Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Donald Trump Sebut Krisis Iklim Penipuan, Ilmuwan Ingatkan Dampaknya pada Kesehatan

Kompas.com, 15 Februari 2026, 15:47 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mencabut temuan yang menyatakan perubahan iklim jadi ancaman bagi kesehatan masyarakat. Fakta berbagai studi ilmiah yang terdokumentasi dan dapat diukur itu disebut Trump sebagai "penipuan".

Padahal banyak studi ilmiah yang menemukan korelasi antara peningkatan penyakit dan kematian di dunia yang memanas, dengan ribuan kasus per tahun.

Baca juga:

Salah satu yang terpenting adalah temuan dari Badan Perlindungan Lingkungan (Environmental Protection Agency atau EPA) tahun 2009, di bawah pemerintahan mantan Presiden AS Barack Obama. Temuan itu telah menjadi landasan hukum bagi hampir semua peraturan untuk memerangi pemasanan global.

“Sungguh sulit dipercaya bahwa pemerintah mencabut temuan tentang ancaman kepunahan, ini sama saja dengan bersikeras bahwa dunia itu datar atau menyangkal keberadaan gravitasi,” ujar seorang dokter dan profesor emeritus kesehatan masyarakat di Universitas Washington, Howard Frumkin, dilansir dari AP, Sabtu (14/2/2026).

Trump cabut temuan tentang perubahan iklim di AS

Trump anggap kematian akibat perubahan iklim sebagai penipuan

Pemerintahan Donald Trump cabut temuan tentang perubahan iklim mengancam kesehatan, serta menjulukinya sebagai penipuan.canva.com Pemerintahan Donald Trump cabut temuan tentang perubahan iklim mengancam kesehatan, serta menjulukinya sebagai penipuan.

Ribuan studi ilmiah sudah meneliti perubahan iklim dan dampaknya terhadap kesehatan manusia dalam lima tahun terakhir.

Mayoritas studi ilmiah menunjukkan bahwa perubahan iklim semakin berbahaya bagi manusia, dengan ribuan orang telah meninggal dan lebih banyak lagi yang jatuh sakit dalam puluhan tahun terakhir.

Sebagai contoh, studi tentang tren kenaikan jumlah kematian akibat panas selama periode tahun 1999-2023. Atau, studi tahun 2021 tentang sepertiga kematian akibat panas disebabkan perubahan iklim terkait pembakaran batu bara, minyak, dan gas alam.

Berdasarkan data penelitian PubMed dari Perpustakaan Kedokteran Nasional, ada lebih dari 29.000 studi yang meneliti kolerasi antara iklim dan kesehatan selama lebih dari 15 tahun.

Bahkan, lebih dari 5.000 studi itu secara khusus meneliti AS. Lebih dari 60 pesen dari studi-studi tersebut telah dipublikasikan dalam lima tahun terakhir.

“Berbagai penelitian mendokumentasikan bahwa perubahan iklim membahayakan kesehatan, karena satu alasan sederhana: Itu benar,” tutur Frumkin, yang juga mantan direktur Pusat Kesehatan Lingkungan Nasional yang ditunjuk oleh mantan Presiden George W. Bush.

Dalam sebuah acara pada hari Kamis di Gedung Putih, AS, Trump membantah hal itu.

"Ini tidak ada hubungannya dengan kesehatan masyarakat. Ini semua adalah penipuan, penipuan besar-besaran," ucap Trump.

Pemerintahan Donald Trump cabut temuan tentang perubahan iklim mengancam kesehatan, serta menjulukinya sebagai penipuan.FABRICE COFFRINI Pemerintahan Donald Trump cabut temuan tentang perubahan iklim mengancam kesehatan, serta menjulukinya sebagai penipuan.

Seorang dokter yang memimpin Pusat Penelitian Kesehatan, Energi, dan Lingkungan di Universitas Wisconsin-Madison, Jonathan Patz mengatakan, risiko kesehatan memang meningkat karena perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia sudah terjadi.

Patz dan Frumkin mengonfirmasi bahwa memang sebagian besar studi tentang dampak buruk perubahan iklim terhadap kesehatan sudah ditinjau oleh rekan sejawat.

Studi yang ditinjau oleh rekan sejawat dianggap sebagai standar dalam sains karena para ahli lain meneliti data, bukti, dan metode yang digunakan, serta mempertanyakan teknik dan kesimpulan.

Sejumlah studi tersebut mengkaji aspek kesehatan yang berbeda. Beberapa lainnya menganalisis kematian yang tidak akan terjadi tanpa perubahan iklim atau meneliti penyakit dan cedera yang tidak menyebabkan kematian.

Angka akhir dari kesimpulan mereka tidak sepenuhnya cocok karena para peneliti menggunakan periode waktu, metode perhitungan, dan aspek kesehatan spesifik yang berbeda.

Studi-studi tersebut juga meneliti kesenjangan di antara berbagai kelompok masyarakat dan variasi lokasinya.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Kerusakan Tanah Dunia Mengkhawatirkan, PBB Soroti Solusi yang Belum Maksimal
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau