KOMPAS.com - Plastik fleksibel hasil daur ulang biasanya punya harga jauh lebih mahal dibandingkan plastik murni. Fakta ini dinilai bisa menghambat permintaan, yang pada gilirannya menghambat produksi.
Ditambah lagi, produsen dan pengguna kemasan umumnya kekurangan insentif regulasi untuk beralih ke pilihan yang berasal dari plastik dari hasil daur ulang atau yang dirancang agar dapat didaur ulang.
Baca juga:
Hal tersebut adalah peringatan dari Alliance to End Plastic Waste, organisasi nirlaba yang melacak dan mempromosikan upaya daur ulang plastik di dunia dengan melibatkan perusahaan di seluruh rantai nilai, dilansir dari Edie, Senin (16/2/2026).
Sebagai informasi, plastik fleksibel merupakan jenis plastik yang bersifat lentur, tipis, dan mudah dibentuk. Contohnya pembungkus makanan, kantong plastik, dan sachet.
Berbeda dengan plastik keras seperti botol soda (PET) yang relatif mudah didaur ulang, plastik fleksibel jauh lebih sulit ditangani secara teknis dan ekonomi.
Biaya produksi dan minimnya insentif regulasi sebagai penghambat utama pertumbuhan daur ulang plastik fleksibel.Laporan terbaru dari Alliance to End Plastic Waste membahas keadaan terkini daur ulang plastik fleksibel di Eropa, Kanada, dan Amerika Serikat.
Lebih dari setengah dari semua kemasan plastik yang didistribusikan di wilayah tersebut merupakan plastik fleksibel. Volume yang didistribusikan diperkirakan akan meningkat dalam beberapa dekade mendatang untuk memenuhi permintaan konsumen.
Namun, plastik fleksibel sulit didaur ulang di pabrik pengolahan tradisional karena sifatnya yang ringan. Kontaminasi dan fakta bahwa banyak format mengandung lapisan bahan yang berbeda adalah faktor lain.
Investasi signifikan telah dilakukan dalam daur ulang kimia dan inovasi lainnya, serta perluasan jaringan titik pengambilan kembali untuk kemasan fleksibel. Namun, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
Mengenai daur ulang kimia, Alliance to End Plastic Waste menyatakan bahwa teknologi ini sedang dikembangkan, tapi biaya produksinya yang lebih tinggi sehingga saat ini menghadapi ketidakpastian regulasi.
Laporan ini pun kemudian mengidentifikasi beberapa hambatan utama pertumbuhan industri daur ulang plastik fleksibel.
Hambatan tersebut, antara lain jaringan pengumpulan dan penyortiran yang tidak memadai, serta kurangnya permintaan untuk plastik fleksibel hasil daur ulang, terutama karena biaya yang tinggi dan persyaratan regulasi yang rendah.
Selain itu juga rendahnya minat investor karena risiko yang dianggap terlalu tinggi, kurangnya panduan desain untuk daur ulang, serta Skema Tanggung Jawab Produsen yang Diperluas (EPR) yang tidak memberikan imbalan berarti bagi kemasan yang efisien secara biaya untuk didaur ulang.
Baca juga:
Biaya produksi dan minimnya insentif regulasi sebagai penghambat utama pertumbuhan daur ulang plastik fleksibel.Presiden dan CEO Alliance to End Plastic Waste, Jacob Duer menekankan bahwa sektor swasta tidak dapat menyelesaikan tantangan ini sendirian.
“Mewujudkan sirkularitas material untuk plastik fleksibel itu kompleks tetapi dapat dicapai. Solusi untuk meningkatkan pengelolaan akhir masa pakai produk plastik sudah ada. Dikombinasikan dengan tindakan industri dan momentum regulasi, ada peluang nyata untuk meningkatkan tingkat dan kualitas daur ulang film fleksibel dalam jangka waktu yang dipercepat,” jelas Duer.
Di sisi lain, organisasi tersebut tengah menyusun program tematik plastik fleksibel yang mencakup wilayah Eropa dan Amerika Utara.
Baca juga:
Program ini akan melibatkan pemetaan pasar untuk memahami rantai nilai pengelolaan limbah yang ada dan potensi jalan ke depan, serta menampilkan proyek-proyek demonstrasi kepada para pemangku kepentingan, termasuk pembuat kebijakan dan investor.
Saran untuk bertindak juga akan dibagikan kepada pembuat kebijakan, merek, dan pendaur ulang.
Organisasi ini juga sedang mengembangkan Program Khusus Negara di Brasil, India, Afrika Selatan, dan di negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk.
Pasar-pasar tersebut dianggap memiliki sistem pengelolaan limbah dasar yang kurang matang dibandingkan Eropa dan Amerika Utara.
Untuk diketahui, Alliance to End Plastic Waste didirikan pada tahun 2019, dan perusahaan anggotanya mewakili berbagai bagian dari rantai nilai plastik, termasuk bahan bakar fosil dan bahan kimia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya