Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Banjir Bandang Berulang Jadi Tanda Rusaknya Ekosistem Hutan

Kompas.com, 16 Februari 2026, 12:04 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan bahwa banjir bandang berulang menjadi tanda bahaya dari keruntuhan ekosistem hutan (ecosystem collapse).

Peneliti Ahli Utama Konservasi Keanekaragaman Hayati Pusat Riset Ekologi BRIN, Hendra Gunawan menilai hujan lebat di wilayah tropis merupakan fenomena alam yang biasa terjadi.

Baca juga:

Akan tetapi, saat ekosistem hutan kehilangan kemampuan mengatur tata air, menstabilkan tanah, dan meredam energi hujan, curah hujan singkat dapat berubah menjadi aliran deras yang membawa lumpur, kayu, serta batu hingga menghancurkan permukiman dan infrastruktur.

“Banjir bandang bukan lagi kejadian alam biasa, melainkan sinyal bahwa ekosistem hutan di banyak bentang alam telah berada pada kondisi kritis,” ujar Hendra dalam keterangannya, Senin (16/2/2026).

Banjir bandang jadi alarm ekosistem hutan yang rusak

Deforestasi mengubah lanskap struktur hutan secara drastis

Kondisi pasca banjir bandang di Desa Pakis Kecamatan Panti Kabupaten Jember, Selasa (3/2/2026). BRIN mengingatkan bahwa banjir bandang berulang menjadi tanda bahaya dari keruntuhan ekosistem hutan (ecosystem collapse). Apa itu?KOMPAS.com/BPBD Jember Kondisi pasca banjir bandang di Desa Pakis Kecamatan Panti Kabupaten Jember, Selasa (3/2/2026). BRIN mengingatkan bahwa banjir bandang berulang menjadi tanda bahaya dari keruntuhan ekosistem hutan (ecosystem collapse). Apa itu?

Menurut Hendra, deforestasi menjadi faktor penting di balik bencana banjir. Alih fungsi lahan, pertambangan, pembalakan, serta ekspansi pertanian dan perkebunan telah mengubah struktur lanskap hutan secara drastis.

Kendati demikian, lanjut Hendra, deforestasi hanya menjelaskan apa yang hilang bukan menjawab mengapa bencana menjadi makin cepat, ekstrem, dan merusak. Dia menjelaskan, kerusakan yang terjadi bersifat sistemik.

Ketika tekanan berlangsung terus-menerus, daya lenting sistem melemah hingga akhirnya runtuh menyebabkan gagalnya fungsi ekologis.

“Air hujan tidak lagi terserap dan tersimpan, melainkan langsung mengalir ke hilir, stabilitas lereng melemah akibat rusaknya sistem perakaran, pengendalian iklim mikro terganggu, dan habitat keanekaragaman hayati menyusut drastis,” jelas Hendra.

"Banjir bandang, dalam konteks ini, menjadi konsekuensi logis dari runtuhnya sistem tersebut," imbuh dia.

Baca juga:

Tahapan runtuhnya ekosistem hutan

BRIN mengingatkan bahwa banjir bandang berulang menjadi tanda bahaya dari keruntuhan ekosistem hutan (ecosystem collapse). Apa itu?freepik BRIN mengingatkan bahwa banjir bandang berulang menjadi tanda bahaya dari keruntuhan ekosistem hutan (ecosystem collapse). Apa itu?

Hendra menyampaikan, keruntuhan ekosistem hutan terjadi dari proses spasial yang bertahap.

Pertama adalah fragmentasi, saat hutan yang sebelumnya utuh terpecah menjadi bagian-bagian kecil lalu terisolasi.

Fragmen-fragmen hutan ini kehilangan konektivitas ekologis sehingga pergerakan satwa dan aliran genetik terganggu.

Kedua, dissection yang terjadi saat lanskap hutan terbelah oleh jalan raya atau infrastruktur linear lainnya.

“Begitu ada jalan yang membelah, secara ekologis hutan itu sudah tidak lagi utuh. Ia terpisah menjadi dua bagian yang rentan terhadap gangguan antropogenik, efek tepi dan isolasi populasi satwa tertentu,” papar Hendra.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau