JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan helikopter water bombing untuk menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah musim kemarau yang datang lebih awal tahun ini.
Deputi Penanganan Darurat BNPB, Budi Irawan menjelaskan peralatan itu digunakan dalam Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang digelar di sejumlah wilayah.
"Kami sudah menyiapkan beberapa heli water bombing dan heli-heli patroli yang akan disiapkan di Jambi Kemudian di Sulawesi Selatan, Pekanbaru, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan," ungkap Budi dalam konferensi pers di kantor Kementerian Kehutanan, Senin (6/4/2026).
Baca juga: Kemenhut Prediksi Karhutla 2026 Lebih Mengancam dari Tahun Lalu
Setidaknya ada 16 helikopter water bombing dan 12 helikopter patroli yang akam dikerahkan. BNPB pun bakal menambah jumlahnya jika eskalasi karhutla meningkat.
"Jumlahnya bisa berkurang apabila memang kebakaran ini bisa ditekan seminimal mungkin," imbuh dia.
Berdasarkan hasil penghitungan luas areal karhutla menggunakan citra satelit, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat luas karhutla periode Januari-Februari 2026 seluas 32.637 hektar.
Lima provinsi dengan luas kejadian kebakaran tertinggi berturut-turut antara lain Kalimantan Barat (10.601 hektar), Riau (4.440 hektar), Sulawesi Tengah (3.797 hektar), Lampung (3.314 hektar), dan Kalimantan Tengah (1.975 hektar).
Sementara itu, pantauan website Sipongi dengan Satelit NASA-Terra/Aqua periode 1 Januari-5 April 2026 menunjukkan 702 hotspot atau titik panas. Di periode yang sama tahun 2025 jumlah hotspot sebanyak 125 titik, terjadi kenaikan 577 titik.
Baca juga: Cuaca Pemicu Kebakaran Hutan Naik 3 Kali Lipat, Bagaimana di Asia Tenggara?
Diperkirakan luas areal karhutla pada periode 1-31 Maret 2026 mencapai 10.175, dengan rincian wilayah tertinggi yaitu Riau (8.858 hektar), diikuti Kalimantan Barat (1.134 hektar), Kalimantan Tengah (34 hektar), Nusa Tenggara Timur (32 hektar), dan Kepulauan Riau (37 hektar).
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menyampaikan kondisi El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) terpantau berada pada fase netral.
Pemodelan iklim menunjukkan ENSO dapat berkembang menjadi fase El Nino pada semester kedua 2026.
"Kita akan memasuki musim kemarau ya Mulai di April-Mei, puncaknya nanti di Agustus, kemudian nanti berakhir di bulan September hingga awal Oktober. Tahun ini kemarau akan datang lebih cepat dan lebih panjang Dan dengan hujan rata-rata itu di bawah normal Ini dibandingkan musim kemarau selama 30 tahun terakhir, maka kondisi hujan kira-kira akan lebih rendah" papar Faisal.
BMKG melaporkan hingga akhir Maret 2026, sebanyak 7 persen zona musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Jumlah ini akan terus bertambah secara signifikan dengan sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mulai memasuki musim kemarau pada April, Mei, dan Juni 2026.
Pada Mei 2026, kemarau akan melanda 184 zona musim, dan Juni 2026 sebanyak 163 zona musim yang diawali di Nusa Tenggara lalu bergerak ke arah barat secara bertahap.
Wilayah yang diprediksi mengalami kemarau pada April 2026, antara lain pesisir utara Jawa Barat, Jawa bagian Barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, sebagian kecil Bali, sebagian besar Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian kecil Kalimantan Selatan, dan sebagian kecil Sulawesi Selatan.
Musim kemarau pada Mei 2026 diprediksi terjadi di sebagian Sumatera, Jawa bagian Barat, sebagian kecil Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Bali, sebagian kecil Nusa Tenggara Barat, Kalimantan bagian Selatan, sebagian kecil Sulawesi, sebagian kecil Maluku, dan sebagian Papua.
Pada Juni 2026 kemarau bakal melanda sebagian besar Sumatera, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, dan sebagian kecil Pulau Papua.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya