Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dampak Polusi Suara pada Burung, Ganggu Reproduksi dan Tingkatkan Stres

Kompas.com, 11 Februari 2026, 17:07 WIB
Monika Novena,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber PHYSORG

KOMPAS.com - Polusi suara ternyata bisa memengaruhi burung, menurut penelitian baru yang dipimpin oleh Universitas Michigan, Amerika Serikat.

"Kesimpulan utama dari studi ini adalah bahwa kebisingan antropogenik atau yang disebabkan manusia memengaruhi banyak aspek perilaku burung, dengan beberapa respons yang berkaitan lebih langsung terhadap tingkat kebugaran mereka," kata penulis utama studi tersebut, Natalie Madden, dilansir dari Phys.org, Rabu (11/2/2026).

Studi tersebut dipublikasikan di jurnal Proceedings of the Royal Society B.

Baca juga: 

Bagaimana polusi suara manusia berdampak pada burung?

Suara manusia pengaruhi perilaku, fisiologi, dan reproduksi burung

Polusi suara dari aktivitas manusia memengaruhi perilaku, hormon stres, dan reproduksi burung.freepik Polusi suara dari aktivitas manusia memengaruhi perilaku, hormon stres, dan reproduksi burung.

Sejak tahun 1970, populasi burung telah menurun cukup drastis. Misalnya, di Amerika Utara saja, sebanyak tiga miliar burung dewasa yang berkembang biak dari berbagai spesies dilaporkan hilang.

Meskipun aktivitas manusia, seperti pengembangan lahan dan penggunaan pestisida, memiliki dampak langsung yang lebih jelas pada populasi burung, studi baru ini menyoroti bahwa polusi suara juga turut memengaruhi bagaimana burung bertahan hidup di tengah manusia.

Peneliti menemukan bahwa secara umum, kebisingan yang dihasilkan manusia mulai dari lalu lintas, konstruksi, dan aktivitas lainnya memengaruhi perilaku, fisiologi, dan bahkan reproduksi burung.

"Burung sangat bergantung pada informasi akustik. Mereka menggunakan nyanyian untuk menemukan pasangan, panggilan untuk memperingatkan predator, dan anak burung mengeluarkan panggilan meminta makan untuk memberi tahu orang tua mereka bahwa mereka lapar," kata Madden.

Dengan demikian, jika ada kebisingan yang cukup bising di lingkungan, apakah burung masih dapat mendengar sinyal dari spesies mereka sendiri?

Dalam mengumpulkan data, tim peneliti juga mendalami bagaimana kesamaan ciri di antara spesies memengaruhi dampak kebisingan tertentu.

Sebagai contoh, burung yang tinggal di sarang berlubang tampaknya lebih mungkin mengalami efek negatif pada pertumbuhan mereka dibandingkan dengan burung yang tinggal di sarang terbuka.

Selain itu, burung yang hidup di kawasan perkotaan cenderung memiliki tingkat hormon stres yang lebih tinggi daripada burung yang hidup di luar kota.

Baca juga:

Masih ada harapan

Polusi suara dari aktivitas manusia memengaruhi perilaku, hormon stres, dan reproduksi burung.Unsplash/wjl376651763 Polusi suara dari aktivitas manusia memengaruhi perilaku, hormon stres, dan reproduksi burung.

Meski kebisingan menciptakan berbagai konsekuensi negatif bagi burung, pemahaman tentang hal ini dapat diubang menjadi hal positif.

"Dengan men-sintesis berbagai studi dalam meta analisis, kami menemukan bahwa ada efek yang dapat diprediksi. Dan jika kita dapat memprediksinya maka kita dapat mengurangi kebisingan yang sudah ada dan memperbaiki ekosistem," ucap penulis senior studi tersebut, Neil Carter.

Lebih lanjut, menurut Carter, sudah ada solusi yang tersedia.

Sama seperti bangunan yang mengintegrasikan material dan teknik baru yang tujuannya meningkatkan visibilitas dan mencegah burung menabrak jendela, ada cara manusia juga dapat menyesuaikan lingkungan untuk meredam suara.

"Begitu banyak masalah yang kita hadapi terkait hilangnya keanekaragaman hayati terasa tak terbendung dan berskala masif, tapi kita sebenarnya tahu cara menggunakan material yang berbeda dan cara memasang sesuatu dengan metode yang berbeda untuk meredam suara," jelas Carter.

"Kita tahu apa yang harus digunakan dan bagaimana cara menggunakannya, kita hanya perlu membangun kesadaran dan minat yang cukup untuk melakukannya," tambah dia.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau