Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ambisi Korsel: 60 Persen Motor Pengirim Barang Wajib Listrik pada 2035

Kompas.com, 7 Februari 2026, 20:30 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pemerintah Korea Selatan menyatakan akan mempercepat penggantian sepeda motor pengirim barang bertenaga bensin dengan kendaraan roda dua listrik.

Pemerintah Korea Selatan menargetkan lebih dari 60 persen penggantian motor kurir listrik itu bisa terealisasikan pada 2035, seiring upaya pemerintah dalam menekan polusi udara perkotaan, kebisingan, dan emisi gas rumah kaca.

Kementerian Lingkungan Hidup, Energi, dan Iklim sendiri telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan platform pengiriman, operator logistik, produsen motor listrik, dan perusahaan penyewaan.

Kerja sama ini bertujuan untuk mengubah pasar pengiriman yang saat ini didominasi oleh motor bermesin pembakaran internal (BBM) menuju ekosistem berbasis listrik.

Melansir Eco Business, Jumat (6/2/2026) pemerintah dan mitra industri menyatakan bahwa mereka akan bekerja sama untuk meningkatkan performa motor listrik serta kenyamanan pengisian daya. Dua faktor itu banyak disebut oleh para pengendara sebagai hambatan utama dalam beralih ke motor listrik.

Baca juga: Australia hingga ADB Danai TBS untuk Kembangkan Motor Listrik

Sementara untuk mengatasi kekhawatiran terkait jarak tempuh yang terbatas dan waktu pengisian daya yang lama, otoritas berencana untuk memperluas infrastruktur Stasiun Penukaran Baterai (BSS), yang memungkinkan pengendara mengganti baterai yang habis dengan baterai yang terisi penuh hanya dalam hitungan menit.

Pemerintah juga akan mendukung transisi ini melalui subsidi pembelian kendaraan roda dua listrik dan langkah-langkah administratif untuk memprioritaskan pemasangan fasilitas pengisian daya di lahan publik serta instansi pemerintah.

Di sisi lain, perusahaan pengiriman akan mempromosikan adopsi motor listrik di kalangan pengendara, sementara produsen akan fokus pada pengembangan model berperforma lebih tinggi yang dirancang khusus untuk keperluan pengiriman.

Ciptakan Kota yang Lebih Tenang

Menteri Iklim Kim Sung-hwan mengatakan inisiatif penggantian motor pengirim barang ini akan membantu mengurangi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan kondisi kehidupan perkotaan.

"Melalui kesepakatan tersebut, kami akan bekerja sama dengan industri pengiriman untuk memperluas penggunaan kendaraan roda dua listrik, mengurangi emisi, dan menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih tenang,” kata Kim.

Kementerian tersebut mengatakan pihaknya mengharapkan elektrifikasi kendaraan pengiriman akan berkontribusi pada pengurangan emisi di sektor transportasi sekaligus membantu mengurangi keluhan kebisingan di daerah pemukiman perkotaan yang padat.

Dorongan elektrifikasi ini merupakan bagian dari strategi iklim Korea Selatan yang lebih luas, yang berfokus pada pencapaian netralitas karbon pada tahun 2050 dan pemangkasan emisi secara tajam di sektor ketenagalistrikan dan transportasi.

Baru-baru ini, Korea Selatan memperkuat ambisi iklim jangka menengahnya, dengan menargetkan pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 53 persen hingga 61 persen pada tahun 2035 dibandingkan dengan tingkat emisi tahun 2018. Angka ini lebih tinggi daripada target pengurangan tahun 2030 yang ditetapkan sebelumnya.

Baca juga: Ketika Motor Listrik Jadi Andalan Ojol untuk Cari Rezeki

Kendati demikian batu bara tetap menjadi salah satu sumber emisi terbesar di Korea Selatan, yang menyumbang sekitar sepertiga dari total produksi listrik dalam beberapa tahun terakhir, meskipun pangsanya telah turun secara signifikan selama satu dekade terakhir.

Pada KTT Iklim COP30 di akhir tahun 2025, Korea Selatan berjanji untuk menghapus secara bertahap sebagian besar pembangkit listrik tenaga batu baranya pada tahun 2040 dan mempensiunkan sekitar 40 dari 61 unit batu bara yang ada, seiring bergabungnya mereka ke dalam Aliansi Powering Past Coal.

Jadwal penutupan untuk pembangkit yang tersisa diharapkan akan difinalisasi setelah peninjauan ekonomi dan lingkungan lebih lanjut.

Peta jalan dekarbonisasi jangka panjang pemerintah juga memproyeksikan pengurangan penggunaan bahan bakar fosil secara tajam. Batu bara dan gas diperkirakan akan memainkan peran yang jauh lebih kecil pada pertengahan abad ini di bawah skenario netralitas karbon.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Rasio SPKLU dan Kendaraan Listrik 1:47, Pemerintah Relaksasi Aturan Investasi Asing
Pemerintah
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
Dekarbonisasi Rantai Nilai, IBC Akan Pasang PLTS Mulai 2027 Saat Daur Ulang Baterai Masih Terkendala Regulasi
BUMN
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Harita Nickel Turunkan 2.600 Terumbu Buatan di Pesisir Pulau Obi, Datangkan Banyak Jenis Ikan
Swasta
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Sepertiga Sampah Plastik Dunia Tak Terkelola dengan Baik pada 2026
Pemerintah
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Aksi Terpadu Tangani Iklim dan Polusi Udara Berikan Keuntungan 15 Kali Lipat
Pemerintah
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
Impor Batu Bara Metalurgi Naik, Indonesia Jadi Salah Satu Pendorong Pasar Global
LSM/Figur
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
PBB: Kebakaran Hutan dan Gelombang Panas Hambat Perbaikan Kualitas Udara Dunia
Pemerintah
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Harita Nickel Luncurkan Buku mengenai Pulau Obi dan Keanekaragaman Ikan
Swasta
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Dampak El Nino: Terusan Panama Hadapi Krisis Air dan Penurunan Jalur Pelayaran
Pemerintah
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Keanekaragaman Pohon Jadi Perisai Hutan Hadapi Krisis Iklim
Pemerintah
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Perkembangan AI di Asia Pasifik Pesat, tapi Masih Ada Kesenjangan
Pemerintah
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
Abu Vulkanik Ganggu Proses Fotosintesis Tanaman, Berisiko Gagal Panen Jika Terpapar Terlalu Lama
LSM/Figur
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
Perempuan Makin Didorong Terlibat dalam Transisi Energi Indonesia
LSM/Figur
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
Cavendish Rentan Penyakit Layu Fusarium, RI Bisa Ubah Pisang Liar Jadi Varietas Unggul Tahan Krisis Iklim
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau