Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.
KENAIKAN harga plastik yang belakangan terjadi kerap dibaca sebagai isu ekonomi semata.
Biaya produksi naik, harga kemasan melonjak, dan pelaku usaha harus beradaptasi.
Padahal jika ditarik lebih dalam, fenomena ini sesungguhnya membuka ruang refleksi yang lebih luas yakni tentang krisis sampah plastik di Indonesia yang selama ini berjalan “sunyi”, seolah tidak mendesak.
Selama bertahun-tahun, plastik hidup dalam paradoks: murah saat diproduksi, mahal saat menjadi sampah.
Ketika harga plastik rendah, kita menggunakannya tanpa pikir panjang.
Penggunaan kantong sekali pakai, kemasan berlapis, hingga produk-produk yang secara desain memang ditujukan untuk langsung dibuang, terus melonjak.
Baca juga: Koloni di Bulan, Masalah di Bumi
Data menunjukkan, Indonesia masuk dalam jajaran penghasil sampah plastik terbesar di dunia.
Kita sering lupa. Saat menggunakan plastik (sekali pakai), tidak memikirkan harga lingkungan yang mahal.
Seakan menjadi hal lumrah ketika plastik-plastik tersebut masuk ke lingkungan. Mencemari sungai, menyumbat drainase, dan berakhir di laut.
Dan baru tercengang ketika melihat data: Indonesia secara konsisten dilaporkan sebagai negara penyumbang sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok.
Kini, ketika harga plastik naik akibat terganggunya pasokan bahan baku global dan meningkatnya biaya energi, kita dipaksa melihat sisi lain dari material ini.
Plastik tidak lagi “murah”. Ia menjadi komoditas yang rentan terhadap krisis. Dan di sinilah refleksi itu menjadi penting.
Selama ini, kita tidak hanya boros menggunakan plastik, tetapi juga gagal mengelolanya setelah digunakan.
Indonesia masih menghadapi persoalan mendasar dalam pengelolaan sampah plastik.
Produksi sampah plastik terus meningkat, sementara kapasitas pengelolaan tertinggal jauh.
Sebagian besar sampah masih berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA) yang sekadar dijadikan tempat pembuangan akhir.
Bahkan tidak sedikit yang bocor ke lingkungan. Sungai dan laut menjadi saksi nyata bahwa sistem pengelolaan sampah kita belum bekerja.
Dalam konteks ini, kenaikan harga plastik seharusnya dibaca sebagai “alarm keras”.
Ia bukan sekadar gangguan pasar, tetapi sinyal bahwa model ekonomi linear --ambil, pakai, buang-- tidak lagi relevan.
Ketika bahan baku mahal, sementara limbahnya melimpah dan tidak termanfaatkan, maka ada sesuatu yang keliru secara mendasar.
Momentum ini menjadi sangat relevan dengan kampanye para pegiat lingkungan dengan tagar seperti #kurangiplastiksekalipakai atau #stopsingleuseplastic.
Selama ini, slogan tersebut sering dipersepsikan sebagai ajakan moral yang idealistis, bahkan dianggap merepotkan.
Dalam situasi sekarang, pesan itu justru menemukan konteks ekonominya.
Baca juga: Ekonomi Berbentuk Huruf K
Mengurangi plastik sekali pakai bukan hanya soal menyelamatkan lingkungan, tetapi juga strategi bertahan di tengah ketidakpastian harga dan pasokan.
Dari sisi pengurangan, kenaikan harga plastik bisa menjadi pemicu perubahan perilaku yang selama ini sulit didorong.
Ketika biaya kantong plastik meningkat, konsumen mulai mempertimbangkan alternatif: membawa tas sendiri, memilih produk dengan kemasan minimal, atau beralih ke sistem guna ulang.
Perubahan ini mungkin kecil di tingkat individu, tetapi jika terjadi secara kolektif, dampaknya signifikan.
Refleksi ini tidak boleh berhenti pada individu. Justru di sinilah peran kebijakan publik menjadi krusial.
Tanpa arah yang jelas, kenaikan harga plastik hanya akan menjadi beban tambahan, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan pelaku UMKM.
Negara perlu mengubah momentum ini menjadi titik akselerasi: memperkuat regulasi pembatasan plastik sekali pakai, memberi insentif bagi inovasi kemasan ramah lingkungan, serta memastikan edukasi publik berjalan konsisten.
Di sisi lain, dari perspektif penanganan, kenaikan harga plastik seharusnya mengubah cara kita memandang sampah.
Jika bahan baku plastik menjadi mahal, maka sampah plastik sejatinya adalah “cadangan sumber daya” yang selama ini terabaikan.
Sayangnya, potensi ini terhambat oleh satu persoalan klasik: pemilahan.
Baca juga: Perekonomian Vietnam Berlari, Bisakah Indonesia Lampaui?
Sampah yang tercampur membuat plastik kehilangan nilai ekonominya. Ia sulit didaur ulang, kualitasnya rendah, dan biaya pengolahannya tinggi.
Akibatnya, plastik yang seharusnya bisa menjadi bahan baku alternatif justru berakhir di TPA atau mencemari lingkungan. Ini ironi besar.
Di satu sisi kita menghadapi kenaikan harga bahan baku, di sisi lain kita menyia-nyiakan bahan baku yang sudah ada di depan mata.
Krisis ini juga memperlihatkan bahwa persoalan sampah plastik tidak berdiri sendiri. Ia terkait erat dengan sistem energi, industri, dan bahkan geopolitik global.
Plastik berbasis minyak bumi berarti setiap gangguan pada sektor energi akan berdampak langsung pada ketersediaan dan harga plastik.
Dengan kata lain, ketergantungan kita pada plastik juga berarti ketergantungan pada sistem yang rentan.
Maka, refleksi yang perlu dibangun bukan sekadar bagaimana mengelola sampah lebih baik, tetapi bagaimana mengurangi ketergantungan itu sendiri.
Di sinilah konsep ekonomi sirkular menjadi relevan. Plastik tidak lagi dipandang sebagai produk sekali pakai, tetapi sebagai material yang harus terus berputar dalam siklus penggunaan.
Pada akhirnya, kenaikan harga plastik adalah momentum yang langka.
Ia memaksa kita berhenti sejenak dan bertanya: mengapa kita bisa sampai pada titik ini?
Mengapa sesuatu yang kita gunakan setiap hari justru menjadi sumber krisis?
Jawabannya mungkin tidak sederhana, tetapi arahnya jelas. Kita tidak bisa lagi mengandalkan solusi di hilir semata.
Pengurangan di hulu dan perbaikan sistem penanganan harus berjalan beriringan.
Jika tidak, maka ketika harga plastik kembali turun suatu hari nanti, kita berisiko kembali pada pola lama: menggunakan secara berlebihan, membuang tanpa pikir panjang, dan mewariskan krisis yang sama. Atau bahkan lebih besar pada masa depan.
Momentum ini seharusnya tidak boleh disia-siakan.
Karena di balik kenaikan harga plastik, ada peluang untuk memperbaiki arah.
Bukan hanya soal ekonomi, tetapi tentang bagaimana kita memilih untuk hidup di tengah krisis lingkungan yang semakin nyata.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya