JAKARTA, KOMPAS.com - Perpaduan antara sistem fisik dan kecerdasan buatan atau physical AI (PAI) mulai bergerak dari tahap eksperimen menuju penerapan berskala besar di berbagai sektor industri.
Laporan terbaru Deloitte berjudul "Physical AI: The Moment of Acceleration" menunjukkan, baru sekitar 5 persen dari 3.000 pimpinan perusahaan global yang telah mengintegrasikan PAI ke dalam operasional bisnis mereka.
Meski demikian, sebanyak 41 persen responden meyakini teknologi ini akan mentransformasi operasional perusahaan dalam tiga tahun ke depan.
Baca juga: AI di Kantor, Berpotensi Menumpulkan Kemampuan Berpikir Kritis Karyawan
Dalam laporan tersebut, hanya sekitar 3 persen perusahaan yang telah mengadopsi PAI secara menyeluruh saat ini. Angka ini diperkirakan meningkat menjadi 18 persen dalam dua tahun mendatang.
Temuan ini menunjukkan bahwa meski adopsi masih terbatas, potensi penerapan PAI diperkirakan akan berkembang pesat dalam waktu dekat.
PAI sendiri menggabungkan kecerdasan buatan dengan sistem fisik, seperti robot dan mesin industri, sehingga memungkinkan proses operasional menjadi lebih adaptif dan otomatis.
Peningkatan adopsi PAI turut mendorong penggunaan robot di sektor industri.
Jumlah robot industri diperkirakan meningkat dari sekitar 500.000 unit pada 2024 menjadi 700.000 unit pada 2028. Sementara itu, robot kolaboratif (cobots) mencapai hampir 65.000 unit pada 2024.
Bahkan, laporan Citi GPS memproyeksikan jumlah robot global dapat mencapai 1,3 miliar unit pada 2035, dengan semakin banyak di antaranya dilengkapi teknologi PAI.
Deloitte Asia Pacific AI Lead, Chris Lewin, mengatakan perusahaan yang lebih awal mengadopsi PAI berpotensi membentuk standar industri di masa depan.
“Organisasi yang sudah bergerak sekarang akan menentukan standar, keterampilan, dan cara kerja industri selama sepuluh tahun ke depan,” ujar Lewin dalam keterangan tertulis, Senin (13/5/2026).
Ia menekankan bahwa keberhasilan implementasi PAI tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga kesiapan internal organisasi, termasuk sumber daya manusia, alur kerja, dan disiplin operasional.
Menurutnya, sistem PAI yang canggih tidak akan memberikan manfaat optimal jika diterapkan pada organisasi yang belum siap secara operasional.
Baca juga: Menyiapkan Anak Hadapi Era AI, Jangan Cuma Jadi Pengguna
Sebanyak 40 persen pemimpin bisnis memperkirakan dampak integrasi PAI akan mulai terasa dalam tiga tahun ke depan, dengan tingkat adopsi diproyeksikan meningkat hingga enam kali lipat dalam dua tahun.
Namun, keterlambatan dalam mengadopsi teknologi ini berpotensi membuat perusahaan kehilangan peluang efisiensi sekaligus pengalaman belajar yang hanya dimiliki pelaku awal.
Laporan tersebut menegaskan bahwa PAI menjadi salah satu teknologi kunci yang akan membentuk lanskap industri global, seiring meningkatnya integrasi antara kecerdasan buatan dan sistem fisik dalam operasional bisnis.
Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya