Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Emisi Gas Rumah Kaca Inggris Turun 2 Persen pada Tahun 2025

Kompas.com, 6 April 2026, 17:03 WIB
Add on Google
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

Sumber ESG News

KOMPAS.com - Data sementara yang dirilis oleh Departemen Keamanan Energi dan Net Zero Inggris (DESNZ) menunjukkan emisi gas rumah kaca Inggris turun 2 persen pada 2025.

Laporan ini mencerminkan perubahan struktural berkelanjutan di seluruh industri dan sistem energi.

Melansir ESG News, Kamis (2/4/2026) total emisi pada tahun lalu diperkirakan sebesar 367 juta metrik ton setara karbon dioksida, turun 7 juta ton dari tahun 2024.

Penurunan ini melanjutkan tren jangka panjang di mana emisi Inggris telah berkurang sekitar 54 persen dibandingkan level tahun 1990, menjadikan negara ini sebagai salah satu pemimpin di antara ekonomi G7 dalam hal pengurangan emisi.

Perubahan paling besar terjadi di sektor industri, di mana emisi turun sebesar 12 persen.

Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh penutupan blast furnace pada industri besi dan baja, yang secara drastis mengurangi penggunaan gas.

Meskipun penurunan ini membantu mencapai target iklim jangka pendek, hal ini juga memicu pertanyaan mendalam mengenai daya saing industri, ketahanan rantai pasok, dan masa depan kapasitas manufaktur dalam negeri.

Baca juga: Hadapi Suhu Ekstrem, Inggris Bentuk Komisi Khusus Risiko Panas

Evolusi Sektor Energi Inggris

Sektor kelistrikan Inggris terus berkembang setelah mencatat sejarah penting pada tahun 2024, yaitu tahun pertama tanpa listrik dari batu bara dalam lebih dari 140 tahun.

Penutupan pembangkit listrik tenaga batu bara terakhir pada September 2024 menandai berakhirnya era yang dulu menjadi penggerak utama kemajuan industri Inggris.

Emisi sektor listrik hanya turun tipis sebesar 1 persen pada tahun 2025. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar upaya pengurangan karbon sudah berhasil dilakukan sebelumnya melalui peralihan ke energi terbarukan dan gas.

Penurunan yang kecil ini menandakan bahwa pengurangan emisi di masa depan akan sangat bergantung pada fleksibilitas jaringan listrik, penggunaan baterai penyimpanan, dan perluasan sumber energi rendah karbon.

Bagi para pembuat kebijakan, fokus kini beralih dari menghapuskan batu bara ke mempercepat penggunaan listrik ramah lingkungan. Hal ini diperlukan untuk mendukung penggunaan listrik di sektor transportasi, pemanas ruangan, dan industri.

Berbeda dengan sektor lainnya, emisi dari sektor transportasi justru naik 2 persen pada tahun 2025 karena meningkatnya penggunaan bensin dan solar.

Kenaikan ini menunjukkan titik lemah dalam strategi pengurangan karbon di Inggris, terutama karena transportasi masih menjadi salah satu penyumbang emisi terbesar di negara tersebut.

Kenaikan ini terjadi meskipun sudah ada dukungan kebijakan untuk kendaraan listrik dan mobilitas bebas emisi. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pemakaian, penyediaan infrastruktur, atau perilaku konsumen mungkin belum cukup cepat untuk mengimbangi permintaan bahan bakar fosil.

Bagi investor dan pemimpin perusahaan, sektor transportasi merupakan risiko sekaligus peluang.

Mempercepat penggunaan kendaraan listrik, memperluas jaringan pengisian daya, dan berinvestasi pada bahan bakar alternatif akan menjadi sangat penting agar sejalan dengan target iklim nasional maupun global.

Target Nol Emisi Inggris

Data terbaru ini mempertegas besarnya tantangan di masa depan. Inggris telah berkomitmen untuk mencapai emisi nol bersih (net zero) pada tahun 2050 dan telah menetapkan target perantara untuk memangkas emisi sebesar 81 persen pada tahun 2035.

Meskipun pengurangan sebesar 54 persen sejak tahun 1990 menunjukkan kemajuan besar, langkah selanjutnya akan membutuhkan perubahan yang lebih cepat dan rumit.

Berbeda dengan keberhasilan sebelumnya yang didorong oleh penghapusan batu bara dan penghematan energi, pengurangan emisi di masa depan akan bergantung pada perubahan sistem secara menyeluruh di sektor transportasi, bangunan, dan industri.

Hal ini mencakup penggunaan listrik untuk sistem pemanas, penerapan teknologi penangkap karbon, dan memastikan kapasitas energi terbarukan berkembang dengan cepat.

Baca juga: Inggris Berencana Pangkas Dana Iklim dan Konservasi untuk Asia dan Afrika

Pembiayaan transisi ini akan membutuhkan koordinasi investasi antara pemerintah dan swasta, serta aturan yang stabil untuk mendukung alokasi modal jangka panjang.

Bagi para pemimpin perusahaan dan investor, data ini menunjukkan dua kenyataan. Di satu sisi, Inggris telah membuktikan bahwa pengurangan emisi dalam skala besar bisa dilakukan secara konsisten.

Di sisi lain, fase yang "mudah" sudah terlewati, dan tahap berikutnya akan menuntut perubahan operasional yang lebih mendalam serta biaya investasi yang lebih besar.

Dekade berikutnya akan ditentukan oleh upaya pengurangan karbon di industri, penggunaan kendaraan listrik, dan penyatuan sistem energi. Perusahaan di sektor tinggi emisi menghadapi risiko transisi yang besar.

Sebaliknya, perusahaan yang bergerak di bidang energi bersih, infrastruktur, dan teknologi rendah karbon akan diuntungkan oleh dukungan kebijakan dan permintaan pasar yang terus meningkat.

Kemajuan Inggris tetap menjadi perhatian dunia dan menjadi contoh dalam hal pengurangan emisi jangka panjang.

Namun, angka terbaru ini juga mempertegas satu kenyataan utama bagi negara-negara maju yakni mencapai net zero tidak lagi cukup hanya dengan perbaikan kecil, melainkan harus dengan merombak seluruh sistem produksi, mobilitas, dan penggunaan energi.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
GHG Protocol: Emisi dari Sampah Pasca-Konsumsi Masuk Scope 3 Perusahaan
Swasta
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
Koalisi Soroti Kebijakan Perizinan Perikanan, Dinilai Masih Membebani Nelayan Kecil
LSM/Figur
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
Banjir Rob Ganggu 10 Persen Jalan di Semarang, Biaya dan Waktu Tempuh Perjalanan Naik
LSM/Figur
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
KLH Dorong Pemda untuk Bereskan Setengah Sampah dari Rumah
Pemerintah
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Pelaku Usaha: Perdagangan Karbon Tak Semudah Dibayangkan
Swasta
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
Kisah Perempuan Raja Ampat: Memimpin Komunitas dan Melestarikan Sasi
LSM/Figur
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
LPDB Umumkan 15 Inkubator Terpilih Dampingi Koperasi Merah Putih 'Naik Kelas', Terbanyak di Jabar
Pemerintah
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Akademisi: Optimasi Sistem Pengisian Kendaraan Listrik Diperlukan untuk Dukung Transisi Energi
Pemerintah
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
328 KK di Sulawesi Utara Kantongi Izin Kelola Hutan Seluas 1.742 Hektar
Pemerintah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
KLH Siapkan Pembentukan PRO untuk Perkuat Tanggung Jawab Produsen Kelola Sampah
Pemerintah
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
BMKG Prediksi Hujan Lebat Bakal Landa Sejumlah Wilayah Jelang Musim Kemarau
Pemerintah
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Investor Desak Industri Logistik Kurangi Emisi
Swasta
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
PBB: Konflik Sebabkan Progres Pembangunan Global Terancam Mundur Drastis
Pemerintah
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari
Pemerintah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Java Fresh Perluas Ekspor ke China, Perkuat Riset untuk Perpanjang Masa Simpan Buah
Swasta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau