Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sensus Burung Air 2026 Digelar di Pesisir Jakarta

Kompas.com, 21 Februari 2026, 11:10 WIB
Bambang P. Jatmiko

Editor

JAKARTA, KOMPAS.com - Biodiversity Warriors turut ambil bagian dalam pelaksanaan Asian Waterbird Census (AWC) 2026 dengan menggelar sensus burung air secara serentak di tiga kawasan pesisir Jakarta, Sabtu (14/2/2026).

Kegiatan dilakukan di Hutan Lindung Angke Kapuk (HLAK), Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk, dan Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA) dengan melibatkan 83 peserta muda dari kalangan siswa SMA dan mahasiswa.

AWC merupakan gerakan sensus burung air terbesar di Asia yang dilaksanakan setiap tahun secara serentak. Di Indonesia, pelaksanaannya berlangsung sepanjang Januari–Februari 2026 dan mencakup berbagai habitat lahan basah, baik alami maupun buatan.

Baca juga: Dampak Polusi Suara pada Burung, Ganggu Reproduksi dan Tingkatkan Stres

Direktur Komunikasi dan Kemitraan Yayasan KEHATI Rika Anggraini mengatakan AWC tidak sekadar kegiatan pengamatan burung, melainkan bagian dari mekanisme ilmiah untuk memantau kondisi ekosistem lahan basah.

Data yang dikumpulkan akan memperbarui basis data nasional dan regional terkait populasi burung air, termasuk untuk mendeteksi tren penurunan populasi dan perubahan pola migrasi.

Burung air dinilai sebagai indikator kesehatan ekosistem lahan basah. Jenis-jenis seperti kuntul, bangau, bebek, pecuk, burung pantai, hingga camar hidup di habitat sungai, danau, rawa, tambak, mangrove, hingga kawasan pesisir.

Populasi Burung

Berdasarkan hasil pengamatan pada pukul 07.00–17.00 WIB, di HLAK tercatat 38 jenis burung dengan total 289 individu, di antaranya 18 jenis burung air dengan 206 individu.

Di TWA Angke Kapuk ditemukan 34 jenis burung dengan total 117 individu, termasuk 12 jenis burung air dengan 54 individu. Sementara di SMMA tercatat 27 jenis burung dengan total 126 individu, termasuk 13 jenis burung air dengan 42 individu.

Beberapa jenis burung air yang terpantau antara lain blekok sawah (Ardeola speciosa), pecuk padi hitam (Phalacrocorax sulcirostris), pecuk ular asia (Anhinga melanogaster), cangak abu (Ardea cinerea), dan cangak merah (Ardea purpurea).

Kegiatan ini melibatkan sejumlah komunitas dan organisasi, di antaranya Saka Wanabakti DKI Jakarta, Kelompok Studi Hidupan Liar Comata Universitas Indonesia, KPB Nycticorax Universitas Negeri Jakarta, KPB Nectarinia UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Himpunan Mahasiswa Biologi Rafflesia Universitas Islam As-Syafi’iah.

AWC 2026 juga didukung oleh Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta, Balai Konservasi Sumber Daya Alam DKI Jakarta, Jakarta Mangrove Resort TWA Angke Kapuk, TFCA Sumatera, dan Yayasan Lahan Basah.

Baca juga: Burung Albatros dari Galapagos Muncul di California, Terbang 4.800 Km Jauh dari Habitatnya

Kawasan pesisir Jakarta yang menjadi lokasi pengamatan memiliki fungsi ekologis penting sebagai habitat burung air sekaligus pelindung alami dari abrasi dan dampak perubahan iklim.

Namun, kawasan tersebut menghadapi tekanan dari pencemaran, alih fungsi lahan, serta aktivitas manusia yang tidak berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, generasi muda diharapkan dapat berkontribusi dalam konservasi berbasis data serta memperkuat kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem pesisir.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Tak Hanya di Kelas, Siswa SD YPTSS Belajar Menjaga Lingkungan dari Alam
Swasta
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
Emisi Metana TPA Berubah Menurut Musim, MERIT Usulkan Perhitungan Lebih Spesifik
LSM/Figur
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Potensi Karbon Biru Indonesia Besar, Tata Kelola Pesisir Masih Terfragmentasi
Pemerintah
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Dampak El Nino, Lautan Global Alami Rekor Suhu Panas 100 Hari Berturut
Pemerintah
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
Emisi Metana dari TPA Naik Lebih 20 Kali Lipat Saat Musim Kemarau
LSM/Figur
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Google dan NASA Luncurkan AI untuk Pantau Emisi Metana dari Luar Angkasa
Pemerintah
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Menjaga Anak Saat Orang Tua Bekerja, Cerita TPA Perkebunan di Solok Selatan
Swasta
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
PLN Siap Kembangkan Panas Bumi Gunung Ungaran, Kajian Lingkungan dan Sosial Jadi Perhatian
BUMN
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
Gelar Rembug Nasional 2026, KTNA Perkuat Kolaborasi Lintas Sektor Pertanian dan Perikanan
LSM/Figur
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Kenaikan Suhu 1 Derajat Celsius Bisa Pangkas Pendapatan UMKM hingga 14 Persen
Pemerintah
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Dampak Panas Ekstrem, Sebabkan Kerugian Finansial Dunia Kerja
Pemerintah
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Bagaimana Negara Cegah Bencana Jadi Krisis Pangan, Analisis Tunjukan
Pemerintah
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Asap Kebakaran Hutan Terbukti Lebih Toksik dari Polusi Udara Lainnya
Pemerintah
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Udara Bersih Berdampak Positif pada Perkembangan Anak Usia Dini
Pemerintah
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Kebakaran Hutan Dorong Populasi Gajah Sumatra ke Ambang Kepunahan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau