Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bukan PHK, Survei Sebut AI Bakal Perbanyak Lowongan Kerja

Kompas.com, 5 Maret 2026, 15:11 WIB
Manda Firmansyah,
Ni Nyoman Wira Widyanti

Tim Redaksi

Sumber Reuters, ECB

KOMPAS.com - Tren peningkatan penggunaan AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) oleh perusahaan dikhawatirkan dapat menghilangkan banyak lapangan pekerjaan. 

Pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dipicu adopsi AI oleh perusahaan telah terjadi di Amerika Serikat (AS). Misalnya, Amazon yang telah melakukan PHK terhadap ribuan pekerjanya dan mengganti posisi mereka dengan AI.

Baca juga:

Namun, alih-alih memicu gelombang PHK, European Central Bank (ECB) justru menyebut, tren peningkatan penggunaan AI oleh perusahaan kemungkinan justru menciptakan lapangan pekerjaan.

AI dan penciptaan lapangan pekerjaan

Perusahaan yang menggunakan AI disebut memerlukan karyawan tambahan

Perusahaan yang berencana berinvestasi dalam AI Disebut akan merekrut lebih banyak orang daripada perusahaan yang tidak bergerak ke arah yang sama.Dok. Freepik/Lifestylememory Perusahaan yang berencana berinvestasi dalam AI Disebut akan merekrut lebih banyak orang daripada perusahaan yang tidak bergerak ke arah yang sama.

Berdasarkan survei ECB tentang Access to Finance of Enterprises (Akses ke Pembiayaan Perusahaan), investasi dan penggunaan intensif AI saat ini belum menggantikan pekerja.

Bahkan, beberapa perusahaan justru merekrut karyawan tambahan, kemungkinan karena ingin mengembangkan dan menerapkan teknologi AI sembari mempertahankan proses produksi yang ada. 

Kondisi itu mengingat AI diperlakukan sebagai alat untuk membantu perusahaan meningkatkan skala produksi dengan lebih cepat.

Dalam satu tahun ke depan, perusahaan yang berencana berinvestasi dalam AI, masih akan merekrut lebih banyak orang daripada yang perusahaan yang tidak berjalan ke arah yang sama.

Beberapa perusahaan kemungkinan memang menggunakan AI untuk menggantikan pekerja. Kendati demikian, perusahaan umumnya lebih cenderung merekrut staf tambahan untuk memungkinkan mereka menggunakan dan berinvestasi dalam AI.

"Perusahaan yang banyak menggunakan AI sekitar empt lebih mungkin untuk merekrut staf tambahan. Dengan kata lain, perusahaan yang banyak menggunakan AI cenderung, rata-rata, lebih banyak merekrut daripada memecat," demikian keterangan dalam laman resminya, yang ditulis oleh dua staf ekonom ECB, Laura Lebastard dan David Sondermann, dilansir dari Reuters dan ECB, Kamis (5/3/2026).

Baca juga:

Ekspektasi positif terhadap pertumbuhan lapangan kerja

Perusahaan yang berencana berinvestasi dalam AI Disebut akan merekrut lebih banyak orang daripada perusahaan yang tidak bergerak ke arah yang sama.SHUTTERSTOCK/GAUDILAB Perusahaan yang berencana berinvestasi dalam AI Disebut akan merekrut lebih banyak orang daripada perusahaan yang tidak bergerak ke arah yang sama.

Perusahaan yang berencana berinvestasi di AI juga cenderung memiliki ekspektasi positif terhadap pertumbuhan lapangan kerja masa depan, bahkan ketika ekspektasi investasi keseluruhan perusahaan mereka telah diperhitungkan.

Apalagi, penghentian dalam perekrutan karyawan karena investasi AI yang direncanakan tidak mungkin terjadi dalam satu tahun ke depan.

Namun, temuan dari survei ECB ini bisa berubah dalam jangka waktu yang berbeda. Sebagai referensi, studi terbaru dari Institut Ifo mengungkapkan, lebih dari seperempat perusahaan Jerman memperkirakan AI akan menyebabkan PHK dalam lima tahun ke depan.

Diketahui, survei ECB melibatkan 5.000 responden perusahaan di Eropa, dengan dua pertiganya melaporkan bahwa karyawan mereka menggunakan AI.

Baca juga:

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau