Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Inggris Berencana Pangkas Pendanaan Iklim untuk Negara Berkembang

Kompas.com, 7 Februari 2026, 20:13 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Inggris berencana memangkas pendanaan iklim untuk berbagai negara berkembang dari 11,6 miliar poundsterling (setara Rp 232 triliun) selama lima tahun terakhir menjadi 9 miliar poundsterling (sekitar Rp 180 triliun) dalam lima tahun mendatang.

Pemangkasan bantuan iklim yang diberlakukan Kementerian Keuangan Inggris menuai kritikan dari kepala intelijen Inggris.

Pihaknya menilai keruntuhan ekosistem besar dunia seperti Hutan Amazon atau Hutan Kongo dapat berdampak serius terhadap keamanan nasional Inggris, termasuk lonjakan harga pangan dan meningkatnya risiko konflik.

"Untuk negara-negara yang rentan, pendanaan iklim dari Inggris bukanlah sekadar angka abstrak dalam anggaran—melainkan penentu antara ketangguhan dan bencana. Pemangkasan dana pada saat seperti sekarang akan merenggut nyawa dan mata pencaharian," kata Direktur Lembaga Power Shift Africa, Mohamed Adow dilansir dari The Guardian, Sabtu (7/2/2026).

Baca juga: Pendanaan Hijau Diproyeksikan Naik Tahun 2026, Asal..

Dalam Conference of the Parties (COP30) Inggris dan negara kaya lain berjanji melipatgandakan pendanaan iklim global untuk negara-negara miskin menjadi 300 miliar dollar (Rp 1.680 triliun) per tahun pada 2035 sebagai pengakuan atas bencana yang terjadi akibar krisis iklim.

Adow berpandangan, apabila Ingris melanggar komitmen pendanaan itu maka bukan tidak mungkin negara lain bakal mengikuti langkah tersebut.

"Hal itu memberi celah bagi negara lain untuk melakukan hal yang sama, dengan konsekuensi yang menghancurkan bagi aksi iklim global," tutur dia.

Di samping pemotongan anggaran utama, The Guardian juga menyebut adanya upaya dari kalangan pegawai negeri sipil untuk mengubah label proyek-proyek yang ada. Misalnya di bidang pendidikan dan kesehatan agar dapat dimasukkan sebagai pendanaan iklim.

Baca juga: Trump Tarik Amerika Serikat dari PBB, Pendanaan Organisasi Lingkungan Dihentikan

Sejumlah pejabat mengeklaim hingga 30 persen bantuan ke negara kurang berkembang dapat dikategorikan sebagai pendanaan iklim, meskipun proyek-proyek tersebut dinilai memiliki dampak yang minim atau bahkan yang tidak berkaitan langsung dengan krisis iklim.

Adapun Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper tidak menghadiri COP30 di Brasil pada November 2025 dan baru menerima pengarahan besar terkait isu iklim pada Desember lalu.

Sikap tersebut berbeda dengan mantan Menteri Luar Negeri Inggris, David Lammy yang justru aktif menghadiri COP, menyampaikan pidato penting tentang iklim, serta menunjuk utusan khusus iklim dan alam.

Pendanaan untuk konservasi alam juga terancam dipangkas. Perdebatan di antara pejabat Inggris masih berlangsung terkait masa depan alokasi sekitar 3 miliar poundsterling dari anggaran International Climate Finance (ICF) untuk program berbasis alam. Proyek unggulan seperti Blue Planet Fund diperkirakan tetap dipertahankan, namun kemungkinan anggarannya bakal ikut berkurang.

Sebelumnya, Uni Eropa juga mempertimbangkan perubahan strategi diplomasi terkait mitigasi dan adaptasi perubahan iklim pasca COP30.

Ini dikarenakan Uni Eropa kesulitan menggalang dukungan negara anggota COP untuk mempercepat pemangkasan emisi dan pemanasan global yang lebih ambisius.

“Uni Eropa semakin kesulitan menggalang dukungan internasional untuk menerjemahkan tingkat ambisi tinggi menjadi hasil perundingan yang konkret,” demikian tertulis dalam dokumen Uni Eropa dilansir dari Reuters, Kamis (5/2/2026).

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau