KOMPAS.com - Badan Lingkungan Nasional Singapura (National Environment Agency/NEA) memperkuat kapasitas keselamatan nuklir melalui kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) serta regulator dari sejumlah negara, seperti Finlandia, Prancis, dan Amerika Serikat.
Selain itu, NEA juga menjalin kemitraan dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapan menghadapi perkembangan energi nuklir di kawasan.
Langkah ini dilakukan seiring meningkatnya perhatian Singapura terhadap potensi pemanfaatan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), meski hingga kini pemerintah belum mengambil keputusan untuk mengadopsi teknologi tersebut.
Baca juga: BRIN Butuh Sekitar 200 Peneliti Nuklir untuk Pembangunan PLTN 2032
NEA menyatakan pihaknya terus memantau perkembangan global dan memperkuat keahlian di bidang keselamatan nuklir.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, NEA akan menugaskan tiga proyek penelitian yang berfokus pada keselamatan nuklir dan dampak lingkungan dari fasilitas PLTN.
Ketiga studi tersebut mencakup standar keselamatan internasional, kerangka regulasi, serta pertimbangan lingkungan, termasuk upaya melindungi kesehatan masyarakat dan mencegah kecelakaan.
“Upaya ini juga memungkinkan kami berkontribusi dalam diskusi regional tentang energi nuklir dan mempersiapkan diri menghadapi kawasan yang mulai mengembangkan PLTN,” demikian pernyataan NEA, dikutip dari Channel News Asia, Rabu (1/4/2026).
Penelitian yang ditugaskan NEA akan mencakup tiga aspek utama, yakni standar keselamatan yang diterapkan secara global, kerangka regulasi fasilitas nuklir, serta dampak lingkungan dari pengembangan energi nuklir.
Studi ini akan melengkapi kajian yang sebelumnya dilakukan oleh Otoritas Pasar Energi Singapura (Energy Market Authority/EMA), yang mengevaluasi kinerja keselamatan dan kelayakan teknologi nuklir canggih.
Pada 2025, EMA menunjuk perusahaan konsultan asal Inggris, Mott MacDonald, untuk melakukan studi selama dua tahun terkait teknologi nuklir, termasuk reaktor modular kecil (small modular reactors/SMR).
Baca juga: Indonesia Ingin Bangun PLTN, tapi Geopolitik Jadi Pertimbangan Utama
Evaluasi tersebut mencakup aspek keselamatan, tingkat kematangan teknologi, serta kesiapan komersial.
Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia juga tengah mempertimbangkan pengembangan PLTN sebagai bagian dari rencana ketenagalistrikan nasional.
Penasihat Presiden Urusan Energi, Purnomo Yusgiantoro, mengatakan pemerintah masih mengevaluasi berbagai aspek, termasuk lokasi pembangunan dan kelayakan proyek.
“Tempatnya sedang kami evaluasi. Kami mesti hati-hati,” ujar Purnomo, Kamis (20/11/2025).
Ia menekankan pentingnya penerimaan publik dalam rencana pembangunan PLTN, mengingat proyek serupa di masa lalu sempat menghadapi penolakan masyarakat.
“Public acceptance itu penting sekali,” kata dia.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya