwidjaja mengatakan, mengacu data Kementerian Lingkungan Hidup, program WtE dapat menyelesaikan 10 persen masalah sampah di Indonesia.

Berikut empat negara Asia yang sudah lebih dulu mengimplementasikan program WtE sebagai solusi mengelola sampah di perkotaan. Siapa saja negara tersebut dan bagaimana mereka mengolah sampah menjadi energi listrik bagi kebutuhan sehari-hari warganya?

Singapura

Negara yang memiliki keterbatasan lahan ini sudah memiliki tiga proyek WtE, salah satunya adalah Tuas South Incineration Plant yang menjadi fasilitas pengelolaan sampah terbesar di negara tersebut. Memiliki kemampuan mengolah 3 ribu ton sampah per hari, fasilitas ini mampu menghasilkan 80 megawatt (MW) listrik.

Proyek lainnya adalah TuasOne WTE Plant. Mulai dioperasikan pada 2021, fasilitas ini memiliki kapasitas membakar 3.600 ton setiap hari dengan menghasilkan 120 MW listrik. Fasilitas canggih ini juga menunjukkan bagaimana teknologi modern mampu mengolah sampah dengan emisi minimal yang dihasilkan. Berikutnya adalah Keppel Seghers Tuas.

Pengelolaan WTE ini menampilkan model kemitraan antara publik-swasta yang sukses. Menangani 800 ton sampah setiap hari, fasilitas ini menghasilkan 22 MW melalui struktur pembiayaan yang cukup inovatif.

Jepang

Merupakan salah satu negara paling intensif dan terdepan dalam menjalankan proyek WtE di Asia, negara ini memiliki dua fasilitas WtE, yakni Hikarigaoka Plant dan Toshima Plant. Pada Hikarigaoka Plant yang berada di Tokyo, volume sampah yang diproses per harinya sebanyak 300 ton dengan turbin uap 9 MW.

Baca juga: Sampah Campur Aduk, Biaya Operasional Waste to Energy Membengkak

Pembangkit ini mampu menyediakan listrik dan kebutuhan pemanasan untuk distrik di kota Tokyo yang menjadi salah satu populasi penduduk terpadat di dunia.

Fasilitas WtE lainnya adalah Toshima Plant yang juga berada di Tokyo. Pengelolaan sampah di tempat ini memiliki kapasitas 400 ton per hari dan mampu menghasilkan listrik 7,8 MW serta membantu memasok listrik untuk 20.000 rumah.

Korea Selatan

Seperti halnya Jepang, Korea Selatan menjadi salah satu contoh yang mampu mengelola sampah perkotaan secara efektif dengan tingkat emisi yang rendah. Di negara ini, setidaknya ada lebih dari 35 pembangkit WtE termal beroperasi di bawah standar pengelolaan lingkungan yang ketat.

Korea Selatan memperlihatkan bagaimana pengelolaan sampah secara terintegrasi dalam bentuk jaringan mampu menjadi solusi sekaligus suplai kebutuhan listrik yang membuatnya telah mendapatkan respons publik secara positif.

Korea Selatan bersama Jepang menunjukkan keunggulannya dalam menangani aliran limbah dengan kadar air tinggi dan kandungan organik tinggi, yang hampir identik dengan komposisi limbah kota di Indonesia. Instalasi pengelolaan sampah yang ketat dan berada di kota-kota besar memberikan contoh langsung untuk konteks perkotaan seperti Indonesia.

Tiongkok

Tiongkok telah muncul sebagai pemimpin global dengan ratusan pabrik pengolahan limbah menjadi energi (WtE) yang tersebar di berbagai kota selama 15 tahun terakhir. Peluncuran cepat ini merupakan salah satu respons paling agresif di dunia terhadap lonjakan limbah perkotaan yang mampu memproses volume besar limbah padat kota untuk pembangkitan listrik.

Baca juga: Danantara Bakal Review Proyek Waste to Energy Sebelum Kucurkan Dana ke Pemda

Tiongkok Cina menunjukkan bahwa ekonomi berkembang dapat mencapai skala melalui komitmen pemerintah yang kuat, regulasi yang disederhanakan, dan mekanisme pembiayaan strategis. Beberapa pabrik dibangun secara bersamaan di berbagai kota, menciptakan efisiensi pengadaan dan manfaat transfer teknologi.

Tiongkok dengan populasi penduduknya yang tinggi dan laju urbanisasi yang besar telah membuktikan kepada dunia dan juga Indonesia bahwa semua itu bukan menjadi masalah dalam mengolah sampah. Sebaliknya, dengan perencanaan strategis Tiongkok mampu mengubah limbah sampah menjadi sumber energi listrik bagi kehidupan warganya.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total 'Great Barrier Reef' Akibat El Nino
Ahli Ingatkan Ancaman Kerusakan Total "Great Barrier Reef" Akibat El Nino
Pemerintah
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Dari Ibu Hamil hingga Remaja, Program PASTI Bangun Ekosistem Pencegahan Stunting di Kubu Raya
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau