Editor
KOMPAS.com - Di tengah perbukitan Gayo Lues, Aceh, asap dari tungku kayu bakar pernah menjadi pemandangan yang biasa dalam proses penyulingan minyak atsiri.
Bagi banyak orang, praktik itu adalah bagian dari keseharian, sesuatu yang sudah dilakukan sejak lama tanpa banyak dipertanyakan.
Namun, bagi Said Idrus, seorang guru di SMAN Seribu Bukit, kebiasaan tersebut justru memunculkan kegelisahan.
Ketergantungan pada kayu bakar, menurut dia, bukan hanya soal teknis produksi, tetapi juga menyangkut masa depan lingkungan. Di balik asap yang mengepul, ada ancaman yang perlahan mengintai, yakni mulai dari penggundulan hutan dan meningkatnya tekanan terhadap sumber daya alam.
“Awalnya kami menganggap penggunaan kayu bakar itu hal biasa. Lama-kelamaan kami melihat dampaknya bagi hutan dan lingkungan,” ujar Said beberapa waktu lalu.
Dari situlah, sebuah pertanyaan sederhana muncul: adakah cara lain yang lebih ramah lingkungan?
Pertanyaan tersebut menjadi titik awal lahirnya inovasi alat destilasi minyak atsiri yang berbeda dari kebanyakan. Alih-alih menggunakan kayu bakar, Said mengembangkan alat yang memanfaatkan air dan oli bekas sebagai sumber energi.
Gagasan ini tidak hanya bertujuan mengurangi eksploitasi kayu, tetapi juga mengolah limbah yang selama ini berpotensi mencemari lingkungan.
Inovasi yang diberi nama Eco Youth itu kemudian mengantarkannya meraih penghargaan kategori "Nature Conservation" dalam kompetisi ASRI 2025. Lebih dari itu, alat tersebut juga mampu memangkas biaya operasional penyulingan hingga sekitar 40 persen.
Namun, bagi Said, inovasi ini bukan semata soal efisiensi atau penghargaan.
Baca juga: Nilam, Harapan, dan Mimpi Besar Aceh Jadi Kota Parfum Kedua setelah Grasse Prancis
Dalam proses pengembangannya, Said melibatkan para siswa. Diskusi dan uji coba dilakukan bersama, menjadikan proyek ini sebagai ruang belajar yang nyata dan kontekstual.
Para siswa tidak hanya belajar tentang teknik penyulingan, tetapi juga memahami keterkaitan antara energi, produksi, dan dampaknya terhadap lingkungan.
Di titik ini, inovasi tidak lagi berdiri sebagai produk teknologi semata, melainkan menjadi bagian dari proses pendidikan.
Perjalanan menuju inovasi tersebut tidak berjalan mulus. Kegagalan demi kegagalan menjadi bagian dari proses.
Mulai dari perancangan kompor yang tidak sesuai, keterbatasan peralatan, hingga uji coba berulang, semuanya harus dilalui.
Bahkan, di tengah proses kompetisi, wilayah Gayo Lues sempat dilanda banjir bandang. Listrik padam, jaringan komunikasi terputus, dan akses menuju kota menjadi sulit.
“Saat itu listrik padam dan sinyal hilang. Untuk ikut sesi mentoring, saya harus menempuh perjalanan berjam-jam ke tempat yang masih ada internet,” kata Said.
Namun, kondisi tersebut tidak menghentikan langkahnya. Justru sebaliknya, keterbatasan itu semakin menguatkan keyakinannya bahwa inovasi ini penting untuk masa depan.
Baca juga: Produksi Pangan Harian Jadi Pemicu Utama Kerusakan Hutan
Melalui proses pendampingan dalam kompetisi, cara pandang Said terhadap proyek ini juga berkembang.
Jika sebelumnya ia melihat penggunaan kayu bakar dan oli bekas sebagai persoalan teknis, kini ia memahaminya sebagai bagian dari sistem yang lebih besar—yang menghubungkan lingkungan, perilaku manusia, dan keberlanjutan.
“ASRI mengajarkan kami melihat limbah bukan sebagai masalah, tetapi sebagai potensi,” ujarnya.
Dari sana, inovasi sederhana ini mulai memiliki makna yang lebih luas, tidak hanya sebagai solusi lokal, tetapi juga sebagai bagian dari upaya perubahan.
Said berharap, inovasi ini dapat mendorong sekolah maupun masyarakat untuk mulai beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan.
Ia juga ingin mengubah cara pandang terhadap limbah, termasuk oli bekas, agar tidak lagi dianggap sebagai sisa yang harus dibuang, melainkan sebagai sumber daya yang bisa dimanfaatkan.
Baca juga: BRIN Kembangkan Teknologi Pembersih Air Tercemar Limbah Logam Berat
Barangkali, perubahan besar memang tidak selalu dimulai dari langkah yang besar.
Dari sebuah alat destilasi sederhana di Gayo Lues, Said Idrus menunjukkan bahwa menjaga lingkungan bisa berawal dari keberanian mempertanyakan kebiasaan lama—dan memilih jalan yang lebih bertanggung jawab untuk masa depan.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya