KOMPAS.com - Generasi Milenial disebut menjadi pengguna AI (Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan) paling efektif, berdasarkan laporan McKinsey tahun 2025 tentang "super-agency" yang dicetuskan oleh salah satu pendiri LinkedIn, Reid Hoffman.
Adapun "super-agency" merujuk pada kondisi ketika AI diterapkan secara efektif untuk menggandakan dampak dan terintegrasi pada tiap lini pekerjaan, dilansir dari Forbes, Sabtu (28/2/2026).
Baca juga:
"Super-agency" AI terjadi ketika individu, yang diberdayakan oleh AI, meningkatkan kreativitas, produktivitas, dan dampak positif mereka secara luas.
Dengan demikian, mereka yang tidak terlibat langsung dengan AI pun dapat memperoleh manfaat dari efeknya yang lebih luas terhadap pengetahuan, efisiensi, dan inovasi.
Menurut laporan tersebut, adopsi AI di perusahaan sudah menuju fase penggunaan sehingga menuntut tim untuk menerapkannya.
Kendati potensi AI sangat signifikan, laporan McKinsey mencatat bahwa sebagian besar pemimpin senior tidak menyadarinya atau bergerak terlalu lambat dan berisiko tertinggal sama sekali.
Maka dari itu, ke depannya, akan ada kelompok pekerja tertentu yang muncul sebagai pengguna AI yang handal.
Kelas pengguna "super-agency" ini akan secara fundamental membentuk seberapa efektif perusahaan dalam tetap unggul dalam adopsi AI.
Laporan McKinsey 2025 menyebut Generasi Milenial paling efektif dalam adopsi AI di perusahaan. Simak alasannya.Secara spesifik, laporan McKinsey mencatat, sebagian besar manajer dan pemimpin tim di organisasi adalah Generasi Milenial berusia 35-44 tahun.
Sekitar 62 persen Generasi Milenial di organisasi melaporkan tingkat keahlian AI yang tinggi. Sementara itu, tingkat keahlian AI yang tinggi pada Generasi Z (Gen Z) sebesar 50 persen dan Generasi Baby Boomer di atas 65 tahun hanya 22 persen.
Para manajer milenial berada pada posisi yang tepat untuk mendorong adopsi AI karena peran mereka berada di antara eksekusi dan strategi. Mereka dinilai mampu menjalankan apa yang selama ini hanya dipertimbangkan secara teori.
Generasi tersebut juga dinilai dekat dengan staf lini depan dan operasional untuk melihat di mana AI dapat memberikan dampak terbesar.
AI memungkinkan para manajer Milenial menerjemahkan AI ke operasional dan memiliki kekuatan untuk beralih dari eksperimen percontohan ke implementasi skala penuh dalam tim mereka.
Para manajer milenial bisa menggunakan data, alat analisis, serta pelaporan untuk melihat mana dampak terbesar berada dan efek penggunaan AI di dalam departemen mereka.
Tim lebih cenderung terlibat aktif dengan para manajer milenial daripada dengan pimpinan senior.
Para manajer Milenial berada dalam posisi strategis untuk mencegah AI bayangan dan secara aktif bekerja sama dengan tim mereka untuk menjadikannya pelopor inovasi.
Baca juga:
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya