Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

KKP Masih Hitung Nilai Ekonomi Karbon dari Ekosistem Laut

Kompas.com, 28 Januari 2026, 15:57 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tengah mengitung Nilai Ekonomi Karbon (NEK) di sektor kelautan untuk memasuki pasar karbon.

Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut, Hendra Yusran Siry mengatakan, hal itu untuk memastikan perdagangan karbon dari sektor kelautan memiliki integritas dan kualitas tinggi sebelum masuk ke pasar nasional dan global.

Baca juga:

"Kami sekarang sedang melaksanakan terkait dengan cara menghitungnya karena masuk ke pasar karbon tidak cukup dengan kita punya hutan terus kita jual, harus dihitung, baseline-nya berapa, kemudian kita mau mencapainya berapa, upaya mitigasinya apa saja yang akan dilakukan di kawasan tersebut. Dengan itu baru bisa dikualifikasi dan dijual," ujar Hendra dalam konferensi pers di kantor KKP, Jakarta Pusat, Rabu (28/1/2026).

Nilai ekonomi karbon dari suatu kawasan cukup bervariasi. Hendra mencatat, ada kawasan yang  bernilai lima dollar Amerika Serikat (AS, sekitar Rp 83.540) per hektar per tahun dan 400 dollar AS (sekitar Rp 6,68 juta) per hektar per tahun, tergantung kualitas pengelolaan serta mekanisme pasarnya.

KKP kembangkan hitungan penyerapan karbon ekosistem laut

Lamun menjadi penyerap karbon dan indikator kesehatan ekosistem laut

KKP saat ini menghitung Nilai Ekonomi Karbon di sektor kelautan untuk memasuki pasar karbon. Dok. Wikimedia Commons/CofreDeSofre KKP saat ini menghitung Nilai Ekonomi Karbon di sektor kelautan untuk memasuki pasar karbon.

Saat ini, KKP mengembangkan penghitungan penyerapan karbon pada beberapa ekosistem laut salah satunya padang lamun.

Hendra menyebutkan, padang lamun merupakan tumbuhan laut berdaun yang berperan penting sebagai penyerap karbon dan indikator kesehatan ekosistem laut.

"Kami juga mengacu kepada yang disebut dengan Intergovernmental Panel on Climate Change, jadi ada panel internasional yang dibentuk dari UNFCCC juga melakukan cara menghitungnya, cara kita mengkualifikasinya lebih baik," tutur dia.

Lainnya, menghitung potensi perdagangan karbon di ekosistem mangrove.

Isu pasar karbon menjadi salah satu topik yang dibahas dalam World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, beberapa waktu lalu.

WEF mendukung usulan Indonesia menyelenggarakan Ocean Impact Summit (OIC), salah satunya untuk membahas perdagangan karbon seiring meningkatnya kebutuhan dunia terhadap instrumen mitigasi perubahan iklim.

Oleh karena itu, Hendra menyebut, KKP mulai melakukan pengecekan penilaian mangrove oleh pihak ketiga.

"Sedang berproses saat ini, kami mencoba salah satu ekosistem mangrove kita mulai dicek. Biasanya ada lembaga penilainya, dan kami harapkan nanti bisa menghasilkan suatu ekosistem yang dalam kutip dijual dengan high integrity and high quality market," ucap Hendra.

Baca juga:

KKP saat ini menghitung Nilai Ekonomi Karbon di sektor kelautan untuk memasuki pasar karbon. KOMPAS.COM/ROSYID A AZHAR KKP saat ini menghitung Nilai Ekonomi Karbon di sektor kelautan untuk memasuki pasar karbon.

Di sisi lain tata kelola dan akses air tawar ikut menjadi sorotan dalam pertemuan di Davos. Menurut Hendra, pembahasan ke depan akan mengarah pada skema pendanaan dan kemitraan.

Forum Davos juga mengangkat perlindungan laut dan ekonomi biru, yang menjadi agenda besar pembahasan global. KKP ingin investasi ke depan masuk ke sektor ekonomi biru.

Arah investasi diharapkan mendukung percepatan tanpa mengandalkan eksploitasi berlebihan.

“Tidak dilakukan dengan upaya pengaturan yang berlebihan tetapi juga lebih mementingkan keseimbangan,” ucap dia. 

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Industri Tambang Indonesia Mulai Adopsi Teknologi Rendah Emisi
Swasta
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Kemendagri Dorong Tata Kelola Wilayah Berkelanjutan lewat Percepatan Batas Desa
Pemerintah
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah Dorong Aset Digital Dukung Pembiayaan Berkelanjutan di Sektor Riil
Pemerintah
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
Project R&P Balongan Edukasi Mahasiswa Pentingnya Jaga Keseimbangan Operasional Kilang dan Kelestarian Alam
BUMN
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Biaya Teknologi AI Diperkirakan Terus Membengkak hingga 2027
Pemerintah
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Dampak El Nino: Agustus 2026 Jadi Bulan Terpanas dalam Sejarah Bumi
Pemerintah
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Vape Sekali Pakai Bakal Jadi Ancaman Bahaya Lingkungan Baru
Pemerintah
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Ancaman 2050: Setengah Penghasilan Keluarga Miskin Habis untuk Makan
Pemerintah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Raih 2 TOP GRC Awards 2026, Ethos Dorong Bisnis Berdampak bagi Ekonomi Wilayah
Swasta
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
Global Ethics Forum 2026, Menguatkan Etika dalam Pertumbuhan Bisnis
LSM/Figur
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi 'Open Dumping' Belum Efektif
Pakar UI: Kebakaran TPA Berulang Tunjukkan Transformasi "Open Dumping" Belum Efektif
LSM/Figur
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Awal Pembentukan Ekosistem Baru
LSM/Figur
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
Potensi Unik Mikroba Asli Tanah Sulawesi, Bisa Bantu Pulihkan Lahan Bekas Tambang
LSM/Figur
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
SIG Dorong Penggunaan Bahan Bakar Alternatif untuk Tekan Emisi Industri Semen
Pemerintah
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Rantai Dingin Jadi Kunci Kurangi Ikan Terbuang, Energi Bersih Didorong untuk Dimanfaatkan
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau