KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), memantau pergerakan bibit siklon tropis 96S, yang memicu hujan lebat di Sumatera Selatan, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Sulawesi Selatan beberapa hari terakhir.
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani mengatakan cuaca ekstrem diakibatkan kombinasi sirkulasi siklonik, dan penguatan monsun dingin Asia.
Baca juga:
Keberadaan sistem ini membentuk dan memperkuat daerah konvergensi dalam skala luas di wilayah selatan Indonesia, meliputi Pulau Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.
"Meskipun bibit siklon tropis 96S saat ini telah melemah dan dinyatakan punah, namun dinamika atmosfer kembali menunjukkan adanya pembentukan Bibit siklon tropis 97S di wilayah Laut Timor," kata Andri dalam keterangannya, Kamis (22/1/2026).
Alhasil, dinamika itu meningkatkan potensi hujan dengan intensitas lebat sampai sangat lebat terutama di NTT dan NTB.
BMKG mencatat bibit siklon tropis dan beberapa faktor lainnya memicu hujan ekstrem di sejumlah wilayah hingga 26 Januari. Kondisi di atmosfer juga dipengaruhi aktifnya monsun asia yang membawa suplai massa udara lembap dari Laut China Selatan, lalu bergerak melalui Selat Karimata hingga mencapai Pulau Jawa. Pergerakannya disertai penguatan angin baratan di sekitar wilayah selatan Indonesia.
Andri menyebut, aliran massa udara lembap berkontribusi terhadap peningkatan pertumbuhan awan hujan di daerah terdampak. BMKG memprediksi cuaca ekstrem bakal berlangsung sampai 26 Januari 2026.
"Cuaca di Indonesia umumnya didominasi oleh kondisi hujan ringan hingga hujan lebat. Perlu diwaspadai adanya peningkatan hujan dengan intensitas sedang," ucap Andri.
Wilayah yang perlu waspada, antara lain sumatera Selatan, Bengkulu, Daerah Istimewa Yogyakarta, Bali, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua, Papua Pegunungan, Papua serta Papua Selatan.
Baca juga:
BMKG mencatat bibit siklon tropis dan beberapa faktor lainnya memicu hujan ekstrem di sejumlah wilayah hingga 26 Januari. Dalam beberapa hari ke depan, BMKG memperkirakan dinamika atmosfer pada skala global, regional, dan lokal masih signifikan terhadap kondisi cuaca.
El Nino southern oscillation (ENSO) terpantau menguat pada fase negatif yang mengindikasikan La Nina lemah, dengan nilai southern oscillation index (SOI) cenderung positif.
"Kondisi ini berpotensi meningkatkan pasokan uap air yang mendukung pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia," ungkap dia.
Sementara itu, aktivitas madden julian oscillation (MJO) diprediksi aktif melintasi NTB, NTT, Laut Flores, Laut Timor, dan Samudra Hindia selatan NTT. Dampaknya, meningkatkan awan hujan di wilayah-wilayah tersebut.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya