Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sumur Minyak Tak Aktif Keluarkan Metana 1.000 Kali Lebih Banyak dari Dugaan

Kompas.com, 14 April 2026, 19:00 WIB
Monika Novena,
Bambang P. Jatmiko

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Peneliti dari Universitas McGill di Kanada mengungkapkan sumur minyak dan gas yang sudah tidak beroperasi ternyata mengeluarkan gas metana 1.000 kali lipat lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.

Gas metana ini bukan cuma sisa gas alam biasa, tapi dihasilkan oleh mikroba yang hidup di dalam sumur tersebut.

Melansir Down to Earth, Jumat (10/4/2026) metana mikroba adalah gas metana yang dihasilkan oleh makhluk hidup sangat kecil bernama methanogen. Gas ini muncul saat bahan organik membusuk di tempat yang tidak ada oksigennya.

Proses ini terjadi secara alami di rawa-rawa, sawah, tempat pembuangan sampah, hingga di dalam sistem pencernaan hewan ternak seperti sapi.

Baca juga: Tanah Hutan Bisa Lebih Banyak Serap Metana dari Atmosfer

“Metana adalah gas rumah kaca yang sangat kuat saat terlepas ke atmosfer. Secara khusus, studi ini menunjukkan bahwa sumur minyak dan gas yang sudah tidak aktif bisa terus mengeluarkan metana mikroba, bahkan jauh setelah cadangan minyak atau gas di dalamnya sudah benar-benar habis,” kata Mary Kang, profesor teknik sipil dan salah satu penulis studi tersebut.

Penelitian ini berdasarkan sampel yang diambil dari 401 sumur yang tidak beroperasi di seluruh Kanada, terutama di wilayah Kanada Barat yang memiliki lebih dari 90 persen sumur jenis tersebut.

Kategori mencakup sumur yang tidak aktif, sumur yang memang tidak pernah menghasilkan apa-apa, hingga sumur yang sudah berhenti berproduksi.

Laporan kemudian diterbitkan dalam jurnal Environmental Science and Technology.

“Dalam studi ini, kami memeriksa sifat kimia seperti komposisi gas dan jejak isotop, yang membantu kami memahami dari mana asal bocoran metana tersebut. Analisis ini sangat akurat, sehingga kami berhasil memastikan asal-usul emisi dari 100 sumur dari total 401 sumur yang kami teliti,” ujar Gianni Micucci, peneliti paskadoktoral bidang teknik sipil dan salah satu penulis studi ini.

Kanada memiliki hampir 500.000 sumur minyak dan gas yang sudah tidak beroperasi. Meski tidak semuanya membocorkan metana, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa hanya 12 persen sumur yang paling parah bocornya menyumbang 98 persen dari total emisi.

Studi terbaru ini menemukan bahwa sebagian besar kebocoran berasal dari sumber dalam tanah yang terbentuk karena suhu panas.

Namun, studi ini juga menekankan bahwa metana hasil kerja mikroba yang biasanya ada di lapisan tanah dangkal ternyata jumlahnya jauh lebih besar dari yang diperkirakan selama ini.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa separuh dari sumur yang diteliti mengeluarkan campuran antara metana panas bumi (termogenik) dan metana hasil mikroba.

Baca juga: Disebut Asia Tenggara Kontributor Terbesar, Kenapa Kadar Metana di Awal Tahun 2020-an Pecah Rekor

Meskipun metana panas bumi tetap menjadi tanda utama sumur dengan emisi tinggi karena jumlahnya bisa 500 kali lebih besar dibanding metana mikroba, besarnya jumlah emisi mikroba yang baru ditemukan ini membuat upaya perbaikan menjadi lebih rumit.

Kang juga mencatat bahwa bawah tanah adalah sistem yang rumit dengan banyak lapisan gas, sehingga sulit untuk menentukan dengan tepat dari mana asal metana tersebut.

Namun, ia menambahkan bahwa temuan ini dapat membantu memperbaiki cara pemeriksaan kondisi sumur serta membantu merancang strategi perbaikan yang lebih efektif.

Studi ini menggunakan metode kimia untuk membedakan asal-usul metana, memberikan wawasan baru tentang bagaimana emisi bergerak di bawah tanah dan bocor melalui infrastruktur sumur.

Para peneliti mengatakan bahwa memahami sifat dan jalur kebocoran emisi ini sangatlah penting, terutama saat negara-negara sedang berjuang keras mengurangi metana, gas rumah kaca berbahaya yang memicu perubahan iklim dalam waktu dekat.

Mari berkontribusi langsung dalam upaya mencegah dan mengatasi masalah STUNTING di Indonesia. Ikut berdonasi dengan klik Kompas.com Jernih Berbagi.

Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya

A member of


Terkini Lainnya
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Dorong Budaya Hijau di Kampus, Unika Atma Jaya Raih Peringkat 34 UI GreenMetric Indonesia
Swasta
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pengelolaan Susut dan Sisa Pangan Mendesak Dilakukan untuk Mitigasi Krisis Iklim
Pemerintah
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
Akibat El Niño, Pakar IPB Ingatkan Risiko Lonjakan Harga Komoditas Hingga 2027
LSM/Figur
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
PT KAI Daop 7 Madiun Salurkan Dana TJSL Rp 445 Juta
Pemerintah
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Emisi Masa Lalu Bakal Tetap Panaskan Bumi Hingga Puluhan Tahun
Pemerintah
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
BCA Perluas Akses Kesehatan Mata untuk Lebih dari 3.500 Pelajar di Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu
Swasta
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Perusahaan Tambang Punya tanggung Jawab Besar terhadap Dekarbonisasi
Pemerintah
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Aturan Offset Emisi Pertanian Hampir Terbit, Pembagian Manfaat untuk Petani Tunggu Juknis
Pemerintah
'Bijak Jajan Cinta Bumi', Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
"Bijak Jajan Cinta Bumi", Menanamkan Budaya Pemilahan Sampah Sejak Dini
Swasta
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
Perkuat Dampak Berkelanjutan, ASEAN Foundation dan SAP Beri Akses AI bagi Wirausaha Sosial ASEAN
LSM/Figur
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Ketahanan Keluarga Mampu Lindungi Anak dari Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
Dilema Rumit Di Balik Sisa Makanan Berkuah
LSM/Figur
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Walikota New York Zohran Mamdani Denda DoorDash Rp 2,35 Triliun karena Pangkas Gaji Kurir
Pemerintah
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
Jaga Lingkungan, PLN UPT Pulogadung Gelar Simulasi Penanganan Tumpahan Limbah B3
BUMN
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
PBB Peringatkan Super El Niño Jadi Ancaman Serius bagi Kesehatan Dunia
Pemerintah
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau