KOMPAS.com - Aliansi Surya Internasional (International Solar Alliance atau ISA) telah meluncurkan misi global untuk mempercepat adopsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) dalam sistem energi terbarukan di lebih dari 120 negara anggotanya.
Infrastruktur digital dan platform yang berpusat pada warga diposisikan sebagai inti dari transisi energi. AI diniali dapat mengubah perencanaan energi, manajemen jaringan, dan penyampaian layanan, khususnya di negara-negara berkembang di mana akses listrik yang andal masih tidak merata.
Baca juga:
Dilansir dari Down to Earth, Kamis (19/2/2026), misi yang diusulkan ISA bertujuan menyatukan pemerintah, industri, lembaga keuangan, dan organisasi multilateral untuk meningkatkan skala sistem energi terbarukan digital dan berbasis AI.
Inisiatif ini berupaya menyelaraskan kerangka kebijakan, memperkuat infrastruktur data, membangun kapasitas teknis, serta memobilisasi pendanaan.
Langkah iniagar bisa bertransformasi melampaui proyek percontohan yang terisolasi, menuju transformasi sistem secara menyeluruh.
Solusi berbasis AI dapat membantu negara-negara melewati jalur infrastruktur lama, dengan meningkatkan ketahanan jaringan listrik, memangkas biaya operasional, serta mempercepat penerapan energi terbarukan yang terdesentralisasi.
Baca juga:
AI dapat mengubah perencanaan energi, manajemen jaringan, dan penyampaian layanan, khususnya di negara-negara berkembang.India mengalami perkembangan pesat kapasitas energi terbarukan dan sistem energi terdistribusi.
Platform berbasis teknologi telah mempercepat adopsi energi surya atap, dengan mengubahnya dari yang dulunya konsep percontohan, menjadi program nasional yang dapat dikembangkan secara luas.
AI berperan semakin signifikan dalam mengelola aliran daya dua arah, memprediksi permintaan, dan mengoptimalkan operasi jaringan listrik seiring bertambah banyaknya konsumen yang menjadi produsen energi.
Transisi energi global semakin terdesentralisasi, dengan instalasi tenaga surya terdistribusi menciptakan tuntutan baru pada jaringan listrik dan model keuangan.
"Digitalisasi dan AI saat ini sangat penting untuk meningkatkan skala energi terbarukan secara efisien sekaligus memastikan akses yang adil," ujar Direktur Jenderal ISA, Ashish Khanna, dilansir dari Down to Earth.
Berdasarkan laporan terbaru dari ISA, perluasan energi terbarukan dan adopsi AI saling memperkuat. Energi terbarukan yang terjangkau memungkinkan pertumbuhan digital dan AI mendukung peningkatan skala sistemnya secara efisien.
ISA memperlihaktkan beberapa solusi teknologi yang dirancang untuk direplikasi di seluruh negara anggota. Antarmuka Konsumen Digital, Aplikasi One Solar, yang dikembangkan oleh BSES Rajdhani Power Limited, memungkinkan pendaftaran digital, transparansi net-metering, dan pemantauan kinerja bagi pengguna panel surya atap.
Perusahaan rintisan India mendemonstrasikan Solusi Kembaran Digital untuk perusahaan utilitas, dengan menciptakan replika virtual jaringan distribusi listrik untuk simulasi waktu nyata, pemeliharaan prediktif, dan perencanaan integrasi energi terbarukan.
Sementara itu, inisiatif modernisasi distribusi berbasis GIS oleh Andhra Pradesh Eastern Power Distribution Company Limited menggunakan pemetaan geospasial untuk meningkatkan perencanaan infrastruktur, manajemen gangguan, dan optimalisasi aset.
ISA menyatakan bahwa misi ini bertujuan untuk memastikan bahwa energi terbarukan yang didukung AI bisa memberikan manfaat bagi masyarakat di tingkat akar rumput, sekaligus mendukung pembangunan ekonomi dan tujuan iklim.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya