Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Antisipasi Cuaca Ekstrem, Modifikasi Cuaca Digelar di 3 Lokasi

Kompas.com, 4 Maret 2026, 16:23 WIB
Zintan Prihatini,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) akan dilakukan di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali. Tujuannya mengantisipasi cuaca ekstrem yang masih melanda sejumlah wilayah, menurut Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani.

"BMKG sudah berkoordinasi dengan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) dan Pemerintah Provinsi, bahwa mulai hari ini dalam rangka mengantisipasi kondisi cuaca ekstrem BMKG dan BNPB akan memulai Operasi Modifikasi Cuaca di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan di Bali," ujar Faisal dalam konferensi pers yang ditayangkan di YouTube BMKG, Rabu (4/3/2026).

Baca juga: 

BMKG gelar modifikasi cuaca, antisipasi cuaca ekstrem

Modifikasi cuaca bisa turunkan curah hujan hingga 40 persen

BMKG dan BNPB akan menggelar modifikasi cuaca di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali untuk mengantisipasi cuaca ekstrem.Pexels/Lerone Pieters BMKG dan BNPB akan menggelar modifikasi cuaca di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali untuk mengantisipasi cuaca ekstrem.

Faisal menambahkan, OMC bakal digelar di Jakarta bergantung pada kondisi cuaca. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI telah menyatakan siap mendanai operasi tersebut guna mencegah banjir akibat hujan ekstrem.

Menurut dia, OMC dapat menurunkan curah hujan 20 hingga 40 persen.

"Itu (OMC) nanti tergantung dari kondisi cuaca ekstremnya, kalau kami prediksi mungkin sampai dengan beberapa hari ke depan masih terjadi akan kami lakukan. Nnti berapa sortie yang akan dilakukan, kemudian kapan dihentikan berbasis pada kondisi cuaca di lokasi-lokasi yang saya sebut tadi," beber Faisal.

Di sisi lain, dia menekankan pentingnya sistem drainase, normalisasi sungai, penataan tata ruang, hingga sempadan agar hujan yang turun bisa terserap dengan baik.

Baca juga:

3 bibit siklon di sekitar Indonesia, awas angin kencang

BMKG dan BNPB akan menggelar modifikasi cuaca di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali untuk mengantisipasi cuaca ekstrem.Pexels/Guilherme Christmann BMKG dan BNPB akan menggelar modifikasi cuaca di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali untuk mengantisipasi cuaca ekstrem.

Sementara itu, Pelaksana Harian Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani menjelaskan bahwa saat ini peningkatan cuaca ekstrem terjadi akibat bibit siklon 90S, 93S, dan 93P.

Berdasarkan pantauan Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta hingga pukul 07.00 WIB, ketiga sistem yang saat ini aktif antara lain bibit siklon tropis 90S di Samudera Hindia selatan Banten-Jawa Barat, bibit siklon tropis 93S di sebelah barat laut daratan Australia, serta bibit siklon tropis 92P di Teluk Carpentaria sebelah selatan Papua Selatan.

Dampak dari aktifnya sistem dinamika atmosfer ini yakni potensi hujan intensitas sedang hingga lebat di Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), serta Nusa Tenggara Timur (NTT).

Selain itu, potensi angin kencang di Bali, Yogyakarta, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Maluku, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan pesisir selatan Papua Selatan.

Baca juga: Krisis Iklim dan Kapal Besar Ancam Laut Karimunjawa, Bagaimana Nasib Nelayan?

"Tidak hanya bibit siklon saja, tetapi beberapa fenomena lain juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan hujan beberapa waktu lalu, sehingga menyebabkan terjadinya bencana hidrometeorologi seperti banjir di beberapa wilayah yang tadi disebutkan," ucap Ida.

Ia menyampaikan, fenomena lain yang turut berperan adalah aktifnya osilasi Madden-Julian Oscillation (MJO) di wilayah Indonesia bagian barat dan tengah serta masih aktifnya Monsun Asia.

Monsun Asia berkontribusi terhadap pengangkatan massa udara di wilayah Indonesia bagian selatan, termasuk Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, yang memicu pembentukan awan hujan signifikan.

Selain itu, faktor lokal juga dinilai memperkuat potensi peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah dalam beberapa hari terakhir. Ida turut menegaskan, fenomena gerhana bulan total tidak berdampak pada cuaca di Indonesia.

"Untuk gerhana bulan sendiri tidak memberikan pengaruh terhadap kondisi cuaca terutama di wilayah Indonesia," papar dia.

Baca juga: Pasca-Siklon Senyar, Ilmuwan Khawatir Populasi Orangutan Tapanuli Makin Terancam

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
Pemuda Desa Sumbersari Ubah Sampah Pasar Menjadi Kompos Bernilai Ekonomi
LSM/Figur
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Kemenhut Petakan 6,28 Juta Hektare Perhutanan Sosial untuk Perdagangan Karbon
Pemerintah
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
Teknologi Fermentasi ITB Pangkas Waktu Pengolahan Kakao dari 14 Hari Jadi 2 Hari
LSM/Figur
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
875 Bibit Ditanam Serentak di Kawasan Konservasi NTT, Ada Mangrove hingga Nangka
Pemerintah
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Perusahaan Dinilai Belum Maksimal Siapkan Pekerja Hadapi Disrupsi AI
Pemerintah
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
Gaya Hidup Berkelanjutan Tak Cukup Jadi Pilihan Individu, Butuh Dukungan Ekosistem
LSM/Figur
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Menteri LH Klaim Karhutla di Lahan Konsesi Turun Akibat Sanksi Hukum
Pemerintah
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
PBB Sebut Perusahaan Masih Acuh Saat Target Lingkungan 2030 Meleset
Pemerintah
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
4.000 Pekerja Pemilah Sampah Informal di Bantargebang Dapat Jaminan Sosial
Pemerintah
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pramono: Pilah Sampah di Jakarta Capai 23 Persen, 8.615 Fasilitas Pengelolaan Disiapkan
Pemerintah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Indonesia Dinilai Terlambat Terapkan EPR, Produsen Bakal Wajib Biayai Pengelolaan Sampah
Pemerintah
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Peran Teknologi Informatika: Bantu Olah Data Biodiversitas jadi Panduan Kebijakan
Pemerintah
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
Geomembrane Tutup Gunungan Sampah Bantargebang Dinilai Bukan Solusi Akhir
LSM/Figur
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Edukasi di Kebun Binatang Perkuat Hubungan Masyarakat dengan Alam
Pemerintah
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Studi Ungkap Emisi Metana dari TPA Jauh Lebih Tinggi dari Perkiraan
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau