KOMPAS.com - Mikroplastik tidak hanya membahayakan kesehatan, tapi juga merusak mekanisme kerja lautan dalam menstabilkan suhu bumi.
"Mikroplastik memengaruhi proses biogeokimia, mengganggu proses carbon pumps (pompa karbon) lautan, dan berkontribusi langsung terhadap emisi gas rumah kaca (GRK)," tulis peneliti dari University of Sharjah, Uni Emirat Arab (UEA), dilansir dari Science Direct, Rabu (7/1/2026).
Baca juga:
"Dalam ekosistem laut, mikroplastik mengubah penyimpanan karbon alami dengan memengaruhi fitoplankton dan zooplankton, yang merupakan agen kunci dalam siklus karbon," tambah peneliti tersebut.
Adapun studi tersebut diterbitkan di jurnal Journal of Hazardous Materials: Plastic.
Studi menemukan mikroplastik mengganggu fotosintesis plankton dan stabilitas suhu bumi. Lautan berisiko lepaskan kembali emisi ke atmosfer.Sebagai informasi, lautan menghasilkan sedikitnya 50 persen oksigen di bumi. Sebagian besar produksi oksigen ini berasal dari plankton laut, tepatnya tumbuhan, alga, dan beberapa bakteri yang dapat melakukan fotosintesis, dilansir dari laman Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA).
Tidak hanya itu, menurut Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), lautan menyerap 30 persen dari seluruh emisi karbon dioksida, serta menangkap 90 persen panas berlebih yang dihasilkan oleh emisi tersebut.
Hal itu menjadikan laut sebagai penyerap karbon terbesar di planet ini, sekaligus menjadi "tameng" dari pemanasan global. Tanpa bantuan lautan, suhu bumi akan jauh lebih panas.
Namun, studi ini memperingatkan bahwa hubungan antara mikroplastik dan peran lautan dalam mengatur suhu bumi telah lama diabaikan.
Baca juga:
Studi menemukan mikroplastik mengganggu fotosintesis plankton dan stabilitas suhu bumi. Lautan berisiko lepaskan kembali emisi ke atmosfer.Para peneliti menganalisis total 89 studi untuk melakukan tinjauan sistematis tentang mikroplastik dan kesehatan laut, dilansir dari Euronews.
Mereka menemukan bahwa mikroplastik dapat mengganggu kehidupan laut, melepaskan gas rumah kaca saat terurai, dan bahkan dapat melemahkan "pompa karbon biologis".
Istilah "pompa karbon biologis" merujuk pada proses alami di lautan yang mentransfer karbon dari atmosfer ke lapisan laut dalam.
Peneliti juga menemukan bahwa mikroplastik mengganggu proses tersebut dengan mengurangi fotosintesis fitoplankton. Organisme laut kecil tersebut menggunakan sinar matahari, air, dan karbon dioksida untuk menciptakan energi dan melepaskan oksigen.
"Seiring waktu, perubahan ini dapat menyebabkan pemanasan laut, pengasaman, dan hilangnya keanekaragaman hayati, mengancam ketahanan pangan dan komunitas pesisir di seluruh dunia," jelas penulis utama studi, sekaligus associate professor teknologi pengolahan air terintegrasi, Dr. Ihnsanullah Obaidullah.
Jika lautan kehilangan kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida dan panas berlebih, lautan dapat melepaskan emisi kembali ke atmosfer. Hal itu berarti lautan beralih dari penyerap karbon menjadi penghasil karbon.
Hal ini telah terjadi di semua wilayah hutan hujan utama di bumi, antara lain di Amerika Selatan, Asia Tenggara, dan Afrika.
Para ilmuwan memperkirakan, tahun 2026 kemungkinan akan menjadi tahun keempat dalam catatan ketika suhu mencapai 1,4 derajat celsius di atas tingkat pra-industri, mendekati batas 1,5 derajat celsius yang diuraikan dalam Perjanjian Paris.
Baca juga: Mikroplastik Cemari Pakan Ternak, Bisa Masuk ke Produk Susu dan Daging
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya