KOMPAS.com - Studi terbaru mengungkapkan, krisis iklim menyebabkan padang rumput yang menopang 1,5 miliar sapi, domba, dan kambing di seluruh dunia, menyusut sekitar 36-50 persen pada akhir abad ini.
Dampak krisis iklim terhadap padang rumput di Afrika sangat mengkhawatirkan. Kondisi iklim di Afrika sudah hampir mencapai batas ekstrem yang bisa ditanggung padang rumput.
Jika emisi gas rumah kaca (GRK) global dari pembakaran bahan bakar fosil dan sumber lainnya dikurangi secara drastis, padang rumput di Afrika kemungkinan hanya menyusut sebesar 16 persen.
Baca juga: Perubahan Iklim Bikin Kopi Makin Mahal, Ancam Panen di Negara Produsen Terbesar
Skenario pengurangan dengan bisnis seperti biasa, yang mana emisi GRK terus meningkat, mengakibatkan kerugian hingga 65 persen.
“Krisis iklim akan menggeser dan secara signifikan mempersempit ruang-ruang ini secara global, sehingga mengurangi ruang bagi hewan untuk merumput. Yang penting, sebagian besar perubahan ini akan dirasakan di negara-negara yang sudah mengalami kelaparan, ketidakstabilan ekonomi dan politik, serta tingkat ketidaksetaraan gender yang lebih tinggi,” ujar penulis utama studi tersebut dari The Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK), Chaohui Li, dilansir dari Earth Selasa (24/2/2026).
Sebagai kontributor krisis iklim, peternakan juga terancam olehnya. Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, daging dan produk susu menyumbang sekitar 14,5 persen emisi GRK global.
Sementara itu, Laporan EAT-Lancet kedua yang diterbitkan pada akhir tahun 2025, menemukan bahwa makanan adalah penyebab tunggal terbesar pelanggaran batas planet. Bahkan, makanan berkontribusi pada lima dari enam batas yang dilanggar.
Studi ini didasarkan pada konsep kerangka kerja 'ruang iklim aman', dengan kisaran suhu dan kondisi cuaca di mana padang rumput yang cocok untuk penggembalaan dapat berkembang. Ruang iklim aman untuk area penggembalaan ditetapkan sebagai suhu dari -3 hingga 29°C, curah hujan antara 50–2.627 milimeter per tahun, kelembapan 39-67 persen, serta kecepatan angin 1- 6 meter per detik.
Para peneliti memproyeksikan penurunan bersih sebesar 36-50 persen dari area yang sesuai iklim untuk penggembalaan pada tahun 2100, disertai dengan pergeseran kesesuaian penggembalaan antar dan intrabenua.
Dari 51- 81 persen dari populasi yang terdampak tersebut tinggal di negara-negara berpenghasilan rendah, dengan kelaparan serius, ketidaksetaraan gender yang parah, dan kerapuhan politik yang tinggi.
Studi ini memprediksi bahwa krisis iklim di masa depan akan mengancam kesesuaian penggembalaan di sebagian besar wilayah Bumi. Krisis iklim akan membahayakan mata pencaharian banyak komunitas dan berpotensi memicu konsekuensi sosial ekonomi yang meluas.
Baca juga: Pakar: Leuit Bisa Jadi Solusi Ketahanan Pangan Saat Pasar Impor Terganggu
Beberapa area penggembalaan memang akan bergeser ke selatan dari dataran tinggi Ethiopia, Lembah Rift Afrika Timur, Cekungan Kalahari, dan Cekungan Kongo. Sedangkan zea penggembalaan pesisir tidak akan memiliki tempat lagi untuk berpindah.
“Pergeseran dari apa yang kita identifikasi sebagai ruang iklim yang aman ini benar-benar menantang efektivitas strategi adaptasi yang telah digunakan di tempat-tempat seperti Afrika pada masa-masa sulit, seperti mengganti spesies atau memindahkan kawanan ternak. Perubahannya terlalu besar untuk itu,” ujar peneliti PIK dan salah satu penulis studi tersebut, Asisten Profesor di Universitas Groningen, Prajal Pradhan.
Bagi Pradhan dan timnya, temuan ini merupakan bukti bahwa krisis iklim akan memperburuk ketidaksetaraan yang ada, serta berisiko menggoyahkan sistem produksi pangan global dan masyarakat yang bergantung padanya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya