Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Trump Tarik AS dari Berbagai Komitmen Iklim Padahal Jadi Negara Pengemisi Terbesar

Kompas.com, 29 Januari 2026, 19:06 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Euronews, BBC

KOMPAS.com - Awal tahun 2026, Amerika Serikat memutuskan mundur dan menghentikan pendanaan untuk berbagai aksi mitigasi krisis iklim. Padahal Amerika Serikat menjadi negara pengemisi tertinggi kedua di dunia yang secara historis sebagai penyumbang terbesar pemanasan global.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump berhenti mengirimkan delegasi ke Conference of the Parties (COP), lalu menghapus penyebutan bahan bakar fosil dari situs Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA).

Baca juga: 

Trump juga terus mengkritik masifnya bauran energi terbarukan. Ia meragukan adanya pemanasan global di tengah badai musim dingin yang melanda Amerika Serikat awal tahun ini. 

Para ilmuwan lantas membantah pernyataan Trump. Mereka menekankan, meskipun wilayah timur Amerika Serikat sedang mengalami cuaca dingin sebagian besar wilayah dunia justru lebih hangat dari rata-rata.

“Pemanasan global terus berlangsung dan bahkan meningkat lajunya dalam beberapa tahun terakhir," kata ilmuwan California Institute for Water Resource, Daniel Swain, dikutip dari Euronews, Kamis (29/1/2026).

Amerika Serikat mundur dari beragam komitmen iklim

Kebijakan Donald Trump menarik Amerika Serikat dari berbagai komitmen iklim menuai kritik. Pakar menilai langkah ini berisiko perparah krisis iklim.FABRICE COFFRINI Kebijakan Donald Trump menarik Amerika Serikat dari berbagai komitmen iklim menuai kritik. Pakar menilai langkah ini berisiko perparah krisis iklim.

Trump kembali memberikan pernyataan soal energi terbarukan dalam pidatonya di World Economic Forum (WEF) di Davos pada pertengahan Januari 2026 lalu.

Dia hanya menyebut kincir angin untuk turbin pembangkit listrik yang dibangun China. Kemudian berargumen bahwa China menjual turbin angin ke negara lain dengan harga yang sangat mahal.

“Mereka menjualnya kepada orang-orang bodoh yang membelinya, tetapi tidak menggunakannya sendiri,” ucap Trump.

Padahal, China menghasilkan listrik dari pembangkit temaga angin setara dengan 40 persen produksi angin global.

Pada April 2025, tenaga angin dan surya menghasilkan lebih dari seperempat listrik negara ini.

Baca juga:

Ketertarikan Trump pada Greenland

Kebijakan Donald Trump menarik Amerika Serikat dari berbagai komitmen iklim menuai kritik. Pakar menilai langkah ini berisiko perparah krisis iklim.PEXELS/MIKHAIL NILOV Kebijakan Donald Trump menarik Amerika Serikat dari berbagai komitmen iklim menuai kritik. Pakar menilai langkah ini berisiko perparah krisis iklim.

Langkah Trump lalu disorot karena ketertarikannya yang kian besar terhadap Greenland.

"Hal itu (membeli Greenland) saat ini sedang aktif dibahas oleh Presiden (Trump) dan tim keamanan nasionalnya," ujar juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, dilansir dari BBC.

Pengamat lingkungan menilai minatnya berkaitan erat dengan cadangan mineral kritis yang penting bagi transisi energi.

Survei pada tahu 2023 menunjukkan, 25 dari 34 mineral yang dikategorikan sebagai bahan baku kritis oleh Komisi Eropa terdapat di Greenland.

Wilayah itu diperkirakan menyimpan 36-42 juta metrik ton oksida tanah jarang, menjadikannya cadangan terbesar kedua di dunia setelah China.

Meski demikian, sejumlah pakar berpandangan isu mineral Greenland hanya menjadi kedok bagi kepentingan geopolitik Donald Trump.

Kontroversi lainnya, Trump menandatangani Memorandum Presiden yang menarik Amerika Serikat dari 66 organisasi dan perjanjian internasional, termasuk Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) serta Panel Antar-pemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC).

Amerika Serikat kemudian keluar dari Perjanjian Paris. Pada kepemimpinan sebelumnya, Trump sempat menarik Amerika Serikat dari Perjanjian Paris, tapi pada era Presiden Joe Biden, negara ini kembali bergabung.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
Survei Global Temukan Risiko Greenwashing Meluas di Perusahaan
LSM/Figur
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
Penyelamat Iklim yang Terlupakan, Ini Manfaat Padang Lamun untuk Indonesia
LSM/Figur
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
Sering Cek Email Kerja Saat Akhir Pekan? Waspada Dampaknya untuk Mental
LSM/Figur
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Hari Perempuan Internasional, Rayakan Peran Perempuan di Balik Gerai Kopi
Swasta
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
Terumbu Karang Bisa Tahan Pemanasan Laut akibat Krisis Iklim?
LSM/Figur
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Masa Depan Pasar Karbon Tergantung Intervensi Pemerintah, Ini Skenarionya
Swasta
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
Dampak Longsor di Bantargebang Menurut Ahli, Akumulasi Gas Metana hingga Air Lindi
LSM/Figur
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Mengapa Longsor Bantargebang Terjadi Berulang? KLH Soroti Bahaya Open Dumping
Pemerintah
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
Akan Dibor Tahun Ini, PGE Siapkan Infrastruktur PLTP Lumut Balai Unit 3
BUMN
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Awas Penipuan, PBB Sebut 20 Persen Produk Laut Terindikasi Palsu
Pemerintah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Longsor Bantargebang, Berbagai Pihak Serukan Perombakan Tata Kelola Sampah
Pemerintah
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
Dari Operasional hingga Komunitas, Begini Upaya Musim Mas Perkuat Pemberdayaan Perempuan dan Kesetaraan Gender
BrandzView
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
411 KK di Lombok Diberi Akses Kelola 560 Hektare Hutan lewat Perhutanan Sosial
Pemerintah
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Ini Pekerjaan yang Sulit Digantikan AI Menurut Studi Terbaru
Swasta
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
PLN Perluas Infrastruktur EV, SPKLU di Kemendag Catat Ribuan Transaksi
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau