Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

IWIP Target Pangkas 4 Juta CO2 per Tahun lewat PLTS hingga Truk Listrik

Kompas.com, 16 Januari 2026, 11:37 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

MALUKU UTARA, KOMPAS.com - PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) menargetkan pengurangan empat juta karbon dioksida (CO2) per tahun dari operasional tambang nikel di kawasan industri Weda Bay, Halmahera Tengah, Maluku Utara.

General Manager Health, Safety and Environment (HSE) PT IWIP, Iwan Kurniawan menyebutkan, upaya itu dilakukan melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas hingga dua gigawatt (GW).

Baca juga: 

"Karena kami punya niat untuk mengurangi emisi, dan kami punya niat mau bikin solar cell atau power cell kami exercise sekarang. Jadi semua di bangunan-bangunan, dipasang termasuk di parkiran saat ini (kapasitasnya) sekitar 4,5 megawatt," kata Iwan dalam diskusi di Wisma Tsingshan, IWIP, Jumat (16/1/2026).

IWIP targetkan kurangi 4 juta CO2

Jalankan inisiatif lingkungan dan berencana bangun PLTA

Selain tenaga surya, IWIP juga berencana membangun pembangkit listrik tenaga angin dengan kapasitas hingga 500 megawatt (MW).

Meski demikian, Iwan mengakui kebutuhan listrik kawasan industri masih didominasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Dia merincikan, enam unit PLTU masing-masing berkapasitas 250 MW, sedangkan delapan unit lainnya berkapasitas 380 MW dengan total kapasitas empat GW.

"Tetapi namanya usaha, berjalan perlahan nanti kalau sudah terwujud itu (energi terbarukan) akan mengurangi penggunaan batu bara," imbuh dia.

Truk listrik di IWIP, Kamis (15/1/2026). KOMPAS.com/ZINTAN Truk listrik di IWIP, Kamis (15/1/2026).

IWIP menyebut telah menjalankan berbagai inisiatif lingkungan lainnya berupa daur ulang 100 persen air di dalam kawasan, pengelolaan limbah padat, serta program transplantasi terumbu karang.

Lainnya, IWIP menggunakan truk listrik untuk mengangkut hasil tambang nikel.

"Di area tambang juga kami punya area biodiversity (keanekaragaman hayati), ada program reklamasi dalam bentuk lain yang jauh lebih besar. Kami melakukan biodiversity atau penanaman di daerah alian sungai lebih dari 40.000 hektar," tutur Iwan.

Baca juga:

Bangun pabrik pengelolaan limbah B3

Sejauh ini, perusahaan masih mengangkut sebagian besar limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) ke luar wilayah.

Rencananya, akan dibangun fasilitas pengolahan limbah B3 di dalam kawasan industri agar pengelolaannya dapat dilakukan secara mandiri.

Pada sisi rantai pasok, Iwan menambahkan bahwa seluruh produk yang dihasilkan IWIP memenuhi standar internasional, termasuk ISO 9001 untuk mutu, ISO 14001 untuk lingkungan, serta ISO 45001 untuk keselamatan dan kesehatan kerja.

Fero nikel di kawasan IWIP, Maluku Utara, Kamis (15/1/2026). KOMPAS.com/ZINTAN Fero nikel di kawasan IWIP, Maluku Utara, Kamis (15/1/2026).

Sebagai informasi, IWIP resmi ditetapkan sebagai kawasan percontohan pengelolaan kawasan industri nikel berkelanjutan melalui kerja sama Tsingshan Holding Group dengan United Nations Industrial Development Organization (UNIDO).

Presiden Direktur PT IWIP, Kevin He menyatakan, penetapan tersebut adalah momentum penting guna memperkuat penerapan standar keberlanjutan di area industri.

"Dengan memastikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola menjadi bagian dari praktik operasional. Ini adalah bagian dari upaya memposisikan Indonesia sebagai pemain kunci dalam rantai nilai industri nikel global yang berkelanjutan,” papar He dalam konferensi di Wisma Tsingshan, Kamis (15/1/2026).

Baca juga: 

Penetapan tersebut merujuk pada Joint Declaration on the Sustainable Development of the Nickel Industry Chain yang disepakati Tsingshan Holding Group dan UNIDO pada pertengahan November 2025, tepatnya Senin (24/11/2025), di Riyadh, Arab Saudi, bertepatan dengan Konferensi Umum UNIDO ke-21 dan Global Industry Summit.

Tsingshan, UNIDO, dan IWIP lantas menargetkan peningkatan standar pengelolaan kawasan industri sekaligus mendorong integrasi aspek Environmental, Social, and Governance (ESG).

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau