KOMPAS.com-Para investor besar kini semakin menekan raksasa teknologi Amazon, Microsoft, dan Google untuk lebih transparan mengenai seberapa banyak air dan listrik yang digunakan pusat data mereka yang terus bertambah luas di seluruh Amerika Serikat.
Tuntutan ini muncul menjelang rapat pemegang saham, di mana kinerja lingkungan perusahaan diprediksi akan diperiksa lebih ketat.
Melansir Know ESG, Rabu (8/4/2026) para investor semakin khawatir bahwa perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI) dan layanan cloud akan menguras sumber daya alam setempat, terutama di daerah-daerah yang sudah mengalami krisis air.
Beberapa proyek pusat data besar sudah mulai ditolak oleh warga setempat. Masyarakat khawatir pembangunan tersebut akan mengganggu pasokan listrik dan ketersediaan air bersih bagi warga.
Bagi para investor, masalah ini bukan lagi sekadar soal citra ramah lingkungan, melainkan sudah menjadi risiko nyata terhadap operasional, rencana modal, dan kelangsungan bisnis jangka panjang.
Baca juga: Pusat Data Picu Pulau Panas, Suhu Sekitar Melonjak Hingga 2 Derajat
Kekhawatiran utama para investor adalah apakah perusahaan teknologi tersebut bisa menepati janji mereka untuk menjaga lingkungan, sementara di sisi lain mereka terus membangun infrastruktur besar-besaran untuk mendukung perkembangan AI.
Trillium Asset Management, perusahaan investasi dari AS yang merupakan pionir dalam investasi ESG, telah mengajukan tuntutan resmi agar Alphabet, induk perusahaan Google, menjelaskan bagaimana cara mereka mencapai target ramah lingkungan.
Pada tahun 2020, Alphabet berjanji akan memangkas emisi gas buang hingga setengahnya dan beralih ke energi bersih pada tahun 2030. Namun kenyataannya, sejak saat itu emisi perusahaan malah naik 51 persen, sehingga orang-orang ragu apakah janji tersebut masih bisa ditepati.
Kelompok investor menyatakan bahwa mereka butuh informasi yang lebih jelas untuk memahami bagaimana perluasan teknologi AI bisa berdampak pada janji perusahaan dalam menjaga iklim.
Sementara itu, Green Century Capital Management dilaporkan sedang bernegosiasi dengan Nvidia mengenai tuntutan serupa yang fokus pada risiko lingkungan akibat pengembangan AI.
Para investor berpendapat bahwa keuntungan jangka pendek dari inovasi AI jangan sampai merusak kestabilan iklim maupun keuangan di masa depan.
Baca juga: Deloitte: Booming Pusat Data Asia Pasifik Uji Ketahanan Sistem Energi Berbagai Negara
Kini, seberapa banyak air yang digunakan menjadi fokus utama dalam menilai apakah sebuah pusat data benar-benar ramah lingkungan.
Penelitian dari Mordor Intelligence memperkirakan bahwa pada tahun 2025, pusat-pusat data di Amerika Utara menghabiskan hampir 1 triliun liter air. Jumlah ini kira-kira sama dengan seluruh pemakaian air penduduk kota New York dalam satu tahun.
Meskipun perusahaan seperti Meta, Google, Amazon, dan Microsoft sudah memperkenalkan teknologi pendingin yang lebih hemat, para investor menilai laporan mereka masih belum jelas dan tidak konsisten.
Meta hanya melaporkan data penggunaan air untuk gedung milik mereka sendiri, tapi mengabaikan gedung yang mereka sewa atau yang masih dibangun. Akibatnya, penggunaan air Meta tercatat melonjak 51 persen antara tahun 2020 hingga 2024.
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya