KOMPAS.com - Menteri Keuangan Australia, Jim Chalmers, dan Menteri Lingkungan Hidup Australia, Murray Watt, mengumumkan skema daur ulang nasional senilai 24 juta dolar AS atau setara Rp 408 miliar untuk mengatasi limbah panel surya bekas yang mulai "menggunung".
Penumpukan limbah panel surya bekas yang dilepaskan dari atap rumah-rumah di Australia perlu segera diatasi, bahkan sebelum skema daur ulang nasional dapat berdiri sendiri.
"Mendaur ulang panel surya dan menggunakan kembali sumber daya penting kita adalah bagian penting dari transformasi energi dan itulah inti dari semua ini," ujar Chalmers, dilansir dari ABC, Kamis (2/4/2026).
Seorang juru bicara pemerintah menyebut, skema daur ulang nasional tersebut merupakan proyek percontohan untuk menguji pengumpulan, pengangkutan, serta daur ulang di dunia nyata dalam upaya mengidentifikasi tantangan dan peluangnya.
Skema percontohan tersebut juga bertujuan mengumpulkan data yang dibutuhkan untuk mengembangkan program pengelolaan lingkungan.
Temuan dari skema percontohan tersebut akan berkontribusi pada proposal tata kelola produk di masa mendatang untuk dipertimbangkan oleh pemerintah. Ini mengingat pada tahun 2030, limbah panel surya di Australia diproyeksikan akan meningkat 18 kali lipat dalam satu dekade ke depannya.
Biaya pengangkutan panel surya bekas dari atap ke fasilitas daur ulang menjadi hambatan utama. Dari aspek keekonomian, daur ulang panel surya bekas sebenarnya sudah hampir mencapai titik impas. Namun, biaya logistik menyebabkan daur ulang panel surya bekas di Australia menjadi tidak menguntungkan.
"Saat ini, memindahkan panel dari atap di daerah pedesaan Australia ke fasilitas daur ulang membutuhkan biaya lebih besar daripada nilai materialnya," ujar Robyn Cowie dari Smart Energy Council, dilansir dari ABC.
Senada, CEO perusahaan daur ulang global, TerraCycle, Tom Szaky mengatakan, daur ulang panel surya tidak menguntungkan dan biaya layanan meningkat seiring semakin jauh jarak untuk mengangkutnya.
"Penting untuk benar-benar waspada terhadap hal ini — membuangnya jauh lebih murah. Menjual bahan-bahan tersebut saja tidak cukup untuk menutupi biaya pengumpulan dan pengolahan," tutur Szaky.
Ia menggarisbawahi bahwa permasalahan sebenarnya dari daur ulang panel surya bekas adalah siapa yang akan membayarnya.
Sejumlah Pelajar SMPN 7 Kota Cirebon yang tergabung dalam Divisi Konservasi Energi, mengembangkan alat siram otomatis berbasis panel surya di sekolahnya pada Selasa (9/9/2025) siang. Mereka kini tengah mengerjakan lampu tembak untuk kegiatan belajar menggunakan metode panel surya."Tidak ada jawaban yang tepat, tetapi proyek ini tidak akan membiayai dirinya sendiri. Jika memang demikian, Anda pasti sudah memiliki skema daur ulang yang kuat," ucapnya.
Kekhawatiran terkait biaya mengingatkan pada skema daur ulang oleh RedCycle, yang bangkrut pada tahun 2022.
Kini, perusahaan-perusahaan yang mengimpor panel surya ke Australia tidak dibebani tanggung jawab untuk pengelolaan limbah usai masa pakainya berakhir.
"Orang-orang yang menghasilkan uang dengan memasok sistem tenaga surya ini tidak melakukan apa pun," tutur mantan CEO Australian Resources Recovery Council, Rick Ralph.
Padahal, laporan Komisi Produktivitas mengungkapkan bahwa panel surya mengandung bahan berbahaya, seperti timbal, kadmium dan litium.
Panel surya bekas juga mengandung bahan penting bernilai tinggi lainnya yang dapat menimbulkan risiko kebakaran serius jika tidak dikelola dengan benar.
Merujuk pada laporan Komisi Produktivitas, pemerintah Australia merekomendasikan program tata kelola, yang mana produsen, importir, dan pengecer memikul tanggung jawab bersama atas pengelolaan limbah panel surya.
Skema pertanggungjawaban limbah panel surya dapat serupa dengan sistem deposit wadah (Deposit-Refund System / DRS).
DRS adalah mekanisme pengelolaan yang mana konsumen membayar deposit tambahan saat membeli produk dalam wadah dan mendapatkan kembali uangnya usai menyetorkan sampahnya ke pusat pengumpulan.
Di dalam skema DRS, tanggung jawab pengelolaan limbah panel surya akan diserahkan kepada produsen.
"Pemilik rumah mungkin membayar sedikit lebih banyak di muka, tetapi ini memastikan panel surya mereka didaur ulang secara bertanggung jawab. Hal ini memberikan kepastian kepada publik bahwa pilihan energi hijau mereka tidak memiliki dampak negatif," tutur Cowie.
Sebelumnya, Vice President Operations, Xurya Daya Indonesia, Philip Effendy mengatakan, ekosistem ekonomi sirkular di Indonesia untuk mengelola limbah panel surya masih belum berjalan dengan baik.
Tempat-tempat untuk mengelola limbah B3 di Indonesia memang sudah ada, namun tempat untuk mengembalikan limbah B3 menjadi material dasar yang dapat dipakai lagi belum ada.
"Kami sih berharap sebenarnya ketika kesempatan itu muncul, ada penyedia yang bisa membantu kami menciptakan ekonomi sirkular ini. Kami tentu sebagai pemberi solusi juga akan memastikan kita kerja sama dan mencari win-win solution dari seluruh PLTS atap," tutur Philip di Kota Bekasi, Rabu (11/2/2026).
Terdapat banyak material bernilai dari panel surya yang sudah rusak atau habis masa pakainya, seperti aluminium, tembaga, silika, kasa, sampai microchip.
"Jadi kalau dibedah banyak mineral-mineral yang bisa diekstrak dari alat ini ketika di recycle kembali. Cuman memang di Indonesia belum ada ya untuk (mengelolanya agar bisa dipakai lagi. Cuman kalau di tetangga, Singapore, itu Thailand juga sudah ada," ucapnya.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya