Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Polusi Nitrogen Ganggu Penyerapan Karbon dan Ritme Respirasi Hutan

Kompas.com, 18 Februari 2026, 10:18 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Nitrogen tak kasat mata yang terbawa dari pertanian, lalu lintas, dan industri menyelimuti ekosistem bak taburan pupuk halus selama beberapa dekade.

"Sejak Revolusi Industri, aktivitas manusia telah mengubah deposisi nitrogen atmosfer ke hutan-hutan global, yang memengaruhi emisi karbon dioksida dari tanah (respirasi tanah atau SR), salah satu aliran karbon terbesar antara daratan dan atmosfer," tulis studi bertajuk A general framework for nitrogen deposition effects on soil respiration in global forests, dilansir dari Nature, Rabu (18/2/2026).

Baca juga:

Pupuk, asap knalpot, dan emisi industri melepaskan banyak nitrogen reaktif, yang mayoritas kembali ke bumi bersama hujan, salju, atau debu.

Kendati mengetahui dampaknya terhadap hutan, para peneliti masih belum bisa memecahkan misteri mengapa polusi nitrogen meningkatkan respirasi tanah di beberapa hutan dan menurunkan di hutan lainnya.

Studi-studi sebelumnya menunjukkan hasil yang berlawanan, dengan tidak ada satu pun penjelasan mengenai peningkatan karbon dioksida (CO2) secara dramatis saat terjadi penurunan tajam di lokasi lainnya.

Mulanya, nitrogen memang bisa mendorong pertumbuhan, yang mana kenaikan frekuensinya menyebabkan hutan jenuh dengannya sehingga sangat berisiko meruntuhkan komunitas biotik dan respirasi tanah.

Studi terbaru ini mengungkapkan, dampak bertahap dari polusi akibat ulang manusia yang paling sering diabaikan, dilansir dari Phys.org.

Baca juga:

Nitrogen dan respirasi tanah

Ada dua jalur yang harus diperhatikan

Pengurangan polusi nitrogen dari pupuk, industri, sampai sektor transportasi, penting untuk keanekaragaman hayati dan kualitas udara.rawpixel/freepik Pengurangan polusi nitrogen dari pupuk, industri, sampai sektor transportasi, penting untuk keanekaragaman hayati dan kualitas udara.

Kabut menggantung di antara batang-batang pohon pada pagi yang sejuk. Tanah terasa lembut, dengan bau dedaunan basah menguar.

Di bawah permukaan, miliaran mikroba menguraikan materi organik dan akar-akar setipis rambut menghembuskan napas, melepaskan CO2 yang stabil.

Proses respirasi tanah ini menjadi salah satu aliran karbon terbesar di bumi, yang biasanya sangat teratur seperti detak jantung. Namun, di banyak hutan di seluruh dunia, detak jantung itu sedang berubah.

Untuk menemukan jawabannya, tim peneliti internasional menggabungkan beberapa data dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Pertama, data 168 percobaan penambahan nitrogen di seluruh hutan global. Kedua, data 3.689 pengamatan respirasi tanah dalam kondisi alami.

Ketiga, peta dunia yang menunjukkan hutan dengan keterbatasan nitrogen versus hutan dengan kandungan nitrogen yang melimpah. Keempat, data pengendapan nitrogen resolusi tinggi. Kelima, pengukuran respirasi akar dan mikroba.

Dengan menggunakan pembelajaran mesin, para peneliti memodelkan bagaimana respirasi tanah merespons nitrogen di setiap wilayah berhutan di bumi. Hasilnya, hutan tidak mempunyai satu pola, melainkan mengikuti dua jalur sekaligus.

Jalur pertama ketika nitrogen memberi nutrisi pada tanah. Kondisi ini terjadi di hutan yang kekurangan nitrogen, seperti kawasan beriklim sejuk atau sedang di belahan bumi utara atau boreal dan daerah pegunungan terpencil lainnya.

Jumlahnya yang terlalu sedikit membuat nitrogen berperan seperti nutrisi yang telah lama ditunggu-tunggu. Hingga batas tertentu, mikroba berkembang biak, akar tumbuh lebih kuat, serta dekomposisi dan respirasi tanah meningkat.

Saat nitrogen meningkat, dorongan itu melemah dan toksisitas justru naik. Karena karbon yang mudah diperoleh habis, kurva melengkung ke bawah membentuk huruf U terbalik: Naik, mendatar, dan kemudian menurun. 

Hal tersebut merupakan versi ekologis dari pemakaian pupuk secara berlebihan yang membakar akar tanaman.

Baca juga:

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
Pertamina Eco RunFest 2026 Perkuat Gerakan Hidup Sehat dan Peduli Lingkungan
BUMN
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
Kasus ISPA Capai 13.449 Selama Juli-Agustus 2026, Ini Kelompok yang Rentan
LSM/Figur
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Aturan Baru Uni Eropa soal Deforestasi Bakal Ubah Pasar Kopi Dunia
Pemerintah
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Tren Belanja Online: Konsumen Makin Pilih Kemasan Ramah Lingkungan
Pemerintah
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Kapasitas PLTS Indonesia Baru 1,5 GW, AESI Soroti Hambatan Capai Target 100 GWp
Swasta
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Studi: Janji Target Iklim Perusahaan Ternyata Minim Realisasi Anggaran Hijau
Pemerintah
BPDLH Siapkan Skema 'Blended Finance' untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
BPDLH Siapkan Skema "Blended Finance" untuk Hadapi Risiko Bencana Iklim
Pemerintah
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
Pesan yang Gugah Emosi Lebih Ampuh Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan
LSM/Figur
United Tractors Gelar Wisuda 'Release Stunting' 2026
United Tractors Gelar Wisuda "Release Stunting" 2026
Swasta
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
PBB Sebut Target Batas Suhu Iklim 1,5 Derajat C Kian Sulit Dicapai
Pemerintah
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana 'Loss and Damage', BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
Indonesia Disebut Belum Resmi Ajukan Dana "Loss and Damage", BPDLH Klaim Sudah Kirim Dua Proposal
LSM/Figur
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Gelombang Panas Laut Ancam Kesehatan Anak-Anak Pesisir
Pemerintah
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Industri Batu Bara di Tengah Transisi Energi, Bappenas Sebut Pekerja Informal Paling Sulit Beralih
Pemerintah
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Emisi Industri Fashion Naik 14 Persen Hanya dalam 2 Tahun
Pemerintah
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Bahaya Pestisida, Hampir 50 Persen Petani Dunia Keracunan Tiap Tahun
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau