Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Wahyu Nugroho
Dosen

Pengajar/Peneliti Hukum Lingkungan dan Pengelolaan SDA. Dosen Fakultas Hukum Universitas Sahid.

Ekologi Pesisir Terancam Beton

Kompas.com, 6 Maret 2026, 09:11 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini
Editor Wisnubrata

LAUT seharusnya dipahami sebagai ekosistem yang harus dijaga, bukan sekadar ancaman yang harus dibendung. Namun di tengah krisis iklim yang semakin nyata, negara justru kembali menawarkan solusi lama: membangun tembok beton raksasa untuk menahan laut.

Ironisnya, gagasan ini muncul ketika pesisir utara Jawa sedang menghadapi krisis ekologis yang serius. Penurunan muka tanah, kenaikan muka laut, serta banjir rob yang semakin sering telah menjadikan kawasan ini salah satu wilayah paling rentan terhadap perubahan iklim di Asia Tenggara.

Dalam situasi tersebut, pemerintah kembali menghidupkan proyek tanggul laut raksasa (giant sea wall) sebagai strategi utama melindungi Jakarta dan kota-kota di Pantai Utara Jawa. Dalam berbagai kesempatan, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menyatakan komitmen untuk melanjutkan pembangunan tanggul laut raksasa sebagai bagian dari agenda pembangunan infrastruktur dan perlindungan pesisir.

Proyek ini dipresentasikan sebagai strategi adaptasi terhadap perubahan iklim sekaligus solusi jangka panjang menghadapi ancaman kenaikan muka laut. Dengan logika tersebut, tanggul laut raksasa diposisikan sebagai benteng yang akan menyelamatkan kota dari ancaman laut.

Namun di balik ambisi infrastruktur tersebut muncul pertanyaan mendasar: apakah tembok beton raksasa benar-benar mampu menyelesaikan persoalan ekologis yang kompleks di wilayah pesisir?

Baca juga: Di Balik Tanggul Laut Bocor, Ada Warga yang Selalu Waswas

Dalam literatur perubahan iklim, pembangunan tanggul laut raksasa termasuk pendekatan hard engineering adaptation yakni strategi adaptasi yang mengandalkan rekayasa infrastruktur besar untuk menahan dampak perubahan lingkungan.

Pendekatan ini sering dianggap sebagai solusi cepat karena mampu memberikan perlindungan fisik secara langsung. Namun banyak ilmuwan pesisir mengingatkan bahwa pendekatan ini sering menciptakan paradoks ekologis.

Ahli geomorfologi pesisir dari Duke University, Orrin H. Pilkey, misalnya, telah lama mengkritik ketergantungan pada struktur keras seperti seawall. Menurutnya, pembangunan tanggul laut sering menjadi solusi jangka pendek yang justru mempercepat kerusakan pantai dalam jangka panjang karena mengubah dinamika gelombang, arus laut, dan sedimentasi alami.

Pandangan serupa disampaikan oleh ilmuwan kelautan dari University of Hawai, Chip Fletcher. Fletcher menilai bahwa seawall dalam banyak kasus mempercepat erosi pantai serta merusak ekosistem pesisir yang sebenarnya berfungsi sebagai benteng alami terhadap gelombang laut.

Dalam konteks Pantai Utara Jawa, risiko tersebut tidak bisa dianggap remeh. Kawasan ini merupakan ekosistem pesisir yang kompleks, dengan keberadaan mangrove, perairan dangkal, dan wilayah tangkap ikan yang menjadi sumber kehidupan bagi jutaan masyarakat pesisir.

Intervensi infrastruktur besar berpotensi mengganggu keseimbangan ekologis yang selama ini menopang kehidupan sosial ekonomi masyarakat pesisir.

Baca juga: Tanggul Laut Pantura: Antara Beton, Mangrove, dan Data Geospasial

Kritik terhadap proyek tanggul laut raksasa juga tidak bisa dilepaskan dari aspek keadilan ekologis. Pembangunan infrastruktur pesisir skala besar sering kali tidak hanya mengubah lanskap lingkungan, tetapi juga mengubah struktur sosial ekonomi masyarakat lokal. Nelayan tradisional merupakan kelompok yang paling rentan terhadap perubahan tersebut.

Pembangunan tanggul laut berpotensi membatasi akses nelayan ke wilayah tangkap mereka serta mengubah dinamika ekosistem laut yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka.

Dalam perspektif hukum lingkungan, situasi ini bertentangan dengan prinsip environmental justice, yakni gagasan bahwa kebijakan lingkungan harus melindungi kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap dampak ekologis. Adaptasi terhadap perubahan iklim tidak boleh menghasilkan ketidakadilan baru bagi masyarakat pesisir yang selama ini justru menjadi penjaga ekosistem laut.

Jika proyek perlindungan kota justru mengorbankan nelayan tradisional, maka proyek tersebut tidak hanya bermasalah secara ekologis, tetapi juga secara moral dan sosial.

Baca juga: Proyek Tanggul Laut Raksasa Rp 1,28 Kuadriliun Dinilai Rusak Pulau Jawa

Halaman:

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Pemerintah
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Pemerintah
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Swasta
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Pemerintah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
Pemerintah
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Pemerintah
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
Pemerintah
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Pemerintah
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau