Menurut Herlina, peningkatan jumlah temuan flora dan fauna menunjukkan bahwa pengelolaan kolaboratif yang dijalankan telah memberikan dampak positif, baik dari sisi lingkungan, ekonomi, maupun sosial-budaya.
“Pengelolaan kolaboratif ini membuktikan bahwa kepentingan ekonomi, lingkungan, dan sosial-budaya dapat berjalan berdampingan, termasuk dalam menjaga habitat orangutan yang berada di luar kawasan konservasi,” ujarnya.
Selain konservasi, pengelolaan Wehea–Kelay juga mendorong pemanfaatan hasil hutan bukan kayu melalui inovasi bioprospeksi. Dari kajian terhadap 60 jenis tumbuhan hutan yang terinspirasi dari pakan orangutan, sebanyak 11 jenis dinilai berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi.
Baca juga: Kawasan Konservasi Dunia Belum Maksimal Lindungi Biodiversitas, Apa Sebabnya?
Jenis tumbuhan tersebut mengandung senyawa fitokimia yang berpotensi dimanfaatkan untuk kesehatan, seperti antidiabetes, antikanker, dan sifat sitotoksik.
“Potensi medisinal dan nutrisi dari tumbuhan ini tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan manusia, tetapi juga membuka peluang pengembangan ekonomi masyarakat melalui bioprospeksi,” kata Herlina.
Saat ini, pengelolaan bentang alam Wehea–Kelay melibatkan 23 pihak, mulai dari pemerintah, dunia usaha, masyarakat adat, perguruan tinggi, lembaga riset, hingga organisasi masyarakat sipil. Dari sektor swasta, sebagian besar pemegang konsesi telah mengantongi sertifikat Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Forest Stewardship Council (FSC).
Masyarakat adat Wehea juga berperan penting dalam menjaga hutan lindung di dalam kawasan tersebut.
Baca juga: Industri Olahraga Global Bisa Jadi Penggerak Konservasi Satwa Liar
Direktur Center for Transdisciplinary and Sustainability Sciences IPB University, Damayanti Buchori, menilai pengelolaan Wehea–Kelay layak menjadi rujukan nasional.
“Pendekatan kolaboratif berbasis bukti ini menunjukkan bahwa konservasi dapat berjalan seiring dengan kepentingan ekonomi. Model seperti ini perlu diterapkan di wilayah lain, terutama di tengah meningkatnya tekanan alih fungsi lahan,” ujar Damayanti.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya