KOMPAS.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan bahwa banjir bandang berulang menjadi tanda bahaya dari keruntuhan ekosistem hutan (ecosystem collapse).
Peneliti Ahli Utama Konservasi Keanekaragaman Hayati Pusat Riset Ekologi BRIN, Hendra Gunawan menilai hujan lebat di wilayah tropis merupakan fenomena alam yang biasa terjadi.
Baca juga:
Akan tetapi, saat ekosistem hutan kehilangan kemampuan mengatur tata air, menstabilkan tanah, dan meredam energi hujan, curah hujan singkat dapat berubah menjadi aliran deras yang membawa lumpur, kayu, serta batu hingga menghancurkan permukiman dan infrastruktur.
“Banjir bandang bukan lagi kejadian alam biasa, melainkan sinyal bahwa ekosistem hutan di banyak bentang alam telah berada pada kondisi kritis,” ujar Hendra dalam keterangannya, Senin (16/2/2026).
Kondisi pasca banjir bandang di Desa Pakis Kecamatan Panti Kabupaten Jember, Selasa (3/2/2026). BRIN mengingatkan bahwa banjir bandang berulang menjadi tanda bahaya dari keruntuhan ekosistem hutan (ecosystem collapse). Apa itu?Menurut Hendra, deforestasi menjadi faktor penting di balik bencana banjir. Alih fungsi lahan, pertambangan, pembalakan, serta ekspansi pertanian dan perkebunan telah mengubah struktur lanskap hutan secara drastis.
Kendati demikian, lanjut Hendra, deforestasi hanya menjelaskan apa yang hilang bukan menjawab mengapa bencana menjadi makin cepat, ekstrem, dan merusak. Dia menjelaskan, kerusakan yang terjadi bersifat sistemik.
Ketika tekanan berlangsung terus-menerus, daya lenting sistem melemah hingga akhirnya runtuh menyebabkan gagalnya fungsi ekologis.
“Air hujan tidak lagi terserap dan tersimpan, melainkan langsung mengalir ke hilir, stabilitas lereng melemah akibat rusaknya sistem perakaran, pengendalian iklim mikro terganggu, dan habitat keanekaragaman hayati menyusut drastis,” jelas Hendra.
"Banjir bandang, dalam konteks ini, menjadi konsekuensi logis dari runtuhnya sistem tersebut," imbuh dia.
Baca juga:
BRIN mengingatkan bahwa banjir bandang berulang menjadi tanda bahaya dari keruntuhan ekosistem hutan (ecosystem collapse). Apa itu?Hendra menyampaikan, keruntuhan ekosistem hutan terjadi dari proses spasial yang bertahap.
Pertama adalah fragmentasi, saat hutan yang sebelumnya utuh terpecah menjadi bagian-bagian kecil lalu terisolasi.
Fragmen-fragmen hutan ini kehilangan konektivitas ekologis sehingga pergerakan satwa dan aliran genetik terganggu.
Kedua, dissection yang terjadi saat lanskap hutan terbelah oleh jalan raya atau infrastruktur linear lainnya.
“Begitu ada jalan yang membelah, secara ekologis hutan itu sudah tidak lagi utuh. Ia terpisah menjadi dua bagian yang rentan terhadap gangguan antropogenik, efek tepi dan isolasi populasi satwa tertentu,” papar Hendra.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya