KOMPAS.com - Presiden Amerika Serika (AS), Donald Trump membantah bahwa dunia sedang memanas, dengan membenturkannya dengan kenyataan saat itu.
Dia menyebut mayoritas wilayah di Negeri Paman Sam menghadapi cuaca dengan suhu rendah yang menusuk, es berbahaya, dan salju lebat akibat dahsyatnya badai musim dingin.
Di dalam akun Truth Social miliknya, Trump menyebut, para pendukung dan ilmuwan sebagai 'pemberontak lingkungan', mengacu pada suhu dingin yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Belasan ilmuwan menilai klaim Trump keliru karena musim dan cuaca dingin akan tetap terjadi ketika dunia menjadi lebih hangat.
Baca juga: AS dan Venezuela, Ekstraksi Minyak Ekstensif Tingkatkan Emisi Metana
Meski cuaca dingin terjadi di AS bagian timur, para ilmuwan menegaskan bahwa sebagian besar wilayah dunia lain sudah semakin menghangat. Mereka menggaribawahi pentingnya membedakan antara cuaca harian dan lokal, dengan krisis iklim jangka panjang di seluruh dunia.
Catatan pemerintah AS menunjukkan bahwa cuaca pernah jauh lebih dingin di masa lalu.
“Unggahan media sosial ini memuat sejumlah besar bahasa provokatif dan pernyataan yang tidak akurat secara faktual dalam sebuah pernyataan yang sangat singkat. Pertama-tama, pemanasan global terus berlanjut—dan bahkan telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir," ujar ilmuwan iklim Daniel Swain dari California Institute for Water Resources, dilansir AP dikutip Selasa (27/1/2026).
Ilmuwan iklim dari Universitas Princeton, Gabriel Vecchi membantah Trump yang mempertanyakan eksistensi pemanasan global dan menyebutnya justru sedang terjadi.
Apalagi, 2023-2025 menjadi tahun-tahun terpanas yang pernah tercatat, dengan peningkatan suhu yang jauh lebih cepat daripada sebelumnya.
Secara global, suhu musim dingin — pada bulan Desember, Januari, dan Februari — telah meningkat sebesar 1,3 derajat Fahrenheit (0,72 derajat Celsius) sejak tahun 1995.
Berdasarkan catatan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional, dua musim dingin sebelumnya malah menjadi yang terpanas.
AS memang mengalami pemanasan lebih lambat ketimbang negara-negara lain di dunia atau sekitar setengah derajat Fahrenheit (0,28 derajat Celsius) sejak tahun 1995. Bulan Desember lalu merupakan yang terpanas kelima dalam catatan secara global dan di AS sendiri.
AS hanya 2 persen dari luas bumi. Peta suhu global menunjukkan dua pertiga wilayah AS jauh lebih dingin dari biasanya, seperti Rusia. Namun, Australia, Afrika, Arktik, Antartika, Asia, Kanada, Greenland, dan sebagian besar Eropa lebih hangat dari biasanya.
“Meskipun Bumi menghangat, hari-hari dingin dan musim dingin yang dingin diproyeksikan tidak akan hilang, hanya jumlahnya akan berkurang,” ucap ilmuwan iklim Universitas Princeton, Michael Oppenheimer.
Baca juga: AS Keluar dari UNFCCC, RI Perlu Cari Alternatif Pembiayaan Transisi Energi
Selain itu, apa yang terjadi beberapa hari selama periode singkat bukanlah indikasi untuk keseluruhan kondisi di AS atau pun bumi dalam jangka panjang. Wilayah AS bagian timur dilanda musim dingin lebih ekstrem karena pemanasan Arktik, yang menjadi bagian dari krisis iklim.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya