Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Studi: Zat Kimia dari Layar Elektronik Menumpuk di Organ Lumba-lumba

Kompas.com, 26 Februari 2026, 19:49 WIB
Manda Firmansyah,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Studi terbaru mengungkap temuan mengkhawatirkan: monomer kristal cair atau liquid crystal monomers (LCMs) dari perangkat elektronik terdeteksi menumpuk di organ spesies laut yang terancam punah.

LCMs merupakan komponen utama dalam layar perangkat elektronik seperti televisi, laptop, dan ponsel pintar. Zat ini berfungsi mengatur bagaimana cahaya melewati layar sehingga menghasilkan gambar berkualitas tinggi.

Namun, di balik fungsinya tersebut, LCMs tergolong bahan kimia beracun. Seiring meningkatnya penggunaan perangkat elektronik, senyawa ini kini ditemukan di udara dalam ruangan, debu, hingga air limbah—yang pada akhirnya bermuara ke wilayah pesisir dan lautan.

Baca juga: Perlu Strategi Terpadu Atasi 65 Persen Sampah Nasional yang Belum Terkelola

Terdeteksi pada Lumba-lumba dan Pesut

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Environmental Science and Technology menganalisis sampel jaringan lumba-lumba bungkuk Indo-Pasifik dan pesut tanpa sirip yang dikumpulkan di Laut China Selatan selama periode 2007–2021.

Tim peneliti yang dipimpin Bo Liang memeriksa jaringan lemak, otot, hati, ginjal, dan otak untuk mendeteksi 62 senyawa molekuler besar. Hasilnya, empat senyawa LCM mendominasi temuan kontaminan tersebut.

Mayoritas LCMs yang terdeteksi diperkirakan berasal dari layar televisi dan komputer, sementara kontribusi dari ponsel pintar relatif kecil.

Meski sebagian besar kontaminan terkonsentrasi di jaringan lemak, peneliti mengaku terkejut ketika menemukan jejak LCMs di organ lain, termasuk otak. Temuan ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi risiko neurotoksik pada mamalia laut.

Dampak terhadap Gen dan Kesehatan

Dalam uji laboratorium lanjutan, beberapa LCM umum—termasuk empat senyawa utama yang ditemukan pada sampel—terbukti memengaruhi aktivitas gen yang berkaitan dengan perbaikan DNA dan pembelahan sel pada sel lumba-lumba yang dikultur.

Hasil tersebut menunjukkan kemungkinan dampak negatif terhadap kesehatan mamalia laut, terutama predator puncak yang rentan terhadap akumulasi zat beracun dalam rantai makanan.

Peneliti juga mencatat bahwa kadar LCM dalam lemak lumba-lumba sempat meningkat selama beberapa tahun, sebelum akhirnya menurun seiring peralihan industri televisi dari layar LCD ke teknologi LED.

Ancaman Limbah Elektronik

Penulis utama studi dari City University of Hong Kong, Yuhe He, menegaskan bahwa temuan ini menjadi peringatan serius.

“Penelitian kami mengungkapkan bahwa LCM dari elektronik sehari-hari bukan hanya polusi—zat ini juga menumpuk di otak lumba-lumba dan pesut yang terancam punah,” ujarnya, dikutip dari Euro News, Kamis (26/2/2026).

Baca juga: Target Nol Sampah Plastik 2040, Grab Luncurkan Panduan Kemasan untuk Mitra GrabFood

Ia memperingatkan bahwa bahan kimia yang memberi daya pada perangkat elektronik kini telah menginfiltrasi kehidupan laut.

“Kita harus bertindak sekarang terkait limbah elektronik untuk melindungi kesehatan laut dan, pada akhirnya, diri kita sendiri,” katanya.

Peneliti mendesak pemerintah dan pembuat kebijakan untuk memperketat regulasi serta meningkatkan pengelolaan limbah elektronik. Mereka juga menyerukan riset lanjutan guna memahami bagaimana LCM bergerak dalam rantai makanan laut dan dampaknya terhadap predator puncak.

Sebelumnya, sejumlah studi telah mengaitkan LCM dengan risiko kesehatan pada manusia dan spesies akuatik lainnya. Namun, mekanisme penyebaran dan akumulasi zat ini di ekosistem laut masih belum sepenuhnya dipahami.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Karbon, Hutan Adat, dan Keadilan Tertunda
Pemerintah
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Berdayakan 50.000 Warga, Armawati Ubah Sampah Jadi Peluang Ekonomi
Swasta
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
Reformasi Subsidi Energi, Jalan Menuju Perlindungan yang Lebih Adil
LSM/Figur
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Dampak Kekeringan, Perancis Batasi Pemakaian Air di 70 Persen Wilayahnya
Pemerintah
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Integrasi Keberlanjutan, Praktik Baik Bangunan Hijau Sektor FMCG dan Farmasi
Swasta
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
Kisah Nurdini Prihastiti Membuka Ruang Berkarya bagi Penyandang Disabilitas
LSM/Figur
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Coca-Cola Sediakan Drop Box Botol PET di 20 Gerai M Mart
Swasta
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
WHO Rilis Kerangka Kerja Keberlanjutan untuk Dekarbonisasi Sektor Farmasi
Pemerintah
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau