KOMPAS.com - Data sementara yang dirilis oleh Departemen Keamanan Energi dan Net Zero Inggris (DESNZ) menunjukkan emisi gas rumah kaca Inggris turun 2 persen pada 2025.
Laporan ini mencerminkan perubahan struktural berkelanjutan di seluruh industri dan sistem energi.
Melansir ESG News, Kamis (2/4/2026) total emisi pada tahun lalu diperkirakan sebesar 367 juta metrik ton setara karbon dioksida, turun 7 juta ton dari tahun 2024.
Penurunan ini melanjutkan tren jangka panjang di mana emisi Inggris telah berkurang sekitar 54 persen dibandingkan level tahun 1990, menjadikan negara ini sebagai salah satu pemimpin di antara ekonomi G7 dalam hal pengurangan emisi.
Perubahan paling besar terjadi di sektor industri, di mana emisi turun sebesar 12 persen.
Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh penutupan blast furnace pada industri besi dan baja, yang secara drastis mengurangi penggunaan gas.
Meskipun penurunan ini membantu mencapai target iklim jangka pendek, hal ini juga memicu pertanyaan mendalam mengenai daya saing industri, ketahanan rantai pasok, dan masa depan kapasitas manufaktur dalam negeri.
Baca juga: Hadapi Suhu Ekstrem, Inggris Bentuk Komisi Khusus Risiko Panas
Sektor kelistrikan Inggris terus berkembang setelah mencatat sejarah penting pada tahun 2024, yaitu tahun pertama tanpa listrik dari batu bara dalam lebih dari 140 tahun.
Penutupan pembangkit listrik tenaga batu bara terakhir pada September 2024 menandai berakhirnya era yang dulu menjadi penggerak utama kemajuan industri Inggris.
Emisi sektor listrik hanya turun tipis sebesar 1 persen pada tahun 2025. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar upaya pengurangan karbon sudah berhasil dilakukan sebelumnya melalui peralihan ke energi terbarukan dan gas.
Penurunan yang kecil ini menandakan bahwa pengurangan emisi di masa depan akan sangat bergantung pada fleksibilitas jaringan listrik, penggunaan baterai penyimpanan, dan perluasan sumber energi rendah karbon.
Bagi para pembuat kebijakan, fokus kini beralih dari menghapuskan batu bara ke mempercepat penggunaan listrik ramah lingkungan. Hal ini diperlukan untuk mendukung penggunaan listrik di sektor transportasi, pemanas ruangan, dan industri.
Berbeda dengan sektor lainnya, emisi dari sektor transportasi justru naik 2 persen pada tahun 2025 karena meningkatnya penggunaan bensin dan solar.
Kenaikan ini menunjukkan titik lemah dalam strategi pengurangan karbon di Inggris, terutama karena transportasi masih menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar di negara tersebut.
Kenaikan ini terjadi meskipun sudah ada dukungan kebijakan untuk kendaraan listrik dan mobilitas bebas emisi. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pemakaian, penyediaan infrastruktur, atau perilaku konsumen mungkin belum cukup cepat untuk mengimbangi permintaan bahan bakar fosil.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya