Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Waspadai Perdagangan Satwa Liar Berisiko Tularkan Penyakit ke Manusia

Kompas.com, 10 April 2026, 13:17 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Studi terbaru mengungkapkan perdagangan satwa liar legal dan ilegal berisiko memicu penularan penyakir ke manusia. Tim peneliti dari University of Fribourg di Swiss mengungkapkan, mamalia yang diperdagangkan 1,5 kali lebih mungkin menjadi inang penyakit zoonosis atau menular dari hewan ke manusia.

Dalam jurnal yang dipublikasikan di jurnal Science, peneliti menyebut penularan dapat terjadi di seluruh tahapan perdagangan termasuk penangkapan, pembiakan, transportasi, penimbunan, penjualan, konsumsi, hingga pemeliharaan hewan.

“Sebagai contoh, seseorang yang membeli tiga tupai Finlayson di pasar satwa liar di Laos diperkirakan memiliki peluang 83 persen untuk mendapatkan setidaknya satu hewan yang terinfeksi leptospirosis,” kata tim peneliti dilansir dari ABC News, Jumat (10/4/2026).

Baca juga: Melacak Perdagangan Satwa Liar di Era Pasar Online

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa dari 2.079 spesies mamalia yang diperdagangkan secara global, sekitar 41 persen di antaranya berbagi setidaknya satu patogen dengan manusia. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan hanya 6,4 persen pada mamalia yang tidak diperdagangkan.

Sejumlah wabah besar sebelumnya, seperti HIV, epidemi Ebola Afrika Barat 2014, wabah mpox 2003 di Amerika Utara, hingga pandemi Covid-19, disebut memiliki keterkaitan dengan perdagangan satwa liar.

“Namun, dampak jangka panjang dari perdagangan satwa liar dalam membentuk pertukaran patogen antara manusia dan hewan liar masih belum jelas," ucap mereka.

Para penelitu menggunakan tiga dataset berbeda yang mencakup perdagangan satwa liar sejak 1975, kemudian membandingkannya dengan database CLOVER, basis data terbesar terkait hubungan antara mamalia dengan patogen.

Hasilnya, makin lama suatu spesies diperdagangkan maka makin besar pula jumlah patogen yang dapat ditularkan ke manusia.

Baca juga: Pestisida Kian Beracun, Studi Ungkap Ancaman Serius bagi Satwa Liar

“Kami memperkirakan bahwa satu spesies mamalia liar akan berbagi satu patogen tambahan dengan manusia untuk setiap 10 tahun keberadaannya dalam perdagangan,” tulis laporan itu.

Temuan ini mengindikasikan, patogen yang saat ini belum menginfeksi manusia berpotensi menular di masa depan terutama jika spesies tersebut terus diperdagangkan secara luas. Lantaran spesies baru diperkirakan akan terus masuk ke perdagangan satwa liar global, patogen tambahan berpotensi bakal menginfeksi manusia.

“Hal ini akan meningkatkan risiko wabah penyakit zoonosis di masa depan, termasuk kemungkinan epidemi dan pandemi dari patogen baru,” beber peneliti.

Pengawasan Ketat

Tim peneliti menekankan pentingnya penguatan sistem pengawasan hayati atau bio-surveillance guna mencegah potensi wabah di masa depan. Koordinator nasional dan COO Wildlife Health Australia, Tiggy Grillo menilai studi baru itu sebagai data yang sangat penting dalam memahami risiko perdagangan satwa liar.

“Ini menunjukkan kepada kita interaksi perdagangan satwa liar mana yang paling berisiko. Ini memberikan angka-angka untuk membantu pengambilan keputusan guna memulai mengidentifikasi dan mendukung tindakan tertentu yang dapat mengurangi risiko terkait perdagangan satwa liar," jelas Grillo.

Organisasinya menjalankan sistem pengawasan kesehatan satwa liar dengan mengumpulkan data dari kasus satwa sakit maupun mati di seluruh Australia untuk mengantisipasi potensi ancaman bagi manusia.

Baca juga: Terobosan Investigasi: Pakai AI untuk Bongkar Perdagangan Satwa Liar Global

“Kami mengumpulkan informasi dari investigasi terhadap satwa liar yang sakit dan mati di seluruh Australia dan itu digunakan untuk menentukan bagaimana kami mengelola risiko di Australia," kata dia.

Di sisi lain, peneliti mencatat laporan ini memiliki keterbatasan data yang tidak mencakup pasar satwa liar lokal secara luas mencakup pasar hewan eksotis. Alice Hughes dari Biodiversity Institute, University of Melbourne, menyatakan data perdagangan satwa liar global masih sulit dihimpun karena sebagian besar aktivitas tidak terpantau.

Ia juga menyoroti data pasar hewan hidup masih sangat terbatas, baik dari sisi jenis spesies maupun patogen yang dibawa.

“Sebagian besar perdagangan satwa liar tidak dipantau, sehingga sangat sulit untuk mendapatkan jumlah total spesies yang diperdagangkan dan bagaimana penggunaannya," ucap Hughes.

Karena itu, penelitian lanjutan dan pemantauan diperlukan untuk mengetahui fenomena tersebut.

“Kita membutuhkan analisis yang menggabungkan kedua elemen tersebut dalam satu dataset yang sama," tutur Hughes.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Urutan Pesan yang Tepat Tingkatkan Keberhasilan Ajakan Peduli Lingkungan
Urutan Pesan yang Tepat Tingkatkan Keberhasilan Ajakan Peduli Lingkungan
Pemerintah
Cegah Krisis Iklim, PBB Dorong Penetapan Tenggat Waktu Tinggalkan Bahan Bakar Fosil
Cegah Krisis Iklim, PBB Dorong Penetapan Tenggat Waktu Tinggalkan Bahan Bakar Fosil
Pemerintah
Limbah Beracun yang Sulit Terurai Ancam HAM di Seluruh Dunia
Limbah Beracun yang Sulit Terurai Ancam HAM di Seluruh Dunia
Pemerintah
BRICS Serukan Rantai Pasok Mineral Kritis Berkelanjutan, Indonesia Mesti Jadi Teladan
BRICS Serukan Rantai Pasok Mineral Kritis Berkelanjutan, Indonesia Mesti Jadi Teladan
LSM/Figur
78,3 Persen Petani dan Nelayan Akui Alami Gangguan Kesehatan Saat Bekerja di Tengah Panas
78,3 Persen Petani dan Nelayan Akui Alami Gangguan Kesehatan Saat Bekerja di Tengah Panas
LSM/Figur
Google Sepakati Pembelian Kredit Karbon Metana Terbesar dalam Sejarahnya
Google Sepakati Pembelian Kredit Karbon Metana Terbesar dalam Sejarahnya
Pemerintah
PBB Desak Negara-Negara Memperketat Aturan AI untuk Hindari Risiko Fatal
PBB Desak Negara-Negara Memperketat Aturan AI untuk Hindari Risiko Fatal
Pemerintah
Hutan Adat NTT Tak Boleh Berhenti di Atas Kertas
Hutan Adat NTT Tak Boleh Berhenti di Atas Kertas
Pemerintah
Bantu Pemulihan Gempa Flores, Musim Mas Gandeng PMI Sumatra Utara Bantu 2.000 Keluarga Terdampak
Bantu Pemulihan Gempa Flores, Musim Mas Gandeng PMI Sumatra Utara Bantu 2.000 Keluarga Terdampak
BrandzView
UN Women Rilis Pusat AI untuk Dorong Kesetaraan Gender di Era Digital
UN Women Rilis Pusat AI untuk Dorong Kesetaraan Gender di Era Digital
Pemerintah
Riset Sebut Polusi Udara Kota Turunkan Performa Pelari
Riset Sebut Polusi Udara Kota Turunkan Performa Pelari
Pemerintah
Terumbu Karang di Bali Terus Memburuk, Wisata Berkelanjutan Kunci Pemulihan
Terumbu Karang di Bali Terus Memburuk, Wisata Berkelanjutan Kunci Pemulihan
Pemerintah
Lindungi Negara Kepulauan, PBB Adopsi Deklarasi Kenaikan Permukaan Air Laut
Lindungi Negara Kepulauan, PBB Adopsi Deklarasi Kenaikan Permukaan Air Laut
Pemerintah
Dunia Terancam Gagal Capai Target Perlindungan Lautan 2030
Dunia Terancam Gagal Capai Target Perlindungan Lautan 2030
Pemerintah
Seni dan Budaya Bisa Jadi Kunci Aksi Iklim yang Inklusif
Seni dan Budaya Bisa Jadi Kunci Aksi Iklim yang Inklusif
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau