Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

PSEL Bakal Dibangun di Kaltim, Kelola hingga 1.000 Ton Sampah per Hari

Kompas.com, 10 April 2026, 19:01 WIB
Zintan Prihatini,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mengatakan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) atau Waste to Energy (WtE) bakal segera dibangun di Kalimantan Timur (Kaltim).

Proyek ini direncanakan berlokasi di Balikpapan dan Samarinda dengan kapasitas pengolahan 500 hingga 1.000 ton sampah per hari.

Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq mengaku, percepatan pembangunan PSEL berdasarkan perintah Presiden Prabowo Subianto terkait pengelolaan sampah nasional.

Baca juga: PBB Pilih 20 Kota Terbaik dalam Upaya Pengelolaan Nol Sampah

"Kami diminta untuk mempercepat penyiapan lokasi dan administrasi dalam pembangunan pengolahan sampah menjadi energi listrik. Saat ini, kami telah memasuki aglomerasi ke-31," ujar Hanif usai penandatanganan perjanjian kerja sama dengan Pemprov Kaltim di kantor KLH, Jumat (10/4/2026).

Pembangunan PSEL merupakan salah satu upaya untuk menyelesaikan isu sampah, sekaligus mencapai target penanganan sampah nasional sebesar 63,41 persen pada 2026. Setidaknya, dibutuhkan waktu tiga tahun untuk mengoperasionalkan fasilitas pengeolahan sampah ini.

Hanif menegaskan, selama masa tersebut pemerintah daerah (pemda) tetap diwajibkan mengoptimalkan pengelolaan sampah sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008.

"Berdasarkan sistem daring kami, capaian penanganan sampah nasional baru berada di angka 26 persen. Kesenjangan dari 26 persen menuju 63,41 persen hanya dapat dicapai salah satunya dengan mengakhiri praktik open dumping di seluruh tempat pemrosesan akhir (TPA) di Indonesia," ucap dia.

Target Nasional

Karena itu, KLH menetapkan target nasional untuk mengakhiri praktik open dumping atau pembuangan terbuka di TPA paling lambat pada 2026. Target itu turut menjadi tanggung jawab kepala daerah.

Baca juga: Danantara Siapkan Platform Investasi Energi Berbasis Sampah

"Saya yakin para gubernur akan menyikapi hal ini dengan sangat serius dalam upaya mencapai target nasional. Bapak Presiden juga telah mengingatkan bahwa kondisi TPA kita saat ini rata-rata telah berumur 17 tahun, sehingga dalam tiga tahun ke depan harus dilakukan langkah-langkah penanganan yang signifikan," beber Hanif.

Adapun penandatanganan kerja sama pengembangan PSEL akan terus berlanjut di sejumlah daerah. Dalam waktu dekat, KLH akan menandatangani kerja sama dengan pemda Jambi Raya serta Manado Raya.

"Dengan demikian, mandat dari Bapak Presiden untuk segera menyiapkan fondasi sebelum proses pengadaan barang dan jasa dilaksanakan, akan kami selesaikan paling lambat pada hari Senin depan," imbuh dia.

Sedangkan proses pengadaan barang dan jasa serta operasional nantinya akan dikerjakan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).

Gubernur Kaltim, Rudy Mas'ud menjelaskan bahwa pembangunan PSEL akan dilakukan di Balikpapan dan Samarinda dengan sampah yang juga berasal dari Ibu Kota Nusantara (IKN).

Di Balikpapan Raya, proyek ini mencakup sejumlah daerah pesisir antara lain Muara Jawa, Samboja Barat, dan Samboja di wilayah Kutai Kartanegara.

Baca juga: PSEL di Kota Jambi Dipercepat, Butuh 1000 Ton Sampah per Hari

"Sementara di Samarinda Raya, kami bersama dengan Kutai Kertanegara, Marangkayu, Muara Badak, dan Anggana di sana untuk aglomerasi di Samarinda Raya. Kami dari Pemerintah Profesional Kalimantan Timur punya komitmen untuk mendukung penuh kebijakan pemerintahan pusat yang diwakilkan dengan Kementerian Lingkungan Hidup untuk menyelesaikan persoalan sampah," ungkap Mas'ud.

Pembangunan PSEL di dua kawasan tersebut diharapkan mampu mengurangi beban TPA, dan mendorong pemanfaatan sampah sebagai sumber energi alternatif di Kalimantan Timur.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
BRIN Kembangkan Gasifikasi Sampah untuk Tekan Emisi Metana dan CO2
LSM/Figur
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Capaian Dekarbonisasi Pertamina Semester I 2026 Tembus 118 Persen
Pemerintah
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Arah Politik Hukum RUU Perubahan Iklim
Pemerintah
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Banyak Remaja Hadapi Masalah Mental, Sekolah Perkuat Budaya Saling Peduli
Swasta
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Lonjakan Pusat Data Bakal Picu 'Tsunami' Sampah Elektronik
Pemerintah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
KLH : Kemampuan Ukur Emisi Metana di Fasilitas di Luar TPA Tentukan Kinerja Sistem Pengolahan Sampah Daerah
Pemerintah
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Hadapi Krisis Iklim, Pemda Diminta Tinggalkan Tata Kelola Sektoral
Pemerintah
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
TNFD: Laporan Dampak Bisnis Terhadap Alam Melonjak 2 Kali Lipat
Pemerintah
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Penggunaan AI di Tempat Kerja Masih Lambat, Informal, dan Tidak Merata
Pemerintah
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
Gambar Buah pada Kemasan Jus Bisa Pengaruhi Persepsi Konsumen
LSM/Figur
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau