Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Celah Tata Kelola AI Timbulkan Risiko terhadap Implementasi ESG

Kompas.com, 25 Februari 2026, 14:45 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber knowesg

KOMPAS.com - Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) mengungkap adanya celah tata kelola AI yang kian lebar antara kebijakan perusahaan dengan praktik di lapangan. Hal ini menciptakan risiko implementasi ESG yang signifikan, baik bagi perusahaan maupun para investor.

Sebagai informasi, risiko ESG merupakan risiko atau potensi kerugian yang dihadapi perusahaan akibat kegagalan dalam mengelola dampak lingkungan, tanggung jawab sosial, dan tata kelola perusahaan yang baik.

Misalnya saja, jika AI sebuah perusahaan ternyata boros energi, investor bisa menarik modal mereka karena skor ESG jatuh dan perusahaan pun bisa terkena denda yang besar.

Melansir Know ESG, Selasa (24/2/2026) kesimpulan tersebut merupakan hasil analisis baru oleh Thomson Reuters Foundation melalui AI Corporate Data Initiative (AICDI) terhadap 1.000 perusahaan di 13 sektor.

Analisis menunjukkan bahwa meskipun adopsi AI semakin cepat, kerangka tata kelola masih tertatih-tatih untuk mengimbanginya.

Baca juga: AI Bikin Jaringan 5G Lebih Hemat Energi, Bantu Capai Target ESG

Hampir 48 persen perusahaan yang disurvei menyatakan bahwa mereka telah memiliki strategi atau panduan AI. Namun, celah transparansi yang besar terkait ESG dari sistem AI tersebut masih terjadi.

AI Etis Hanya di Atas Kertas

Laporan mengungkapkan pula 71 persen perusahaan yang memiliki strategi AI sudah mencantumkan prinsip-prinsip seperti AI yang etis, aman, atau tepercaya.

Sayangnya, data menunjukkan bahwa komitmen-komitmen ini sering kali kurang bermakna.

Salah satu titik buta terbesar adalah dampak lingkungan. Fakta yang mengejutkan menunjukkan bahwa 97 persen perusahaan gagal mempertimbangkan konsumsi energi atau jejak karbon dari sistem AI mereka saat mengambil keputusan penerapan.

Seiring dengan model AI yang semakin kompleks, permintaan energinya diperkirakan akan terus meningkat, sehingga praktik AI Hijau menjadi sangat kritis bagi keberlanjutan jangka panjang.

Dimensi sosial juga menunjukkan kekhawatiran yang serupa. Lebih dari dua pertiga (68 persen) perusahaan yang memiliki strategi AI tidak sepenuhnya mengkaji dampak sosial yang lebih luas dari teknologi mereka.

Tanpa evaluasi yang tepat terhadap dampaknya bagi masyarakat, kelompok rentan, atau sistem demokrasi, perusahaan berisiko menghadapi kerusakan reputasi dan tuntutan hukum.

Struktur tata kelola juga tampak lemah. Meskipun 76 persen perusahaan melaporkan adanya pengawasan AI di tingkat manajemen, hanya 41 persen yang membuat kebijakan AI mereka dapat diakses oleh karyawan atau mewajibkan pernyataan pemahaman.

Kesenjangan ini menunjukkan bahwa banyak kerangka tata kelola AI masih bersifat teoritis ketimbang operasional.

Perbedaan Pengawasan AI

Laporan ini menyoroti perbedaan yang signifikan dalam transparansi dan pengawasan AI.

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
Kisah Para Ibu Pemulung yang Punya Dana Darurat dari Menabung Sampah
LSM/Figur
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Menhut Pamerkan Potensi Perdagangan Karbon RI di Forum Internasional AS
Pemerintah
Jutaan Anak Indonesia Terdampak Krisis Iklim, Perempuan Paling Rentan
Jutaan Anak Indonesia Terdampak Krisis Iklim, Perempuan Paling Rentan
Pemerintah
Data 60 Tahun Ungkap Ketidakjelasan Tugas Jadi Sumber Stres Utama Karyawan
Data 60 Tahun Ungkap Ketidakjelasan Tugas Jadi Sumber Stres Utama Karyawan
Pemerintah
Ilmuwan Peringkatkan Potensi Peningkatan Cuaca Ekstrem Sepanjang 2026
Ilmuwan Peringkatkan Potensi Peningkatan Cuaca Ekstrem Sepanjang 2026
Pemerintah
Petrofin Journalist Academy ke-5 Digelar, Dukung Anak Muda Optimalkan AI
Petrofin Journalist Academy ke-5 Digelar, Dukung Anak Muda Optimalkan AI
BUMN
Proyek Energi Terbarukan dengan Baterai di Eropa Naik 450 Persen pada 2030
Proyek Energi Terbarukan dengan Baterai di Eropa Naik 450 Persen pada 2030
Pemerintah
DEN: WFH Namun Jalanan Masih Macet, Artinya  Ada yang Salah
DEN: WFH Namun Jalanan Masih Macet, Artinya Ada yang Salah
Pemerintah
1 Dekade Elektrifikasi di China, Jejak Revolusi Senyap Menuju Masa Depan Hijau
1 Dekade Elektrifikasi di China, Jejak Revolusi Senyap Menuju Masa Depan Hijau
BUMN
Jalan Panjang Talenta Indonesia dan Upaya Bangun Generasi Siap Masa Depan di Asia Tenggara
Jalan Panjang Talenta Indonesia dan Upaya Bangun Generasi Siap Masa Depan di Asia Tenggara
BrandzView
Dilema AI: Diandalkan untuk Efisiensi, Diragukan untuk Ekspansi Bisnis
Dilema AI: Diandalkan untuk Efisiensi, Diragukan untuk Ekspansi Bisnis
Pemerintah
Hujan Diprediksi Masih Melanda Sejumlah Wilayah di Tengah Cuaca Panas
Hujan Diprediksi Masih Melanda Sejumlah Wilayah di Tengah Cuaca Panas
Pemerintah
India dan Pakistan Dilanda Gelombang Panas, Suhu Capai 50 Derajat
India dan Pakistan Dilanda Gelombang Panas, Suhu Capai 50 Derajat
Swasta
EL Nino dan IOD Tingkatkan Risiko Konflik Bersenjata
EL Nino dan IOD Tingkatkan Risiko Konflik Bersenjata
LSM/Figur
Manfaatkan Barang Bekas untuk Bersihkan Sampah, Siswi SMAN 40 Jakarta Bikin 'Sapu Teknologi'
Manfaatkan Barang Bekas untuk Bersihkan Sampah, Siswi SMAN 40 Jakarta Bikin "Sapu Teknologi"
BUMN
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau