Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pekerja Jakarta Tunda Beli Rumah, Harga Mahal Upah Pas-pasan

Kompas.com, 25 Februari 2026, 11:21 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Banyak pekerja muda di Jakarta memilih menunda membeli rumah tapak. Alasannya, harga rumah yang kini makin tak masuk budget mereka.

Salah satunya dirasakan Adit, pegawai bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mengaku belum akan membeli rumah dalam waktu dekat. Dengan gaji kisaran Rp 5-6 juta per bulannya, ia memilih tinggal di rumah orangtua sementara waktu.

"Saya masih menunda, karena menurut saya lumayan susah buat yang kerjaannya belum tetap. Apalagi misalkan kalau dia sandwich generation itu susah banget sih," ungkap Adit kepada Kompas.com, Selasa (25/2/2026).

Baca juga: Perusahaan Makanan dan Minuman Disebut Gagal Cegah Risiko Kerja Paksa

Generasi sandwich, lanjut dia, cenderung berpikir panjang sebelum memutuskan mengambil cicilan atau kredit pemilikan rumah (KPR) lantaran mereka juga harus memenuhi kebutuhan keluarga. Di samping itu, harga rumah di perkotaan maupun daerah penyangganya seperti Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi makin melejit setiap tahunnya.

Pria berusia 28 tahun itu sempat menyurvei harga rumah klaster di Depok, Jawa Barat. Betapa terkejutnya Adit, saat mengetahui harganya di kisaran Rp 700 juta lebih.

"Kalau untuk di Jakarta jujur saya belum survei (rumah), tetapi menurut saya untuk saat ini saya belum bisa ambil rumah yang harganya Rp 500 juta ke atas," sebut dia.

Hal senada disampaikan Fia (29), yang masih urung memiliki rumah. Bekerja sebagai editor video di salah satu media online tak membuatnya mendapatkan penghasilan besar.

Dalam satu bulan Fia setidaknya menerima sekitar Rp 6 juta, namun upah tersebut hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari di tengah ketidakstabilan ekonomi saat ini.

Baca juga: Fenomena 996 di China, Bikin Pekerja Tinggalkan Gaji Tinggi demi Work Life Balance

"Susah sih (membeli rumah), apalagi ekonomi sekarang lagi kurang stabil buat kaum menengah ke bawah. Mungkin kalau kita sudah merdeka secara finansial iya bisa, tetapi balik lagi ke orangnya bisa menakar kemampuan buat mencicil rumah atau enggak di area Jabodetabek," kata Fia.

"Atau mereka lebih milih beli rumah di perkampungan yang harga tanahnya jauh dari harga di Jabodetabek," imbuh dia.

Fia sendiri sempat mendata harga rumah di Jabodetabek, namun ia merasa belum mampu membeli hunian tersebut. Alhasil, Fia dan sang suami memilih mengontrak di area Pondok Labu, Jakarta Selatan.

"Cicilannya memang belum cocok buat saya pekerja yang gajinya UMR, belum lagi kalau beberapa tahun ke depan cicilannya naik," tutur Fia.

Minimnya Upah

Dihubungi secara terpisah, Peneliti Center of Economic and Law Studies (Celios), M Bakhrul Fikri menilai generasi muda kian sulit memiliki rumah lantaran uah minimum yang doterima tidak mampu menjawab standar hidup layak (SHL) para pekerja. Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan, Upah Minimum Provinsi (UMP) Yogyakarta, tercatat lebih kecil dibandingkan kebutuhan hidup layak (KHL).

KHL tahun 2025 hanya mencapai Rp 4.604.982 per bulan, lebih dari dua kali lipat UMP Yogyakarta 2025 yang hanya Rp 2.264.080. Besar Upah Minimum Provinsi tahun 2026 ditetapkan sebesar Rp 2.417.495, dengan kenaikannya sebesar 6,78 persen atau senilai Rp 153.414,05 tahun 2026.

Sedangkan, UMP DKI Jakarta 2026 saat ini Rp 5.729.876, naik Rp 333.085 dari yang sebelumnya Rp.5.396.791 pada 2026.

"Jadi bagaimana caranya mereka mau beli rumah kalau upah minimumnya saja tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan hidup secara upara pekerja kita. Jadi yang paling penting sekarang adalah yang harus dijawab, harus cleaar dulu, harus direvisi dulu, harus ada reformasi dari kebijakan upah kita," tutur Fikri, Selasa (24/2/2026). 

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
Mereka Menyebutnya “Ojek Laut”...
LSM/Figur
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Hadapi Disrupsi AI, Kepemimpinan Berkelanjutan Jadi Kunci Capai Target SDG
Swasta
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
Peneliti UI dan Kyoto University Berkolaborasi untuk Ubah Limbah Cair Kelapa Sawit Jadi Energi
LSM/Figur
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Kian Dekat dengan Alam, Bantu Bangun Kebiasaan Makan Lebih Sehat
Pemerintah
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah Diminta Susun Mekanisme Penyelesaian Wilayah Masyarakat Adat dengan Area Konsesi
Pemerintah
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Hanya 10 dari 516 Masyarakat Adat yang Diakui di Kaltim, Ini Penyebabnya
Pemerintah
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Karier Perempuan Sering Terhambat, Khususnya pada Posisi Dewan Direksi
Pemerintah
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Target WHO 2030: Deteksi Wabah Baru Hanya dalam 24 Jam
Pemerintah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Perubahan Iklim Ancam Kesehatan Kulit Negara Berpendapatan Rendah
Pemerintah
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Kerugian Hunian Akibat Bencana Capai 228 Miliar Dolar AS Setiap Tahunnya
Pemerintah
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Astra Boyong 37 Peserta Binaan ke Trade Expo Indonesia 2026
Desa Sejahtera Astra
Dua Tahun 'Water for Banuan', Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
Dua Tahun "Water for Banuan", Dampak Nyata Air Bersih Berkelanjutan di Pelosok NTT
LSM/Figur
Kepemimpinan 'Human-Centered' Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Kepemimpinan "Human-Centered" Jadi Kunci Ukur Kesejahteraan Karyawan
Swasta
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
Antisipasi Ancaman Penyakit Pes, RI Perlu Perkuat Pemantauan Tikus
LSM/Figur
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Satelit Ungkap Kota Dunia Alami Penurunan Tanah: Medan dan Bandung Masuk Daftar
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau